Busung Lapar dan Keracunan Makanan, di dalam Ilmu Kesehatan
(Sumber: Soerjohardjo, Sadatoen.1986. Ilmu Kesehatan untuk Sekolah Menengah Atas. Bandung:LubukAgung.)
A) Busung Lapar
Orang yang menderita penyakit tersebut badannya bengkak, tak dapat bekerja, lemah, segala gerak geriknya lambat. Hal ini disebabkan karena kekurangan zat telur, biasanya kecuali kekuarangan zat telur, juga kekurangna vitamin, kalori dan lain-lain. Gejala permulaannya tidak jelas. Orang itu merasa lesu badannya, nafsu bekerja tidak ada,, lengan dan tungkai sering terasa kesemutan. Oedeem belum tampak. Lama gejala ini menghebat, maka terjadi gejala seperti yang tersebut di atas. Sebenarnya asal orang cukup makan nasi, buah-buahan, sayur dan zat telur, penyakit itu tak akan timbul. Tetapi dalam keadaan di mana bahan makanan serba mahal, sedangkan kekuatan membeli dari rakyat kurang, berjangkitnya penyakit tersebut tidak mengherankan.
B) Keracunan Makanan
1) Keracunan singkong (Singkong: casave: manihot utlisssima).
Bahan makanan ini banyak dimakan di Indonesia. Jenisnya banyak, ada yang rasanya agak pahit, ada pula yang rasanya agak manis. Daun singkong dan akarnya mengandung asam cyanide. Jenis yang pahit mengandung lebih banyak asam tersebut daripada jenis yang manis. Yang disebut keracunan singkong adalah keracunan yang disebakan karena makan singkong yang masih mengandung asam cyanide tersebut. Gejalanya adalah: rasa mual, muntah, nafas menjadi sukar dan dalam waktu beberapa jam saja orang dapat menjadi pingsan, akhirnya akan menemui ajalnya. Biasanya keracunan tersebut tidak terdapat pada satu orang saja, tetapi seluruh keluarga yakni bapaknya, ibunya dan anaknya. Dalam keadaan tersebut pengobatan yang terbaik adalah dalam rumah sakit
Ø Bagaimana cara mencegah keracunan singkong?
Singkong dikupas dahulu, kemudian dipotong-potong dan dibelah-belah. Lalu rendam dalam air beberapa jam lamanya. Dengan mengaduk singkong itu dalam air dan mengganti berkali-kali air perendam, maka asam cyanide yang terapat di dalamnya akan larut dalam air perendam dan turut terbuang bersama air itu. Setelah itu baru dapat dikukus, direbus, digoreng, dan lain-lain.
2) Keracunan tempe bongkrek
Di Jawa Tengah, istimewa di daerah Banyumas, serng terdengar adanya keracunan tempe bongkrek, kalau ada hal seperti ini, biasanya yang menjadi korban bersepuluh orang. Tempe bongkrek adalah tempe yang dibuat dari bungkil kelapa atau dari kelapa yang diparut. Jenis cendawan tertentu yang dipakai untuk ini adalah Rhyzonpus orizae. Bila yang tumbuh pada bukil itu hanya cendawan ini saja, tak akan terjadi apa-apa. Tetapi kadang terdapat pula bakteri *yang jenisnya belum diketahui) yang dapat menimbulkan zat racun, yakni asam bongkrek.
Ø Gejala keracunan tempe bongkrek adalah sebagai berikut:
Beberapa jam setlah makan tempe bongkrek yang beracun itu, penderita merasa badannya tidak segar, kejang dalam lambung dan perut. Lalu timbul pusing kepala, banya mengeluarkan keringat, sesak nafas, otot menjadi kencang seperti kejang-kejang, kesadaran rendah, akhirnya penderita pingsan dan terus mati. Kematian biasanya terjadi pada hari itu juga, kadang malahan beberapa jam setelah makan asam bongkrek itu (jadi per acuut).
Ø Pengobatannya adalah nihil. Pencegahan adlaah jangan makan tempe bongkrek. Atau bila masih ingin juga membelinya, harus memilih yang betul baik. Menurut penyelidikan Van der Veen, tempe bongkrek yang sama sekali tertutup oleh cendawan itu yang baik, tetapi bila pertumbuhan cendawan itu tidak rata, jadi hanya sedikit, maka tempe seperti ini tidak boleh diperaya, mungkin mengandung asam bongkrek yang amat membahayakan.
3) Keracunan jamur
Di antara jaur yang dapat dimakan, ada pula jamur yang dapat menimbulkan keracunan. Yang menimbulkan adalah suatu jenis disebut Phaeomarasmius sulciseps.
Ø Gejala keracunan jamur adalah:
Setelah masa tunas 8-12 jam , maka timbul rasa mual, muntah dan berak, tak dapat kencing, hati membengkak dan kulit menjadi kuning (icterus). Mula kesadaran tidak terganggu. Kematiaan akan datang apda hari ketiga sampai kesepuluh.
Ø Ada pula terdapat gejala lain, yakni: msa tunas hanya 1-2 jam, lalu timbul perasaan mual, muntah, dan berak-berak, perubahan pada kejiwaan, gerak dari orang itu menjadi ataktis (kaku, tak ada kordinasi antara gerak-gerak, tak harmonis), jalannya seperti orang yang mabuk. Makin alam masa tunasnya, makin buruk akibatnya. Dalam hal tersebut di atas, lekaslah kirim penderita ke rumah sakit.
4) Keracunan jengkol
Di Indonesia, jengkol adalah bahan makana yang banyak di makan, banyak mengandung vitamin B. cara pengolahannya bermacam-macam. Dibuat emping, rending, dan lain-lain. Ada pula yang makannya mentah dengan sambal. Keracunan akn terjadi bila dalam jengkol yang dimakan terdapat asam jengkol.
Ø Gejala keracunan jengkol: rasa nyeri di daerah pinggang dan di kandung kencing karena kejang-kejang. Air kencingnya berbau jengkol dan mengandung sel darah putih dan sel darah merah.
Ø Gejala yang hebat ada pula, yakni: rasa nyeri di daearh ginjal dan di kandung kencing lebih hebat, datangnya berbangkit. Hal ini disebut koliek. Kembung, muntah, tak dapat buang air besar, tak dapat kentut, tak dapat kencing karena pembuluh kencing tersumbat oleh hablur asam jengkol. Sampai sekarang belum diketahui benar perihal asam jengkol ini. Apakah memang orangnya yang tidak tahan, apakah asam jengkol itu hanya terdapat dalam jenis tertentu dari pohon jengkol, apakah tergantung dari caranya mengolah jengkol tersebut, dan lain-lain. Hingga kini masih suatu tanda tanya.
5) Keracunan udang, kepiting, dan lain-lain
Udang dan kepiting adalah bahan makana yang disukai orang. Kadang terjadi gejala yang disebabkan oleh bahan makanan tersebut.
Ø Gejala tersebut adalah: kulit merasa gatal, timbul bintik merah, suhu badan meninggi, muka kelihatan erah. Hal ini yang disebut keracunan udang. Kadang gejala dapat hebat sekali, sehingga oarng yang menderita keracunan tersebut meninggal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar