Mengetahui tentang Tradisi Larung Sesaji Gono Bahu, di Telaga Pasir Sarangan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur/ Knowing about the Tradition float Gono Bahu offerings, in Sand Lake Sarangan, Magetan, East Java

Mengetahui tentang Tradisi Larung Sesaji Gono Bahu, di Telaga Pasir Sarangan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur

(Sumber: _.2013.Usir Balak, Larung Gono Bahu. Ponorogo: Radar Magetan Edisi Senin 1 Juli 2013.)


            Sudah menjadi tradisi turun-temurun warga di sekitar Telaga Pasir Sarangan, menjelang datagnya bulan suci Ramadhan menggelar ritual adat labuh sesaji. Seperti yang terlihat kemarin (30/6), sesepuh desa dan warga melarung tumpeng raksasa dan hasil bumi ke tengah telaga. Konon prosesi adat ini mampu menghindarkan warga Sarangan dari bencana alam. “Labuh sesaji merupakan puncak dari upacara adat bersih yang dilakukan warga selama tiga hari berturut turut,” terang Tumiran, Kepala Kelurahan Sarangan kepada Koran ini, kemarin. Tumpeng setinggi dua meter atau warga menyebut Gono Bahu sebelum dilarung di Telaga Pasir terlebih dulu diarak keliling kampung. Begitu juga dengan hasil bumi dna beraneka jenis jajanan pasar. Menambah meriah suasana, kesenian tradisional juga ikut dipentaskan. Seperti Reyog, tarian Gambyong dan gamelan Jawa. Selanjutnya, tumpeng dan hasil bumi itu dibawa ke tengah telaga menggunakan perahu. Mengobati penasaran pengujung Sarangan yang membludak, iringan perahu berkeliling lebih dulu di Sarangan. Bupati Sumantri dan wakil Bupati Samsi yang memimpin labuh sesaji. Setelah diberi aba-aba oleh para sesepuh, tumpeng dan hasil bumi secara bergilirn ditenggelamka. “Tumpengi ini merupakan symbol ucapan syukur warga Sarangan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan berkah selama satu tahun penuh,” kata Bupati Sumantri. Sumantri menjelaskan, labuh sesaji yang sudah menjadi tradisi warga Sarangan turun temurun tersebut harus dilestarikan. Ritual adat ini tidak hanya menjaga keharmonisan wara saja. Tetapi yang lebih penting bisa menarik pengunjung untuk berbondong-bondong ke objek unggulan Magetan ini. “Masyarakat Magetan harus bangga dengan Sarangan,” tegasnya. Pantauan koran ini, prosesi labuh sesaji benar-benar menyedot antusias masyarkat berkunjung ke Sarangan. Mereka rela berdesak-desakan melihat dari jarak dekat arak-arakan tumpeng. Kemacetan menuju telaga juga tidak bisa terelakan. Mobil didominasi plat nomor luar daerah itu mengular hingga pintu masuk. Menghindari kemacetan di area Sarangan, petugas kepolisian sempat mengalihkan arus lalu lintas ke jalan tembus. Mereka harus menunggu terlebih dulu ritual labih sesaji usai. “Peningkatan dua kali lipat dibandingkan dengan hari libur biasanya. Karcis yang terjual sekitar 6 ribu lembar. Kalau sampai sore (kemarin, Red) mungkin bisa menembus 8-9 ribu,” ucap sala seorang petugas  retribusi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar