Know the characteristics Tops and Build Good Communication with Bosses/ Know the characteristics Tops and Build Good Communication with Bosses FOR GENERAL GENERAL

Mengenal Karakteristik Atasan dan Membangun Komunikasi yang Baik dengan Atasan

(Sumber: W, Rustin Hendra.2013.Kenali Karakteristik, Ungkapkan Ide tanpa Berlebihan. Surabaya: Lowongan Jawa Pos Edisi Senin 29 Juni 2013.)

            Kata-kata menghadap atasan biasanya jadi momok di kalangan karyawan atau pegawai. Bahkan, saking enggannya, karyawan bahkan menghndari kesempatan berkomunikasi dengan bos.

            Memiliki hubunngan yang sehat dengan pihak berwenang di kantor dalam koridor pekerjaan tentu sangat penting. Minimal. Lebih menguntungkan daripada karyawan yang asocial. Hubungan vertical yang baik dapat menciptakan suasana pekerjaan dan “mood” yang nyaman. Langkah pertama adalah mengenal karakteristik atasan dengan sangat baik. Mulai tipikal, tipe orang (misalnya introvert atau ekstrover), hingga asalnya. Ya, aasal sangat penting karena berhubungna dengan budaya personal tersebut. Selajutnya adalah mengetahui hal yang dapat memancing “interest” atau yang sedang diminati. “tentu saja yang berkaitan dengan pekerjaan. Terutama permasalahan dan tantangna yan sedang dihadapi perusahaan. Ungkapkan ide Anda dengan sewajarnya pada saat yang tepat,” ujar Rustini Hendra Wardani dari Pusat Pengembangan Karir SAC Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Bidang Psikologi dan Bimbingan Karir. Karyawan harus bisa menunjukkan bahwa dirinya memiliki tanggung jawab terhadap ide yang disampaikan. Paparkan efek yang dapat ditimbulkan kalau ide tersebut terwujud. Dengan demikian. Ide itu berpeluang diperhatikan, bahkan langsung diproses. Rustini menyebut, ada dua tipe pekerja yang bisa dibedakan jika berhubungan dengan kemampuan berkomunikasi. Pertama, kerja tidak bagus, tapi lobi vertical bagus. Kedua, kerja bagus, tapi hubungan dengan atasan kurang. “dari hal ini pula, banyak yang merasa kerjanya bagus tapi tidak mendapat benefit sama dengan yang lobinya bagus,” ujar Rustini. Rustini memberikan sedikit tip kepada karyawan tipe dua. Tidak perlu mencontoh tipe pertama, terutama perihal kinerja, tapi perbaikilah kemampuan berkomunikasi. Sebab, “soft skill” itu masih bisa dipelajari. Hal lain yang perlu dilakukan adalah mencoba peka dengan keadaan sekitar. “Bergaul dan mengerti keadaan sekitar akan membuat kita mudah mengerti orang lain. Mulai dari hal yagn simple. Seperti tawarkan bantuan terhadap rekan kerja yang sekiranya tidak membebani Anda,” saran Rustini. “Dri situlah akan tumbuh jaringan atau networking yang bermanfaat terhadap keberhasilan berkomunikasi,” lanjutnya. Perhatikan simpati dan empati jika sedang berkomunikasi dengan orang lain. “Bolehlah asyik dengan gadget di kantor, tapi jangan lupakan esensi komunikasi. Yaitu, bertatap muka dan bersosialisasi,” tegasnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar