Vitamin-Vitamin, di Ilmu Kesehatan/ Vitamins-Vitamins, in Health Sciences FOR GENERAL MEDICINE

Vitamin-Vitamin, di Ilmu Kesehatan

 (Sumber: Soerjohardjo, Sadatoen.1986. Ilmu Kesehatan untuk Sekolah Menengah Atas. Bandung:LubukAgung.)

Bahwa tubuh kita membutuhkan vitamin, kiranya tidak ada seorang pun yang menyangkalnya. Penyakit beri-beri misalnya, disebabkan karena tubuh kuang atau tidak mendapat vitamin B. penyakit rachitis disebabkan karena tubuh kekurangna vitamin D. dalam membicarakan vitamin satu demi satu akan jelas apa yang harus kita ketahui. Mula-mula arti kata vitamin adalah zat yang mengandung unsure N, (N: nitrogen: zat lemas). Vitamin berasal dari perkataan “vita: hidup” dan “amin: gugusan NH2”. Kemudian ternyata bahwa ada pula dikemukakan vitamin yang tidak mengadung N. dengan sendirinya nama vitamin tidak tepat lagi, namun nama itu masih tetap dipertahankan.

Apakah vitamin itu?

            Vitamin adalah persenyawaan organic, tak dapat disusun sendiri oleh tubuh, turut dengan makanan masuk ke dalam tubuh, tak memberikan energy atau bahan pembangunan bagi tubuh namun tidak dapat dihilangkan karena kita butuhkan sekali supaya fungsi tuuh dapat tetap normal. Nilai makanan dapat menjadi kurang, misalnya karena perebusan yang terlalu lama sehingga vitamin itu musnah atau karena vitamin itu larut dalam air perebus tadi dan terbuang bersama dengan air itu. Vitamin dapat dibagi menjadi dua golongan, yakni:

Ø  Vitamin yang larut dalam air (vitamin B dan C)

Ø  Vitamin yang tidak larut dalam air, tetapi larut dalam zat lemak (vitamin A, D, E, K)

A) Vitamin A

Banyak terdapat dalam mentega, kuning telur, hati, minyak ikan, dan lain-lain. Di dalam zat hijau daun terdapt suatu zat yang disebut karotin, zat ini dalam tubuh dapat diubah menjadi vitamin A. karena ini karotin disebut provitamin A. vitamin A bersifat thermostabiel, artinya tidak rusak bila dipanaskan. Guna vitamin A adalah untuk kesehatan kulit dan selaput lendir. Bila seseorang kekurangan vitamin A, maka perubahan yang tampak jelas adalah pada mata orang tersebut. Kalau tidak segera diobati, maka akan berakhir dengan kerusakan biji mata dan akhirnya buta.

Gejala avitaminosis A: gejala avitaminosis ini dbagi menjadi 3 tingkat.

1) Tingkat I: mula-mula penderita tidak dapat melihat pada waktu senja/ maghrib. Jalannya nubruk. Hal ini disebabkan karena ada perubahan kimia yang terjadi pada retina mata. Dalam keadaan normal di retina mata terdapat suatu zat kimia yang disebut rodopsine (yang mengandung vitamin A), yang diperlukan dalam rangkaian penerimaan rangsangan penglihatan pada waktu siang hari. Bila orang kekurangan vitamin A, maka dengan sendirinya pembentukan rodopsine akan mengurangi pula. Hal inilah yang menyebabkan gangguan rabun senja tersebut di atas. Bahasa asingnya aalah hemeralopie.

2) Tingkat II: Lambat laun pembuatan air mata oleh kelenjar air mata mangurang dan selaput lendir mata (conjunctiva) tampak mongering dan berlipat. Di bagian kiri kanan biji mata tampak bercak putih mengkilat seperti sisik ikan, disebut bercak Bitot. Sampai di sini gejala mata tersebut masih dapat disembuhkan tanpa meninggalkan bekas. Gejala kering ini dalam bahasa asing adalah xerophthalmie.

3) Tingkat III: penyakit yang dapat terjadi adalah luka pada kornea mata. Luka ini dapat demikian hebatnya,sehingga seluruh kornea hancur. Keadaan seperti ini disebut keratomalacie. Pada tingkat ini penderita buta sama sekali dan buta ini tidak dapat lagi disembuhkan.

            Orang buta yang disebabkan karena kekurangan vitamin A tidak sedikit jumlahnya, yang banyak diserang adalah bayi di bawah umur 1 tahun dan anak kecil orang dewsa masih mungkin pula menderita avitaminosis A, tetapi hal ini jarang sekali, sebenarnya penyakit ini mudah sekali pengobatannya, asalkan masih dalam tingkat permulaan. Dengan pemberian vitamin A yang banyak, penyakit ini dalam jangka waktu yang tidak lama (kurang lebih 2 minggu) dapat disembuhkan sama sekali. Kecuali perubahan pada biji mata, penderita avitaminoissi A mudah sekali terserang penyakit paru-paru atau penyakit usus. Tambahan: vitamin A yang diberikan pada bayi/ anak sebagai prophylaxe atau sebagai pengobatan terdapat dalam minyak ikan, Davitamon AD (mengandung vitamin A dan D); obat ini ada yang berupa caairan, ada pula yang berupa capsules. Kecuali itu vitamin A terdapat pula dalam bentuk tablet dan dalam bentuk cairan. Yang terakhir disuntikan kepada anak/ bayi yang menderita avitaminosis A.

B) Vitamin D

            Vitamin ini banyak sekali terdapat dalam hati, dalam tubuh dapat pula dibentuk dari provitamin D (namanya adalah ergosterol) menjadi vitamin D dengan pertolonngan sinar ultra ungu. Sinar ini banyak terdapat dalam sinar matahari apda pagi hari. Berjemur pada pagi hari adalah baik sekali. Jika kekurangan vitamin D, maka akakn timbul penyakit yang disebut rachitis. Pada penyakit ini terdapat gangguan dalam penulangan tubuh, tulang menjadi lunak, kemudian akan bengkok. Maka akan terjadi tingkat yang berbentuk X atau O, kecuali itu mungkin pula dapat terjadi kelainan pada tulang punggung, rongga dada, panggul, dan lain-lai. Sekalipun di engeri kita banyak terdapat sinar matahari, namun penyakit rachitis masih banyak terdapat.

Ø  Gejala avitaminosis D. permulaan sebagai berikut: anak menjadi lemas, yang tadinya sudah jalan, tidak mau atau tidak berjalan lagi, melainkan hanya duduk saja. Kalau pergelangan tangannya diperhatikan, maka ukurannya adalah lebih besar dari normal (bengkak). Kecuali itu keluarnya gigi pun terlambat dan tumbuhnya tidak menurut urutan yang lazim. Dalam hal ini pengoabtan adalah pemberian vitamin D yang banyak dan banyak dijemur di cahaya matahari pada waktu pagi hari. Awas! Kalau tulang yang sudah lunak dan bengkok menjadi keras lagi, maka tulang yang sudah bengkok itu tidak dapat lurus kembali. Tentu pemberian vitamin D dalam tingkat ini tidak ada hasilnya sama sekali

C) Vitamin E

            Vitamin ini penting artinya dalam proses menutupnya luka, karena mempengaruhi pembuatan prothrombin di dalam hati. Jika kekurangan vitamin ini, maka prothrombin di dalam darah binatang percobaan (tikus) telah ternyata, bahwa kekurangan vitamin E berakibat steriliteit (mandul).

D) Vitamin K

            Vitamin K penting artinya dalam proses menutup luka, karena mempengaruhi pembuatan prothrombin di dalam hati. Jika kekurangan vitamin K, maka prothrombin di dalamdarah akan kurang, jika terdapat luka, maka perdarahan sukar berhentinya, karena luka tidak menutup yang disebabkan karena kekurangan prothrombin. Vitamin ini dibuat oleh bakteri usus di dalam usus dan terdapat pula dalam daun yang berwarna hijau. Hati pun banyak mengandung vitamin ini. Pemakaian obat sulfa yang sewenang-wenang dapat menimbulkan avitaminosis K (bakteri usus yang membuat vitamin K terbunuh)

E) Vitamin B1 (aneurin, thiamin)

            Vitamin B1(nama lainnya adalah aneurin, thiamin) banyak terdapat dalam pecah kulit beras dan dalam kacang hijau, berguna sekali untuk pembakaran hidrat arang dalam tubuh. Karena vitamin ini larut dalam air, maka tidak dapat disimpan lama, dalam tubuh. Karena itu pemasukan vitamin B1 harus berlangsung terus. Jika kekurangna vitamin ini, pertukaran hidrat arang akan terganggu, maka akan terjadi penyakit yang disebut beri-beri.

Ø  Gejala penyakit beri-beri: permulaannya adalah rasa jemu ditungkai, bila agak banyak berdiri atau berjalan, rasa kesemutan pada tingkat dan kaki, kalau berdiri agak lama, tungkai bagian bawah agak membengkak, tetapi akan menghilang lagi bila dibawa tiduran. Tumit rasanya pegal-pegal. Bila bekerja agak berat, maka jantung berdebar-debar dan nafas menjadi agak sesak. Rambut tungkai bila dicabut tidak rasa nyeri. Semua itu adalah gejala permulaan yang samar-samar. Lambat laun terjadilah gejala lain yang mulai tampak jelas yakni: busung air pada kedua tungkai bawah (oedeem), bila itu ditekan dengan ujung jari, maka terjadilah “sumuran” pada busung air tersebut. Kecuali gejala ini mungkin terdapat pula gejala yang menyerang susunan saraf seperti kelumpuhan, menghilangkan rasa nyeri, panas dan perabaan. Kecuali ini mungkin pula terdapat kelainan pada jantung, yakni pembengkakan dari alat ini yang disertai dengan gejala yang bersangkutan. Gejala permulaan penyakit beri-beri ini banyak terdapat pada kaum terpelajar bangsa kita. Hal ini dsebabkan mereka lebih suka maakn nasi beras giling (yang putih, bersih, mengkilat serta enak) tetapi tidak memperhatikan makanan yag lain yang banyak mengandung vitamin B1. Kebutuhan akan vitamin B1 bertambah, bila orang banyak makan hidrat arang, juga bila bekerja berat, pada waktu demam, pada waktu hamil dan pada orang perempuan sedang menyusui anaknya.

F) Vitamin B2 (rifoblavin, lactoflavin, vitamin G)

            Nama lainnya adalah rifoblavin, lactoflavin, vitamin G. vitamin ini terdapat dalam buah-buahan, sayuran, susu, mentega, biji kacang, dan lain-lain. Bila kekurangan vitamin B2 ini, maka akan menderita penyakit cheilosis, yaitu luka di sudut mulut. Hal ini terdapat terlihat jelas pada percobaan dengan binatang tikus. Kecuali vitamin B1 dan B2, masih ada 8 vitamin lagi yang semuanya tergolong dalam vitamin B complex, yakni: asam nicotine, inositol, asam panthoteen, choline, biotin, asam voline, asam para-amino-benzoe, vitamin B12.

G) Vitamin C (Asam Ascorbine)

            Nama lain adalah asam ascorbine. Jika kekurangan vitamin ini, orang akan menderita penyakit scorbutum: pendarahan di gusi, usus, kulit dan otot, sedangakn orang akan lebih mudah kena infeksi. Pada jaman dahulu penyakit ini banyak terdapat pada kaum nelayan, karena jarang sekali makan makanan yang masih segar. Vitamin C bayak terdapat dalam buah-buahan yang berwarna, misalnya dalam citroen, dan dalam bahan makanan yang masih segar.

Avitaminosis

            Penyakit yang timbul karena kekurangan sesuatu vitamin, disebut avitaminosis, misalnya rachitis, beri-beri, dan lain-lain. Mungkin pula avitaminosis disebabkan karena hal lain:

Ø  Vitamin yang masuk ke dalam tubuh cukup banyak akan tetapi karena ada gangguan dalam penyerapan oleh tubuh, maka orang itu akan kekurangan vitamin, vitamin pula

Ø  Karena fungsi usus tidak baik, misalnya karena mencret maka vitamin tak dapat diserap oleh usus

Ø  Karena pengaruh obat-obatan yang dipakai, misalnya obat sulfa, maka bakteri usus (yang dapat membuat vitamin K) akan musnah, sehingga orang itu akan kekurangan vitamin itu.

Ø  Karena cacingan. Akan yang sering cacingan, dapat menderita avitaminosis A. hal ini dsebabkan karena penyerapan vitamin tersebut terganggu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar