Mengetahui tentang Candi Ijo, di Yogyakarta
(Sumber: Sari, Ina Parawita. 2007. Jogja Punya Ceria. Jakarta: AzkaMuliaMedia.)
Menyusuri jalan menuju bagian selatan komples Istana Ratu Boko adalah sebuah perjalanan yang mengasyikan, terutama bagi penikmat wisata budaya. Bagaimana tidak, bangunan candi di sana bertebaran bak cendawan di musim hujan. Satu di antaranya belum banyak menjadi perbincangan adalah Candi Ijo, sbuah candi yang letaknya paling tinggi di antara candi lain di Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Ijo dibangun sekitar abad IX, di sebuah bukit yang dikenal dengan Bukit Hijau atau Gumuk Ijo, yang ketinggiannya sekitar 410 meter atas permukaan laut. Karena ketingginya, maka bukan saja bangunan candi yang bisa dinikmati, tetapi juga pemandangan alam di bawahnya berupa teras seperti di daerah pertanian dengan kemiringan curam. Meski bukan daerah yang subur, pemandangna alam di sekitar candi sangat indah untuk dinikmati. Kompleks candi terdiri 17 struktur banguann yang terbagi dalam 11 teras berudnak. Teras pertama, sekaligus halaman menuju pintu masuk, merupakan teras berundak yang membujur dari barat ke timur. Bangunan pada teras kesebelas berupa pagar keliling, delapan buah lingga patok dan empat bangunan, yaitu candi utama dan tiga candi perwara. Peletakan banguan pada tiap teras di dasarkan atas kesakralannya. Bagunan pada teras tertinggi merupakan paling sacral. Ragam bentuk seni rupa dijumpai sejak pintu masuk bangunan yang tergolong candi Hindu ini. Tepat di atas pintu masuk, terdapat kala makara dengan motif kepala ganda dan beberapa atributnya. Motif kepala ganda dan beberapa atributnya juga bisa dijumpai pada candi Budha menunjukkan bahwa candi itu adalah bentuk akulturasi kebudayaan Hindu dan Budha. Beberapa candi yang memiliki motif kala makara serupa, antara lain Ngawen, Plaosan, dan Sari. Ada pula arca yang menggambarkan sosok perempuan dan laki-laki yang emlayang dan mengarah pada sisi tertentu. Sosok tersebut dapat mempunyai beberapa makna. Pertama, sebagai suwuk untuk mengusir roh jahat, dan kedua sebagai lamang persatuan Dewa Siwa dan Dewi Uma. Persatuan tersebut dimaknai sebagai awal terciptanya alam semesta. Berbeda degnan arca di Candi Prambanan, corak naturalis pada arc di Candi Ijo tidak mengarah pada erotisme. Menuju bangunan candi perwara di teras kesebelas, terdapat sebua tempat seperti bak tempat api pengorbanan (homa). Tepat di bagian atas tembok belakang bak tersebut terdapat lubang udar atau ventilasi berbentuk jajar genjang dan segitiga. Adanya tempat api pengorbanan merupakan cermin masyarakat Hindu yang memuja Brahma. Tiga candi perwara menunjukkan penghormatan masyarakat pada Hindu Trimurti, yaitu Brahmana, Siwa dan Whisnu. Salah satu karya yang menyimpan mister adalah dua bua prasasti yagn terletak di banguanan candi pada teras kesembilan. Salah satu prasasti diberi kode “F” bertuliskan Guywan atau Bluyutan, yang berarti pertapaan. Prasasti lain yang terbuat dari batu berukuran tinggi 14 cm dan tebal 9 cm, memuat mantra yang diperkirakan berupa kutukan. Matra tersebut ditulis sebanyak 16 kali dan di antaranya yang terbaca adalah “On Sarwwawinasa, Sarwwawinasa”. Nosa jadi, kedua prasasti tersebut erat dengan terjadinya peristiwa tertentu di Jawa saat itu. Apakah peristiwanya? Hingga kini belum terkuak. Mengunjungi candi ini, Anda bisa menjumpai pemandangan indah yang tak akan bisa dijumpai di candi lain. Bila menghadap kea rah barat dan memandang ke bawah, Anda bisa melihat pesawat take of dan landing di Bandara Adisutjipto. Pemandangan itu bisa dijumpai karean Pegunungan Seribu tempat berdiri candi ini menjadi batas bagian timur bandara. Karena keberadaan candi di pegunungan itu pula, landasan Bandara Adisutjipto tak bisa diperpanjang ke arah timur. Setiap detail candi menyuguhkan sesuatu yang bermakna dan mengajak penikmatnya untuk berefleksi, sehingga perjalanan wisata tak sekadar ajang bersenang-senang. Adanya banyak karya seni rupa hebat tanpa disertai nama pembuatnya, menunjukkan pandangan masyarakat Jawa saat itu yang lebih menitikberatkan pada pesan moral yang dibawa oleh suatu karya seni, bukan pembuat atau kemegahan karya seninya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar