Sejarah tentang Sumo
(Sumber:_.2013. Long Life Sumo. Surabaya: Deteksi Jawa Pos Edisi Selasa 2 Juli 2013.)
Sumbo besar dan bertarung. Saat mendengar kata sumo, mungkin dua kata itulah yang ada di pikiran kita. semua orang juga pasti tahu bahwa sumo berasal dari Jepang. Tapi, apa sumo sebenarnya dan bagaimana perjuangan sumo untuk mempertahankan ekstensinya di tengah perkembangan jaman? Menurut catatan sejarah, sumo adalah suatu tradisi ritual dalam agama Shinto yang lahir dua ribu tahun lalu. Sumo adalah sebuah adu kekuatan dua “rikishi” (pesumo) dalam sebuah pertandingan (dohyo). Pada awal kemunculannya, sumo dilakukan sebagai bentuk hiburan bagi para dewa selama festival Matsuri. Dunia sumo Jepang mengalami perubahan pada abad XVII. Sumo yang awalnya hanya dianggap sebagai sebuah tradisi mulai dijadikan sebagai kompetisi olahraga. Sejak saat itu, sumo mulai memiliki aturan yang lebih kompleks. Sumo juga makin pupuler sejak diselenggarakan turnamen sumo Six Grand Tournament pada 1958. Meski sudah diselenggarakan dengan lebih professional, sumo tetap berusaha mempertahankan tradisi Shinto yang secara simbolis terlihat di pertandingan sumo. Contohnya, arena pertandingan sumo (dohyo) yang berbentuk cincin menyimbolkan kemurnian Shinto. Ada juga kanopi yang menggantung di atas dohyo (tsuriyane), yang menyimbolkan kuil untuk peribadatan agama Shinto. Sejak sumo diakui sebagai olahraga dan dikompetisikan secara resmi dalam turnamen, profesi pesumo (rikishi) pun semakin pupuler. Tapi, menjadi pesumo juga tidak mudah karena perlu pelatihan khusus. Di tempat pelatihan (heya), pesumo harus mengikuti semua prosedur latihan dan berbagai aturan. Termasuk aturan makan. Tidak hanya itu, pesumo juga memiliki tingkatan yang berpengaruh pada jumlah gaji dan karir mereka. Ada tingkatan paling rendah, ada juga tingkatan paling tinggi. Dunia sumo pun tidak lepas dari cobaan berat. Seperti olahraga tradisional lain, seiring dengan perkembangan zaman, popularitas sumo juga sempat menurun. Sejak 2003, jumlah pesumo sekamin berkurang. Pada 2007 saja jumlah pesumo 720 orang. Itu pun dominasi pesumo non Jepang cukup signifikan. Penurunan jumlah pesumo juga tidak lepas dari turunnya antusiasme anak muda Jepang terhadap olahraga itu. Sumo dianggap terlalu kolot dan tidak gaul, misalnya menggunakan celana pertandingan sumo (mawashi) yang terlalu terbuka. Hal itu juga diperkeruh oleh tindakan asosiasi sumo amatir yang mengeluarkan celana sumo modifikasi bagi pesumo. Hal tersebut tentu mendapat tanggapan keras dari badan olahraga sumo Nihon Sumo Kyokai yang berusaha keras mempertahankan tradisi dalam sumo. “Mawashi adalah hal yang penting dan penuh makna tradisi,” tegas perwakilan Niho Sumo Kyokai. Pada 2011, dunia sumo juga sempat dilanda kabar miring tentang skandal pengaturan kemenangan dalam sebuah pertandingan sumo yang dilakukan demi uang. Tentu saja hal itu sempat membuat kredibilitas sumo di mata public sedikit negative. Meski sempat diliputi berbagai masalah, kesistensi sumo tetap dijaga hingga kini. Nihon Sumo Kyokai juga tetap berusaha menjaga agar sumo tetap menjadi olahraga yang sarat tradisi di tengah tuntutan zaman yang makin modern. Turnamen kuno terus diadakan setiap tahun. Semua usaha itu tentu saja dilakukan agar sumo tetap bertahan di tengah perkemnangan zaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar