Makna Simbol dalam Benda Sejarah/ arkeologis
(Sumber: Nunun.2007. Nawasari Warta Edisi September 2007.Sidoarjo: Museum Negeri Mpu Tantular Propinsi Jawa Timur.)
Ketika manusia ada di dunia dan dibedakan menjadi laki-laki dan wanita, banyak sekali peraturan dan batasan serta perbedaan yang mendeskripsikan gender keduanya. Namun tidaksemua atribut yang dikenakan oleh laki-laki maupun perempuan mengkotak-kotakkan perbedaan tersebut. Mulai dari pakaian hingga aksesoris yang dikenakan sering kali membuat seorang wanita Nampak seperti laki-laki dan sebaliknya seorang laki-laki terlihat sperti wanita. Dalam tulisan ini akan disinggung mengenai berbagai aksesoris berdasar data arkeologis yang menjadi koleksi museum Mpu Tantular. Sulit untuk mengetahui kapan manusia mengenakan aksesoris sebagai sarana untuk mempercantik diri dan bahkan dianggap sebagai bagian dari busaa. Jauh ke belakang di masa prasejarah, banyak peninggalan arkeologis berupa manic-manik, yaitu perhiasan berbentuk silinder atau bulatan yang di tengahnya diberi lubang untuk merengkai. Bahan pembuatan manic-manik sangat bervariasi tergantung dari daerah mana manic-manaik tersebut berasal. Pada awalnya perhiasan (gelang dan kalung) dikenakan laki-laki dan perempuan, biasnaya untuk kalung dibuat dari manic-manik terakota atau jenangan batu sedangkan untuk gelang dibuat dari bahan batu massif (kalsedon) yang diupam sehingga permukaannya halus. Salah satu koleksi manic yang dimiliki museum Mpu Tantular adalah manic Java Mozaik, yang berasal dari Bondowoso, motif ini merupakan salah satu motif khas dari Jawa Timur, kemungkinan dibuat dari jenangan batu yang dicampur dengan kalsit sehingga menghasilkan motif abstrak, setiap manic tidak akan menghasilkan motif yang sama. Selain dari batuan manic juga banyak dibuat dari terakota, yaitu tanah liat yang dibakar,manic jenis ini selalu berwarna merah kecoklatan dan biasanya relative rentan dan mudah pecah. Sedangakn manic yang berusia lebih muda, banyak dibuat dari jenangan batu kaca atau jenangan batu kornelion, manic dari bahan ini relative bervariasi warnanya mulai dari kuning oranye bahkan merah dan biru. Peninggalan manic-manik pada masa prasejarah banyak dikonotasi pada kegiatan yang bersifat religious, ini didasarkan pada temuan manic yang sering kali di situs penguburan atau kompleks pemujaan. Adanya kepercayaan tentang reinkarnasi membuat budaya penguburan pada masa prasejarah dilengkapi dengan bekal kubur. Salah satu yang menarik dari serangkaian benda sebagai bekal kubbur adalah adanya manic-manik. Selain di leher sebagai kalung dna di tangan sebagai gelang, manic juga banyak digunakan sebagai penutup lubang pada bagian tubuh si mayat. Seperti misalnya kedua belah mata, masing ditutup dengan manic yang berwarna sama, demikian juga bagian lubang hidung, mulut, telingan dan pusar. Tentu saja temuan seperti ini menimbulkan berbagai pendapat dari kalangan arkeolog, antara lain adanya pendapat dari manic yang digunakan sebagai penutup lubang agar roh si mati tidak kembali masuk ke dalam jasadnya. Selain itu mungkin hal ini dilakukan agar binatang kecil tidak bisa masuk pada umumnya bagian yang berlubag tersebut cepat mengeluarkan cairan dari dalam tubuh, sehingga perlu disumbat untuk mengurangi cairan yang keluar. (pada sat ini disumbat dengan kapas). Penggunaan manic ini tidak terbatas pada jenis kelamin tertentu, melainkan jasad laki-laki maupun perempuan mendapat perlakuan yagn sama dalam pemberian manic sebagai bekal kuburnya baik dari segi warna, jumla maupun ukurannya. Dari segi keindahan, adanya manic pada jenazah memberikan warna dan keindahan tersendiri yang terkesan eksotik terlepas dari fungsi religious. Belum lagi dilengkapi dengan berbagai benda lain, seperti kapak, wadah dari gerabah dan gading gajah. Selain sebagai bekal kubur, kemungkinan manic juga dipergunakan sebagai perhiasan sehari-hari, baik dalam bentuk kalung, gelang dan anting-anting. Kebiasaan mengenakanaksesoris tidak hanya pada kaum wanita saja tetapi juga laki-laki, biasanya perbedaan derajat social pada masyarakat bisa dilihat dari manic yang dikenakan seseorang. Pada masa Indonesia klasik, aksesoris terbuat dari berbagai bahan yang semakin bervariasi, mulai dari logam mulia (emas), perak, batu semi mulia hingga jenangna kacan dan terakota. Tentu saja emas merupakan logam yang paling tinggi nilainya hal ini disebabkan karena sifat emas yang menguntungkan seperti lentur, tidak mudah patah, tidak berkarat, dan terlihat cemerlang. Namun begitu dalam pemanfaatannya emas seringkali dicampur dengan logam lain dengan harapan dan memperoleh warna yagn lain, serta proses pembuatan yang lebih muda. Berbagai logam yang sering digunakan untuk campuran emas menghasilkan warna yang berlainan, misalnya:
Ø Emas dicampur perak akan menghasilkan warna kuning keputihan
Ø Emas dicampur dengan tembaga menghasilkan warna kuning kemerahan
Ø Emas dicampur dengan nikel menghasilkan emas putih
Ø Emas dicampur dengan besi akan menghasilkan warna keabu-abuan.
Dari berbagai logam campuran tersebut nampaknya yang paling digemari adalah mencampur logam emas dengan perak atau tembaga.
Di india, emas merupakan logam yang mempunyai nilai tertinggi dan sering disebut suwara (svarna) yang berarti mempunyai sifat kesurgaan, termasuk bahan kelas utama, karena itulah benda yang dipergunakan untuk kepentingan religious penggunaan emas sebagai lahan aksesoris juga bertujuan untuk menggambarkan status social seseorang (sosiofak) walaupun begitu motif pada suatu aksesoris selalu mengandung makna religious(ideofak).
Museum Mpu Tantular mempunyai beebrapa koleksi aksesoris emas yang berasal dari sekitar abad XIII Masehi sampai abad XVIII Masehi. Secara keseluruhan koleksi tersebut selain dihiasi motif yang sarat makna juga dilengkapi denan batu mulia berwarna-warni. Sebagai contoh koleksi berupa badong (penutup alat genetalia anakk perempuan), hiasan ini dibuat dari lempengan emas berbentuk segitiga yang pada permukaannya dihiasi motif gragmen cerita Sri Tanjung. Sri Tanjung adalah cerita klasik yang paada intinya menggambarkan kesetian seoragn istri pada suami walaupun dipisahkan oleh waktu dan jarak, penggunaan motif ini pada wanita (walaupun masih kanak-kanak) diharapkan agar si wanita itu kelak akan menjadi istri yang setia pada suami dan mempersembahkan seluruh bathin dan fisiknya pada suami, karena itulah motif ini digunakan pada aksesoris yang digunakna untuk menutup bagian terpenting dari seorang wanita.
Museum juga mempunyai koleksi aksesoris rambut berentuk lingkaran yang dibuat dari lempengan emas berasal dari Madiun kemungkinan dibuat pada baad XIV Masehi. Aksesoris rambut ini pada permukaannya dihiasi motif sulur-suluran tanaman melati yang dianggap sebagai symbol kesucian dan keanggunan. Dengan mengenakan aksesoris ini pada rambutnya diharpakan si pemakai akan selal memancarkan keharuman bagai bunga melati. Tidak hanya dari fisik namun juga dalam setiap perbuatn. Bunga melati yang putih bersih dengan kuntum yang anum selalu diminati dan merupakan sumber inspirasi bagi semua orang. Demikian pula, seroang wanita yang mengenakan aksesoris berhias melati baik dalam tingkah laku sehari maupun keanggunan yan dipancarkan melalui gerak tubuhnya.
Kalung merupakan salah satu aksesoris yang banyak digemari mulai dari masa prasejarah, hingga sekarang baik oleh para wanita maupun laki-laki, padam asa klasik (sekitar abad V-XIII Masehi), motif kalung yang digunakan oleh wanita dan laki-laki seringkali berbeda sesuai dengan harapan yang diinginkan bagi si pemakai. Sebagai contoh koleksi kalung dari Proboliggo yang beerasal dari pemakai. Sebagai contoh koleksi kalung dari Probolinggo yang berasal dari sekitar abad XII Masehi. Liontin ini berbentuk bulan sabit, bagian permukaan dihiasi motif kala tanpa rahang bawah. Kala adalah raksasa mythos yang dianggap sebagai penjaga kesucian (bangunan) dari pengaruh jahat, dalam suatu kompleks bangunan suci biasanya kala diletakkan di ambang pintu maupun jendela. Sehingga tidak ada pengaruh jahat yang bisa masuk ke tempat yang suci (sacral) tersebut. Dalam perkembangannya motif kala tidak saja di pergunakan di bangunan suci melainkan bangunan yagn semi sacral pun seringkali dilengkapi dengan kala, tentu saja dengan pengharapan yang sama agar segala bentuk roh jahat tidak masuk ke dalam. Demiikian juga penggunaan motif kala pada liontin, dikenaakan pada anak perempuan atau remaja putri, hal ini diharapkan supaya si pemakai dijauhkan dari segala bentuk pemikiran jahat maupun hati yang dengki, selain itu seringkali jiwa anak remaja sangat sensitive terhadap hal yang berhubungan dengan asmara pemkaiaan kala di dekat hatinya tersebut diharapkan akan melindungi dari pemikiran yang negative. Sedangkan anak laki-laki dipergunakan motif kalung yang sedang berhias gigi harimau (vighra-nakha), bahkan sampai sekarang di daerah tertentu gigi harimau ini masih dianggap mempunyai kekuatan magis yang merupakan kepercayaan Indonesia yang asli yang kemudian berkembang pesat bersamaan dengan masuknya agama Hindu di Indonesia. Binatang juga banyak digunakan sebagai motif hias dalam aksesoris kuno adalah kulit kerang (sankha), yang notabene merupakan atibut dewa Wisnu. Kerang merupakan salah satu binatang air yang ulet dan bahkan mampu hidup di bawah pasir dalam kurun waktu yanglama, selain itu kerang juga mampu melindungi diri dengan cara berlindung di cangkangnya yang kuat dan indah. Kelebihan yang tak kalah penting adlaha, kulit kerang akan menimbulkan suasana yang indah bila di tiup, bahkan kulit kerang yang sudah kosong akan menimbulkan bunyi yang misterius dan menyimpan berjuta makna apabila ditempelkan di telinga. Dlam beberapa patung di Jawa seringkali digambarkan kulit kerang yang dibawa dewa Wisnu dilengkapi dengna tangkai teratai yang muncul dari dalamnya atau bahkan binatang kerang itu sendiri. Hal ini bertujuan untuk menggambarkan kesuburan dan harapan akan adanya proses regenerasi. Sealin itu sebagai salah satu atribut dewa Wisnu, sankha banyak digunakan oleh raja di Jawa terutama yang merasa dirinya adalah ttisan Wisnu, penggunaan motif kerang memang mempunyai segudang makna, antara lain adalah harapan agar dewa Wisnu selalu ada untuk melindungi umatnya, sebagai gambaran bahwa si pemakai mampu melindungi dan memelihara perdamaian dan ketentraman, si pemakai juga diharapkan senantiasa melindungi berjalannya proses regenerasi dan kesuburan dalam setiap unsure kehidupa manusia. Pada periode Jawa Timur, banyak sekali raja atau bangsawan yang menganggap dirinya adalah titisan Dewa Wisnu. Menarik untuk disimak adalah pemakaian cincin pada sekitar aabd VI-XII Masehi, tidak hanya untuk jari tangan saja, tap cincin dikenakan untuk ibu jari kaki. Namun penggunaan cincin di ibu jari kaki tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang, melaikan hanya untuk golongan bangsawan.
Sat ini bahan pembuatan aksesoris sangat bervariasi, hanya saja unsure dekoratif hampir menguasai keseluruhan design aksesoris. Padahal sesungguhnya apabila kita mau menengok ke belakang bahkan sehelasi daun pun bisa menghasilkan design yang luar biasa indah namun tetap mempunyai makna dan harapan positif bagi si pemakai. Mungkin sudah wakunya kita kembali membuka sejaran dan menggali detail penting dalam pembuatan design aksesoris yang merupakan kekayaan asli budaya bagnsa dan tentu saja yang sarat akan makna.
Kepustakan
(Jan Fontain.1990. Sculpture of Indonesia. New York: Harry n. Adams. INC.)
(Soekmono. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan I dan II. Jakarta: PenerbitKanisius.)
(Adhyaman, Sumarah. Redjeki Arifin.1996. Manik-manik di Indonesia. Jakarta: Penerbit Djembatan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar