Melihat Upacara LabuhSesaji di Telaga Sarangan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, bagian 2/ See Labuh Sesaji ceremony in Sarangan, Magetan, East Java, part 2 FOR GENERAL ART CULTURE

Melihat Upacara Labuh Sesaji di Telaga Sarangan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, bagian 2

(Sumber: Purwanto, Didik.2013. Melihat Upacar Labuh Sesaji di Telaga Sarangna. Magetan: Radar Magetan Jawa Pos Edisi Jumat 5 Juli 2013.)

          Upacara labuh sesaji digelar warga sekitar Sarangan, Minggu (30/6) lalu. Seuha tumpeng berukuran jumboh dan hasil bumi dilarung ke telaga sebagai bentuk syukur atas berkah setahun terakhir. Bagaimana suasananya? Sebuah tumpeng berukuran raksasa di arak di tengah kerumunan ratusan wisatawan dan warga sekitar Telaga Sarangna siang itu. Di belakangnya, tampak beberapa gunungan berisi hasil bumi seperti kubis, sawi, terong, wortel, dan buah-buahan. “Butuh waktu 5-7 jam untuk bisa membentuk kerucut seperti itu. Belum lagi hiasannya. Para ibu-ibu yang akan menghiasi,” ujar Tumiran, Kepala Kelurahan Sarangan, Plaosan, sambil menunjuk tumpeng setinggi dua meter itu. Tumpeng Gono Bahu dan gunungan hasil bumi itu kemudian dilarung di telaga. Upaara tersebut merupakan bentuk syukur warga atas berkah setahun terakhir. Rangkaian kegiatan itu digelar selama tiga hari berturut-turut. “Karea kegiatannya sangat banyak. Sehingga tidak cukup kalau sehari saja,” terang Tumiran. Sebagian hasil bumi dan jajanan pasar itu diperebutkan warga maupun pengunjung Sarangan. Mereka percaya bila mendapatkan dan memakannya bisa menghindari dari berbagai musibah. “Hasil bumi itu terdiri dari berbagai buah-buahan dna sayuran. Jajanan pasar juga bermacam-macam jenisnya,” jelas Sugiono, sesepuh desa. Warga sarangan yang mayoritas petani sayuran memang pantas bersyukur karena setahun terakhir produksi melimpah hingga dua kali lipat. Hal itu pula yang membuat labuh sesaji kali ini digelar besar-besaran. Tidak hanya sekadar mengarak tumpeng Gono Bahu dan hasil bumi, berbagai kesenian tradisional juga disuguhkan untuk hiburan masyarakat. “Banyak warga yang sukarela menyumpang untuk kegiatan ini,” urainya. Bagi sebagian warga Sarangan, labih sesaji dipercaya dapat menghindarkan dari bencana alam, terutama tanah longsor dan angin putting beliung. “Selama ini alam masih bersahabat dengan kami. Tidak ada musibah yang mengancam keselamatan warga,” ujarnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar