Alat-Alat Pendengaran dan Ilmu Kesehatan, di dalam Ilmu Kesehatan
(Sumber: Soerjohardjo, Sadatoen.1986. Ilmu Kesehatan untuk Sekolah Menengah Atas. Bandung:LubukAgung.)
Bagian telinga: cuping telinga, liang telinga, gendang dengar, tulang martil, tulang landasan, tulang saggurdi, saluran gelung, ampula, rumah siput, jendela bundar, pembuluh Eustachius, rongga telinga tengah, saraf pendengaran dan keseimbangan.
1) Ringkasan dari anatomi dan faal alat pendengaran, yakni:
Ø Telinga bagian luar: cuping telinga, liang telinga, dan gendang dengar
Ø Telinga bagian tengah: bagian ini merupakan suatu rongga, di dalamnya terdapat tulang pendengaran
Ø Telinga bagian dalam: dalam bagain ini terdapat alat pendengaran dan alat keseimbangan tubuh
Mendengar adalah rangakian proses yang terdiri dari:
Ø Penerima getaran suara oleh gendang dengar
Ø Meneruskan getaran itu ke pusat pendengaran
Ø Mengartikan getaran itu oleh pusat pendengaran
Jalan yang ditempuh oleh getaran suara adalah: cuping telinga, liang telinga, gendang dengar, tulang martil, tulang landasan, tulang sanggurdi, rumah siput, saraf oatak kedelapan, pusat pendengaran (di mana letak pusat pendegaran kita?). di sini getaran itu diartikan. Gangguan pendengaran akan terjadi bila gangguan pula dalam perjalanan yang ditempuh oleh getaran itu.
2) Gangguan Pendengaran karena Timbunan Kotoran dalam Liang Telinga
Pada dinding liang telinga terdapat kelenjar minyak yang mengeluarkan getah. Kadang pembuatan getah itu lebih banyak dari biasa, sehingga terjadilah timbunan getah tersebut. Timbunan itu dapat mongering dan menutupi gendang besar, dengan demikian gendang dengar ini tidak dapat bergetar dengan sempurna. Maka terjadilah gangguan pendengaran (pendengaran kurang).
Ø Bagaimana cara membersihkan kotoran tersebut?
Masukkan air bersih yang masih suam kuku ke dalam liang telinga. Kotoran yang sudah mongering akan melunak dan biasanya akan mudah dikeluarkan dengan kapas. Bila usaha ini tidak berhasil, jangan mencoba mengeluarkan kotoran itu dengan benda tajam seperti korek kuping dari logam dan lain-lain. Perbuatan ini mungkin akan menimbulkan luka pada dinding liang telinga atau gendang dengar. Lebih baik mintalah pertolongan dokter. Untuk melunak kotoran telinga yang kering dan kuat melekatnya pada dinding liang telinga atau gendang dengar, dokter kadang memasukkan sodagliserin ke dalam liang telinga. Setelah melunak, kotoran yang mudah dapat dikeluarkan tanpa merusak jaringan dalam telinga. Anak suka sekali memasukkan biji ke dalam liang telinga. Hal ini sudah barang tentu harus dilarang. Usaha untuk mengeluarkan biji itu sering tidak berhasil, karena bentuk liang telinga yang agak sulit. Mintalah pertolongan seorang ahli.
3) Gangguan Pendengaran karena Kerusakan Gendang Dengar
Kerusakan pada gendang dengar sering berakibatkan berkurangnya pendengaran. Orang yang gendang dengarnya rusak (berlubang, robek, pecah, dan lain-lain) lebih mudah mendapat serangan penyakit telinga daripada yang gendang dengarnya masih utuh. Berenang misalnya amat buruk akibatnya bagi mereka yang gendang dengarnya sudah rusak. Air yang masuk ke dalam liang telinga terus masuk ke dalam rongga telinga tengah. Dalam rongga ini basil yang masuk bersama air tadi dengan mudah dapat menimbulkan infeksi. Kerusakan gendang dengar dapat terjadi karena bermacam hal:
Ø Akibat pemakaian korek kuping sebagai usaha untuk mengeluarka kotoran telinga
Ø Tekanan udara yang sekonyong-konyong meninggi sebagai akibat ledakan bom atau tamparan pada telinga
Ø Akibat radang telinga tengah. Penyakit ini lebih banyak terdapat anak, karena pembuluh Eustachius pada anak bentuknya agak lurus dan lebar. Bilamana ada suatu radang di daerah tekak atau rongga hidung, maka basil dapat menjalar melalui pembuluh Eustachius sampai ke rongga telinga tengah dan menimbulkan radang di tempat itu. Penyakit tersebut menimbulkan rasa yang sangat nyeri di daerah telinga dan suhu badan meninggi. Dalam keadaan seperti ini hendaknya lekas pergi ke dokter guna mendapatkan perawatan yang sebaiknya. Karena radang tersebut di atas, maka keluar getah ke dalam rongga telinga tengah. Getah ini makin lama makin bertambah dan menimbulkan desakan pada gendang dengar. Desakan makin lama makin keras, akhirnya pecahlah gendang denganr itu dan getah mengalir ke luar. Keluarnya getah dari telinga ini dapat berhenti sendiri, timbul lagi, berhenti lagi, dan seterusnya. Penyakitnya menjadi menahun, sering tidak lagi terasa nyeri pada telinga dan getah yang keluar tidak bau. Tak heran, bahwa penyakit ini oleh si penderita tidak dianggap sebagai penyakit yang berat, apa lagi kalau telinga sudah kering (tak mengeluarkan getah lagi). Gambaran tersebut adalah yang lazim disebut congek. Kadang getah yagn keluar berwarna kuning, kental, dan berbau busuk. Sebenarnya penyakit telinga sudah sampai ke tingkat yang digambarkan di atas sudah keras. Proses berjalan terus tanpa diketahui atau dirasakan oleh si penderita sendiri dan sekonyong-konyong penyakit dapat timbul lagi dalam keadaan yang lebih keras lagi. Bila diperiksa, mungnkin sekali tulang pendegaran sudah binasa. Gangguan pendengaran yang tadinya hanya ringan saja main lama makin hebat. Akhirnya sama sekali tidak dapat mendengar. Penyakit yang menahun ini dapat pula berakibat radang pada tulang putting (mastoid) dan lebih berbahaya lagi adalah randang dari selaput otak. Bilamana penyakit telinga itu segera diobati waktu masih dalam tingkat pertama, tentu akibat seperti operasi, radang selaput otak, tuli dan lain-lain dapat dihindarkan.
4) Pekak pada Orang-orang Tua
Pada umumnya makin tua orang itu, makin kurang pendengaran. Hal ini disebabkan karena penghubung antara tulang pendengaran sudah tidak begitu baik lagi, kecuali itu getaran gendang dengar sudah agak kaku. Karena itu pendengaran menjadi kurang . kini sudah dapat dibuat orang alat pendegaran listrik yang dapat membantu orang yang pendengarannya sudah berkurang. Sayang masih mahal dan merawatnya pun sukar. Gangguan yang terberat adalah tuli. Ada orang yang tuli sejak dari lahirnya. Hal ini disebabkan oleh gangguan pertumbuhan alat pendengaran waktu orang itu masih berada dalam kandungan ibunya. Apa yang menyebabkan gangguan pertumbuhan alat pendengaran itu belum diketahui dengan jelas. Untunglah jumlah tul semacam ini sedikit sekali. Sebagian besar dari tuli disebabkan oleh tindakan yang tidak dapat tempatnya (korek kuping, tamparan pada telinga, dan lain-lain), radang telinga tengah, dan penyakit infeksi lain seperti scarlatina, diphterie, dan syphilis.
Ø Tambahan: kini sudah dapat diketahui, bahwa penyakit rubeola (German measles) adalah salah satu sebab yang dapat menimbulkan cacat pada waktu bayi lahir: jadi waktu bayu berada dalam kandungan ibu menderita penyakit tersebut. Penyakit itu mempengaruhi pertumbuhan tubuh si bayi sehingga terjadi cacat seperti mata buta, kepala kecil, dan lain-lain, juga tuli. Untunglah bahwa penyakit itu belum terdapat di Indonesia.
5) Cara Pembuanga Ingus
Cara membuang ingus dari hidung perlu dikemukakan, karena ada hubungan yang erat sekali antara hal tersebut dengan penyakit radang telinga tengah (dan radang sinus). Bila pada waktu mengeluarkan ingus ke dua lubang hidung ditutup, (sebenarnya tidak ditutup sama sekali, tetapi mengecilkan kedua belah lubang hidung, sehingga angin masih dapat keluar), maka ada kemungkinan bahwa ingus yang harusnya keluar melalui kedua lubang itu, didesak ke rongga telinga tengah melalui pembuluh Eustachius dan ke dalam sinus. Baiknya adalah tetap membuka lubang hidung pada waktu mengeluarkan ingus, atau berganti mengeluarkan melalui satu lubang dengan menutup lubang yang lain. Suatu cara yang klasik di Indonesia adalah menutup lubag hidung yang satu dengan ibu jari, kemudian ingus melalui lubang lainnya dinafaskan ke luar. Sesudah itu lubang hidung yang lainnya ditutup seperti itu lagi dan seterusnya. Cara ini agak kuran memenuhi syarat aesthetica, tetapi syarat Ilmu Kesehatan terang terpenuhi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar