Mengetahui tentang Candi Sambisari, di Yogyakarta/ Knowing about Sambisari of Temple, in Yogyakarta FOR GENERAL GENERAL

Mengetahui tentang Candi Sambisari, di Yogyakarta

(Sumber: Sari, Ina Parawita. 2007. Jogja Punya Ceria. Jakarta: AzkaMuliaMedia.)


Tak ada perasan aneh yang menghinggapi Karyowinangun pada sebuah pagi di tahun 1966. Tapi sebuah kejadian langka di alami di sawah kala itu, ketika sedang mengayunkan cangkul ke tanah. Cangkul yang diayunkan ke atanah membentur sebuah batu besar yang setelah dilihat memiliki pahatan pada permukaannya. Karyowinangun dan warga sekitar pun merasa heran dengan keberadaan bongkahan batu itu. Dinas Kepurbakalaaan yang mengetahui adanya temuan itu pun segera datang, dan selanjutnya menetapkan areal sawah Karyowinangun sebagai suaka purbakala. Batu berpahat yang ditemukan itu diduga merupakan bagian dari candi yang mungkin terkubur di bawah areal sawah. Penggalian akhirnya dilakukan hingga menemukan ratusan bongkahan atu lain beserta arca kuno. Dan benar, batu itu memang merupakan komponen sebuah candi. Selama 21 tahun sesudahnya, keindahan candi akhirnya bisa dinikmati. Bangunan candi yang dinamai Sambisari itu berdiri megah di Dusun Sambisari, Kelurahan Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, 10 km dari pusat kota Yogyakarta. Anda bisa menjangaku dengan berkendara melewati lintas jalan Yogyakarta-Solo hingga menemukan papan petunjuk meunju candi ini. Selanjutnya, Anda tinggal berbelok ke kiri mengikuti alur jalan. Rombongan sempat kaget ketika sampai di areal candi. Saat mengarahkan pandangan ke tengah areal candi, hanya tampak susunan batu atap yagn seolah hanya memiliki ketinggian beberapa meter di atas tanah. Kita bertanya-tanya, apa benar Candi Sambisari hanya sekecil itu? Setelah mendekat, barulah kami mendapat jawabannya. Ternyata, Candi Sambisari berada 6,5 meter lebih rendah dari wilayah sekitarnya. Candi Sambisari diperkirakan dibangun antara tahun 812-838 Masehi, kemungkinan pada masa pemerintahan Rakai Garung. Kompleks candi terdiri 1 buah candi induk dan 3 buah candi pendamping. Terdapat dua pagar yang mengelilingi kompleks candi, satu pagar telah dipugar sempurna, sementara satu pagar lainnya hanya ditampakkan sedikit di sebelah timur candi. Masih sebagai pembatas, terdapat 8 buah lingga patok yang tersebar di setiap arah mata angin. Bangunan candi induk cukup unik karena tidak mempunyai alas seperti candi di Jawa lainnya. Kaki candi sekaligus berfungsi sebagai alas sehingga sejajar dengan tanah. Bagian kaki candi dibiarkan polos, tanpa relief atau hiasan apapun. Beragam hiasan yang umumnya berupa simbar baru dijumpai pada bagian tubuh hingga puncak candi bagian luar. Hiasan itu sekilas seperti motif batik. Menaiki tangga pintu masuk candi induk, Anda bisa juga menjumpai hiasan berupa seekor singa yang berada dalam mulut  makara (hewan ajaib dana mitologi Hindu) yang mengaga. Figure makara di Sambisari dan merupakan evolusi dari bentuk makara di India yang bisa berupa perpaduan gajah dengan ikan atau buaya denga ekor yang membengkok. Selasar slebar 1 meter akan dijumpai setelah melewati anak tangga terakhir pintu masuk candi induk. Mengelilinginya, Anda akan menjumpai 3 relung yang masing-masing berisi sebuah arca. Di sisi utara, terdapat arca Dewi Durga (isteri Dewa Siwa) dengan 8 tangan yang masing menggenggam senjata. Sementara di sisi timur terdapat Arca Ganesha (anak Dewi Durga). Di sisi selatan, terdapat arca Agastya dengan aksamala (tasbah) yang dikalungkan di lehernya. Memasuki bilik utama candi induk, bisa dilihat lingga dan yoni berukuran cukup besar, kira-kira 1,5 meter. Keberadaannya menunjukkan bahwa candi ini dibangun sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa. Lingga dan Yoni di bilik candi induk ini juga dipakai untuk membuat air suci. Biasanya, air diguyurkan pada lingga dan dibiarkan mengalir melewati parit kecil pada yoni, kemudian ditampung dalam sebuah wadah. Keluar dari candi induk dan menuju ke barat, Anda bisa melihat ketiga candi perwara (pendamping) yang menghadap ke arah berlawanan. Ada dugaan bahwa candi perwara ini sengaha dibangun tanpa atap, karena ketika penggalian tak ditemukan batu bagian atap. Bagian dalam candi perwara tengah memiliki lapik bujur sangkar yang berhias naga dan padmasana (bunga teratai) berbentuk bul cembung di atasnya. Kemungkinan, padmasana dan lapik dipakai sebagai tempat arca atau sesajen. Bila telah puas menikmati keindahan candi. Anda bisa menuju ke ruang informasi. Beberapa foto yang menggambarkan lingkuna sawah Karyowinangun sebelum digali dan kondisi awal candi ketika ditemukan bisa ditemui. Ada pula foto tentang proses penggalian dan rekonstruksi bend lain yang ditemukan selama penggalian, berupa arca dari perunggu yang kini di simpan di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala. Keindahan candi Sambisari yang kini bisa kita nikmati merupakan hasil kerja keras para arkeolog selama 21 tahun. Candi yang semula mirip puzzle raksasa, sepotong demi sepotong disusun kembali demi lestarinyasatu lagi warisan kebudayaan agun di masa silam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar