Mengetahui tentang Candi Kedulan, di Yogyakarta
(Sumber: Sari, Ina Parawita. 2007. Jogja Punya Ceria. Jakarta: AzkaMuliaMedia.)
Candi Kedualn adalah sebuah candi bercorak Hindu yang terdapat di Dusun Kedulan, kurang lebih 3 kilometer dari Candi Kalasan. Candi ini ditemukan secara tak sengaja oleh penambang pasir pada 24 November 1993. Kesenangan yang berbeda akan didapat jika mengjungi candi ini, sebab Anda bisa menimkati proses rekonstruksi candi yang sangat rumit. Lokasi penggalian sedalam 7 meter akan langsung ditemui begitu tiba di kompleks candi ini. Lokasi penggalian itu berisi batu candi yang tersebar ke segala penjuru dan bagian kaki candi induk yang tampak masih menyatu. Di lokasi penggalian inilah, kompleks Candi Kedulan yang terdiri dari 1 candi induk dan 3 candi pendamping (perwara) semula berdiri. Kini, bagian kaki candi induk tengah di uji kekokohannya agar dapat ditumpangi batu lain pada tahap selanjutnya. Mengelilingi daerah sekitar lokasi penggalian akan dijumpai batu candi yang setengah di rekonstruksi dengan cara mencocokkan batu satu dengan batu yang lain. Batu yang telah berhasil dicocokkan diberi symbol tertentu yang ditulis menggunakn kapur. Tampak konstruksi sementara bangunan pagar pembatas selasar candi, atap, bilik candi, dan beberapa bagian tubuh candi lainnya. Terlihat pulalingga dan yoni yang diduga merupakan komponen yang mengisi bilik candi. Beberapa ornament yang menghias candi sudah bisa dinikmati keindahannya, walau candinya sendiri masih dalam tahap rekonstruksi. Misalnya, relief naga di bawah yoni diperkirakan akan mengisi bilik utama candi induk, figurnya berbeda dengan naga penghias yoni candi di Jawa Tengah lainnya sebab terlihat memiliki rahang. Terdapat pula relief dewa di beberapa bagian dinding candi, hiasan suluran, roset, serta relief motif batik. Setelah berkeliling, kami berbincang dengan salah seorang staf. Ia bercerita betapa sulitnya menyusun kembali bangunan yang runtuh itu. Ada ratusan batu yang harus dicocokkan agar candi bisa berdiri lagi, padahal untuk mencocokkannya tak ada petunjuk sama sekali. Saking sulitnya, seorang pekerja kadang hanya mampu mencocokkan satu batu degnan satu batu lainnya dalam kurun waktu seminggu. Betul, bagaikan menyusun sebuah puzzle raksasa. Kalau memasuki ruang informasi di sebelah lokasi penggalian, Anda bisa mengetahui perkiraan rancangan Candi Kedulan. Dari hasil tersebut diperkirakan candi induk memiliki tinggi 8 meter, terbagi menjadi bagian kaki, tubuh, dan atap. Tubuh candi terdiri 10 lapis batu dengan tinggi 2,4 meter, memiliki beberapa relung yang berisi arca Ganesha (anak Dewa Siwa), Agastya, Durga (isteri Dewa Siwa), Nandaka, dan Nandiswara (kendaraan Dewa Durga), serta mempunyai selasar sempit yang diduga hanya bisa dimasuki orang tertentu. Atap candi terdiri atas 13 lapis batu andesit. Dari keterangan di atas, bisa diperkirakan bahwa arsitekturnya secara keseluruhan mirip dengan Candi Sambisari. Di ruang informasi itu pula, Anda bisa melihat puing mangkuk berhias dan barang gerabah yang di duga digunakan dalam ritual peribadatan di candi ini. Selain itu, ada juga kayu yang berasal dari pepohononan yang tumbu semasa candi ini berdiri. Beberapafoto benda lain yang ditemukan selama penggalian juga bisa dilihat di ruang informasi. Ada foto arca dewa berbahan perunggu dan foto prasasti Pananggaran dan Sumudul yang ditemukan pada tahun 2003. Pada dinding ruangan, terdapat gambaran lapisan tanah tempat batu candi ditemukan, serta foto yang menggambarkan proses penggalian yag berlangsung selama bertahun-tahun. Pada 12 Juni 2003, ditemukan dua buah prasasti di lokasi penggalian. Prasasti yang ditulis dalam huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta tersebut, sudah berhasil dibaca oleh dua epigraf dari Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, yaitu: Dr Riboet Darmoseotopo dan Tjahjono Prasodjo, M.A. berangka tahun 791 Saka (869 Masehi, atau sekitar 10 tahun setelah candi Prambanan berdiri), isinya tentang pembebasan pajak tanah di Desa Pananggaran dan Parahyangan, pembuatan bendungan untuk irigasi, pendirian bangunan suci bernama Tiwaharyyan, serta ancaman kutukan bagi siapapun yang tidak mematuhi aturan. Beberapa arkeolog menduga bahwa prasasti tersebut berkiatan dengan pendirian Candi Kedulan. Bangunan suci Tiwaharyyan diduga merupakan Candi Kedulan itu sendiri. Desa Pananggaran yang diceritakan pada prasasti di duga berada di wilayah sekitar candi, begitu pula bendungan yang dimaksud. Namun, sampai kini belum ditemukan jejak bendungan kuno yang dimaksud. Mungkin bagunan itu dibangun di Sungapi Opak yang berjarak sekitar 4 km dari lokasi candi, atau mungkin juga di sungai yang kini sudah tidak ada lagi karena tertutup lahar erupsi Gunung Merapi seribu tahun silam. Banyak teka teki yang menunggu dipecahkan beserta pesona komponen candi, menjadi berwisata ke Candi Kedulan menarik untuk dilakukan. Kondisi candi yang masih dalam tahap rekonstruksi justru menambah kesenangan ketika mengunjunginya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar