Mengetahui tentang Candi Tara/ Kalasan, di Yogyakarta/ Knowing about Tara Temple / Kalasan, in Yogyakarta FOR GENERAL GENERAL

Mengetahui tentang Candi Tara/ Kalasan, di Yogyakarta

(Sumber: Sari, Ina Parawita. 2007. Jogja Punya Ceria. Jakarta: AzkaMuliaMedia.)

Banyak orang yang selalu menyebut Borobudur saat membicarakan bangunan candi Budha. Padahal, ada banyak candi bercorak Budha yang terdapat di Yogyakarta, salah satu yang berkaitan erat dengan Borobudur adalah Candi Tara. Candi yang terletak di Kalibening, Kecamatan Kalasaan ini dibangun oleh konseptor yang sama dengan Borobudur, yaitu Rakai Panangkaran. Karena letaknya di daerah Kalasan, maka candi ini lebih dikenal dengan nama Candi Kalasan. Selesai dibangun pada tahun 778 Masehi, Candi Tara menjadi candi Budha tertua di Yogyakarta. Candi ini berdiri tak jauh dari Jalan Yogyakarta-Solo ini dibangun sebagai penghargaan atas perkawinan Pancapana dari Dinasti Sanjaya dengan Dya Pramudya Wardhani dari Dinasti Syailendra. Selain sebagai hadiah perkawinan, candi ini merupakan tanggapan usulan apra raja untuk membangun satu lagi bangunan suci bagi Dewi Tara dn biara bagi para pendeta. Cadi Tara adalah bangunan berbentuk dasar bujur sangkar dalam setiap sisi berukuran 45 meter dan tinggi 34 meter. Banguna candi secara vertical terdiri dari tiga bagian, yaitu kaki candi, tubuh candi, dan atap candi. Bagian kaki candi adalah sebuah bangunan yang berdiri di alas batu berbentuk bujur sangkar dan sebuah batu lebar. Pada bagian itu terdapat tangga dengan hiasan makara di ujungya. Sementara, di sekeliling kaki candi terdapat hiasan suluran yang keluar dari sebuah pot. Tubuh candi memiliki penampilan yang menjorok di sisi tengah. Di bagian permukaan luar tubuh candi terdapat relung yang dihiasi sosik dewa yang memgang bunga teratai dengan posisi berdiri. Bagian tenggaranya memiliki seuah bilik yang di dalamnya terdapat singgasana bersandaran yang dihiasi motif singa yang berdiri di atas punggung gajah. Bilik tersebut dapat dimasuki dari bilik penampil yang terdapat di sisi timur. Bagian atap candi berbentuk segi delapan dan terdiri dari dua tingkat. Sebuah arca yang melukiskan manusia Budha terdapat pada tingkatp ertama, sementara pada tingakt kedua terdapat arca yang melukiskan Yani Budha. Bagian puncak candi berupa bujur sangkar yang melambangakn Kemuncak Semeru dengan hiasan stupa. Pada bagian perbatasan tubuh candi dengan atap candi, terdapat hiasan bunga makhluk khayangan berbadan kerdil disebut Gana. Bila Anda mencermati detail candi, Anda juga kaan menjumpai relief cantik pada permukaannya. Misalnya, relief pohon dewata dan awan beserta penghuni khayangna yang tengah memainkan bunyi. Para penghuni khayangan itu membawa rebab, kerang, dan camara. Ada pula gambaran kuncup bunga, dedaunan, dan suluran. Relief di Candi Tara memiliki kekhasan karean dilapisi dengan semen kuno yang disebut Brajalepha, terbuat dari getah pohon tertentu. Di sekeliling candi terdapat stupa dengan tinggi sekitar 4,6 meter berjumlah 52 buah. Meski stupa itu tak lagi utuh karena bagiannyasudah tak mungkin dirangkai utuh, Anda bisa menikmatinya. Mengunjungi candi yang sejarah berdirinya diketahui berdasarkan Prasasti Candi yang berhuruf Panagari ini, Anda akan semakin mengakui kehebatan Raaki Pangkaran yagn bahkan sempat membangun bangunan suci di Thailand. Candi ini merupakan menjadi bukti bahwa pada masa lalu telah ada upaya untuk merukunkan pemeluk agama satu dengan yang lain. Terbukti, Panangkaran yang beragama Hindu membangun Candi Tara atas usulan para pendeta Budha dan dipersembahkan bagi Pancapana yang juga beragama Budha. Candi ini pula yang menjadi salah satu bangunan suci yang menginspirasi Atisha, seorang Budhis asal India yang pernah mengunjungo Borobudur dan menyebarkan Budha ke Tibet.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar