Perubahan Sosial dan Dampaknya dalam Kehidupan Masyarakat/ Social Change and its Impact on Community Life FOR CLASS XII IPS Semester 1 SOSIOLOGY


Perubahan Sosial dan Dampaknya dalam Kehidupan Masyarakat

(Sumber: Ali, Nur.Modul Bahan Ajar Sosiologi.Ponorogo: Gandini.)

(A)  Perubahan Sosial dalam masyarakat

I)       Pengertian Perubahan Sosial:

Ø  Perubahan social adalah perubahan yang terjadi dimasyarakat yang terjadi terus menerus.


Ø  Menurut Selo Soemarjan, Perubahan social adalah segala perubahan pada lembaga kemasyarakatan dalam masyarakat yang mempengaruhi suatu system sosialnya.


Ø  Menurut Kingley Davis, Perubahan social adalah suatu perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.


Ø  Menurut Samuel Koening, perubahan social adalah modifikasi yang terjadi dalam pola kehidupan manusia.


Ø  Menurut J.P. Gillin dan JL. Gillin, perubahan social adalah suatu variasi dari cara hidup yang telah diterima.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa perubahan social adalah suatu keadaan dimana terjadi ketidaksesuaian di antara unsure yang saling berbeda yang ada dalam kehidupan social sehingga menghasilkan suatu pola kehidupan yang tidak serasi fungsinya bagi masyarakat yang bersangkutan. Pada perubahan social, yang berubah adalah:

1)      Struktur social, misalnya struktur dalam kelompok social, organisasi social, lembaga social dan lain-lain.


2)      Pola hubungan social, misalnya berubahnya pola hubungan atau pola interaksi social antara individu atau kelompok satu dengan individu atau kelompok lainnya.


Perubahan social di masyarakat akan segera diketahui karena perubahan mempunyai karateristik sebagai berikut:

1)      Tidak ada satupun masyarakat yang stagnan (berhenti berubah).


2)      Setiap terjadi perubahan pada lembaga social tertentu akan diikuti oleh lembaga social yang lainnya.


3)      Perubahan yang terlalu cepat dan masyarakat belum siap dapat mengakibatkan terjadinya disintegrasi social.


4)      Perubahan tidak dapat diisolasikan pada aspek material atau spiriutual saja, sebab keduanya saling keterkaitan.


5)      Masyarakat cenderung dinamis atau cenderung untuk berubah.


II)    Perbedaan Perubahan Sosial dengan Perubahan Kebudayaan

Ø  Menurut Soerjono Soekanto, Perubahan kebudayaan (culture change) adalah perubahan yang terjadi pada peradaban manusia.


Ø  Menurut Ariyono Suyono, Perubahan kebudayaan (culture change) adalah suatu perubahan kebudayaan tertentu akibat terjadi proses pergeseran, pengurangan, penambahan dan perkembangan unsur-unsur di dalamnya karena sering adanya interaksi dengan warga pendukung kebudayaan lain, sehingga dapat menciptakan unsure kebudayaan baru dengan melalui segala penyesuaian terhadap unsure kebudayaan tadi.

Perubahan kebudayaan dapat pula diartikan sebagai suatu keadaan dimana terjadi ketidaksesuaian di antara unsure kebudayaan yang berbeda sehingga menghasilkan keadaan yang tidak serasi fungsinya bagi kehidupan. Dalam perubahan kebudayaan yang berubah adalah unsure kebudayaannya, bisa berbentuk pergeseran, pengurangan, penambahan, pengembangan bahkan hilang sama sekali dan diganti yang baru. Unsure kebudayaan meliputi: system bahasa, system pengetahuan, system organisasi social, system teknologi, system mata pencaharian hidup, system religi, system kesenian. Ketujuh unsure tersebut oleh Ralp Linton dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu:

1)      Inti kebudayaan (covert culture), yaitu kebudayaan yang bersifat non materiil. Inti kebudayaan ini meliputi: system nilai budaya, keyakinan keagamaan yang dianggap keramat, adat-istiadat yang dipelajari sejak dini dalam proses sosialisasi individu sebagai warga masyarakat, beberapa adat yang mempunyai fungsi yang terjaring luas (mengatur) dalam masyarakat.


2)      Perwujudan lahiriyah kebudayaan (overt culture) yaitu kebudayaan yang bersifat materiil. Bentuk berupa alat atau benda yang berguna, ilmu pengetahuan, bahasa, teknologi dan lain-lain.

Menurut Ralp Linton, kebudayaan dalam bentuk inti kebudayaan mengalami kelambanan atau sangat sulit untuk berubah, sedangkan kebudayaan yang bersifat lahiriyah sangat mudah bahkan sangat cepat untuk berubah.

Selain itu, perubahan sosial pada dasarnya berhubungan erat dengan perubahan kebudayaan. Menurut Kingley Davis, hubungan antara perubahan sosialdalam perubahan kebudayaan adalah sebagai berikut:

1)      perubahan social merupakan bagian dari perubahan kebudayaan. Jadi perubahan kebudayaan lebih luas cakupannya  dari pada perubahan social.


2)      Perubahan kebudayaan sering mempengaruhi terjadinya perubahan social. Contoh: jika suatu Negara merubah Undang-undang Dasarnya  maka perubahan itu akan mempengaruhi lembaga-lembaga social, cara berinteraksi social dan lain-lain. Meskipun perubahan kebudayaan sering mempengaruhi perubahan social, namun kadangkala perubahan kebudayaan sama sekali tidak mempengaruhi perubahan social. Contoh: perubahan budaya, perubahan model pakaian ternyata tidak mempengaruhi perubahan struktur social maupun hubungan social di masyarakat.


3)      perubahan social tidak pernah ada atau terjadi tanpa di dahului oleh adanya perubahan kebudayaan.


Sekalipun secara teori dan analisis perubahan social dan perubahan kebudayaan dapat dirumuskan, namun dalam praktek nyata di masyarakat sangat sulit dipisahkan, karena keduanya mempunyai aspek yang sama, yakni keduanya bersangkut paut dengan suatu penerimaan cara baru atau suatu perbaikan cara masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, keduanya juga terikat oleh waktu dan tempat. Selain itu dalam realita yang terjadi tidak ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan, dan begitu juga sebaliknya tidak akan terbentuk suatu kebudayaan apabila tidak ada masyarakat. Oleh karena walaupun secara teoritis perubahan social dan perubahan kebudayaan dapat dirumuskan, namun dalam kehidupan sehari-hari sangat sulit dipisahkan.



III)  Bentuk perubahan social


a)     Teori Evolusi adalah perubahan social yang terjadi secara lambat dalam waktu yanglama. Teori evolusi dibedakan menjadi:

(1)    Teori Unilinier, tokohnya: Auguste Comte, Herbert Spencer dan Lewis Henry Morgan. Pendapatnya: masyarakat dan kebudayaan berkembang melalui tahap tertentu, yang dimulai dari tahap sederhana, kompleks sampai pada tahap kesempurnaan.


(2)    Teori Universal, tokohnya: Herbert Spencer dengan teorinya yang disebut Hukum Perkembangan. Pendapatnya: masyarakat dan kebudayaan berkembang biak tidak harus melalui tahapan tertentu yang tetap, tetapi berkembang dari homogen ke heterogen.


(3)    Teori Multiliner, tokohnya: Emile Durkheim. Pendapatnya; masyarakat dan kebudayaan berkembang tidak selamanya melalui tahap tertentu yang sama tetapi adakalanya tahapan yang dilalui tidak sama.


b)     Teori Siklus

Tokohnya: Vilfredo Pareto dengan teorinya “Cyclical Theoritiss”.

Pendapatnya: masyarakat dan kebudayaan mempunyai tahap perkembangan yang seperti lingakaran, dimana suatu tahap tertentu dapat dilalui berulang-ulang. Teori  siklus juga didukung oleh teori berikut ini.

1)      Oswald Spengleer: masyarakat dan kebudayaan berkembang melalui tiga tahap secara berulang, yakni proses kelahiran, pertumbuhan dan keruntuhan.


2)      Arnold Toynbee: teorinya dikenal dengan sebutan “Challenge and Response”. Menurutnya masyarakat dan kebudayaan berkembang melalui siklus kelahiran, pertumbuhan, keruntuhan dan kematian.


3)      Pitirim A. Sorokin; teorinya dikenal dengan sebutan “Dinamika Sosial dan Kebudayaan”. Menurut masyarakat dan kebudayaan berkembang melalui tiga tahap yang dilakukan secara berulang, yaitu: tahap kepercayaan, tahap indera manusia dan tahap kebenaran.


c)     Teori Perubahan Cepat atau Revolusi

Tokohnya adalah Karl Mark. Pendapatnya: masyarakat dan kebudayaan berkembang secara cepat dalam waktu yang singkat yang menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia. Pelaksanaan revolusi dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu:

1)      Revolusi tanpa kekerasan yaitu revolusi yang tanpa didahului dengan terjadinya pemberontakan dan pertumpahan darah. Contohnya: revolusi industry dan revolusi social di Inggris.


2)      Revolusi dengan kekerasan yaitu revolusi yang didahului dengan terjadinya pemberontakan dan pertumpahan darah. Contoh: revolusi 17 Agustus 1945, revolusi Perancis, revolusi Russia dan lain-lain.

Menurut Soerjono Soekanto, secara sosiologi agar suatu revolusi dapat terjadi, maka harus memenuhi syarat sebagai berikut:

1)      Harus ada keingingan umum untuk mengadakan perubahan di masyarakat.


2)      Adanya rasa tidak puas terhadap suatu keadaan dan harus ada keinginan untuk mengadakan perbaikan dengan mengadakan perubahan.


3)      Adanya seorang pemimpin atau kelompok orang yang dianggap mampu untuk memimpin masyarakat.


4)      Pemimpin tersebut harus mampu menunjukkan suatu tujuan yang konkrit terhadap masyarakat.


5)      Pemimpin tersebut harus bisa menampung keinginan masyarakat untuk dijadikan program dari revolusi.


6)      Harus ada momentum untuk memulai revolusi, yaitu saat dimana segala keadaan dan faktor adalah tepat sekali untuk memulai suatu gerakan revolusi.


d)     Perubahan progress dan regres

1)      Progres adalah perubahan yang membawa kemajuan terhadap kehidupan masyarakat. Contohnya: listrik masuk desa, program wajib belajar 9 tahun dan lain-lain.


2)      Regres adalah perubahan yang membawa kemunduran bagi masyarakat dalam bidang kehidupan tertentu. Contohnya: mekanisasi pertanian nantinya dapat memudarkan atau menghilangkan system gotong royong masyarakat tani.


e)     Perubahan yang pengaruhnya kecil dan pengaruhnya besar


1)      Perubahan yang pengaruhnya kecil yaitu perubahan yang pengaruhnya kurang berarti bagi masyarakat secara keseluruhan. Misalnya perubahan mode pakaian.


2)      Perubahan yang pengaruhnya besar yaitu perubahan yang berpengaruh pada sendi kehidupan masyarakat bahkan dapat mengoyakkan keseimbangan system, misalnya perubahan dalam system pemerintahan dari absolute ke system demokrasi.


f)       Perubahan yang dikehendaki atau direncanakan dan perubahan yang tidak dikehendaki atau tidak direncanakan

1)      Perubahan yang dikehendaki yaitu perubahan yang diperkirakan lebih dahulu oleh pihak yang mengadakan perubahan. Misalnya program Keluarga Berencana (KB) untuk menekan laju pertumbuhan penduduk.


2)      Perubahan yang tidak dikehendaki yaitu perubahan yang berlangsung di luar perkiraan atau jangkauan masyarakat. Misalnya penyalahgunaan alat kontrasepsi dalam program Keluarga Berencana (KB).


g)     Perubahan struktur dan perubahan proses

1)      Perubahan struktur adalah perubahan yang sangat mendasar yang menyebabkan timbulnya reorganisasi dalam masyarakat. Contoh: perubahan alat pertanian dari tradisional kea lat modern dan canggih, hal ini bukan perubahan dalam system teknologi saja tetapi juga merubah system gotong royong masyarakat, system peternakan dan system pengetahuan masyarakat akan teknologi.


2)      Perubahan proses adalah perubahan yang sifatnya tidak mendasar, perubahan tersebut hanya merupakan penyempurnaan dari perubahan yang sebelumnya. Contoh: perubahan kurikulum 2004 ke kurikulum 2006 yang sifatnya hanya penyempurnaan belaka.


IV)   Faktor Penyebab, pendorong, dan penghambat perubahan Sosial


a)     Faktor penyebab perubahan Sosial. Menurut Alfin L. Bertrand, penyebab utama terjadinya perubahan adalah komunikasi, sebab di dalamnya ada penyampaian berbagai informasi dari satu pihak ke pihak lain, terutama mengenai gagasan dan penemuan baru, unsure budaya fisik baru, nilai baru, hasil ilmu pengetahuan teknologi, dan sebagainya. Menurut David Mc. Clelland, penyebab terjadinya perubahan adalah virus n-ach (need of achievement- hasrat meraih prestasi), melalui buku, berbagai biografi, cerita anak dan sebagainya. Dari berbagai bacaan dan pendidikan modern inilah warga masyarakat memperoleh berbagai ide gagasan, nilai dan keyakinan baru yang mendorong etos kerja keras untuk meraih prestasi. Menurut Soerjono Soekanto, ada dua penyebab utama terjadinya perubahan Sosial, yaitu faktor intern dan ekstern.

1)      Faktor Intern yaitu:

(a)  Bertambahnya atau berkurangnya penduduk.


(b)  Terjadi konflik dalam masyarakat.


(c)  Terjadinya pemberontakan atau revolusi dalam masyarakat.


(d)  Adanya penemuan baru (inovasi) yang meliputi dua proses

(1)    Discovery adalah penemuan baru yang sebelumnya belum ada. Penemuan dalam bentuk discovery biasanya dilakukan di alam terbuka.


(2)    Invention adalah penemuan baru yang sudah dikembangkan lebih lanjut, sehingga masyarakat mengakui, menerima dan menerapkan dalam hidup bermasyarakat. Penemuan dalam bentuk invention biasanya dilakukan di laboratorium.


Penemuan baru tersebut didorong oleh beberapa faktor, yaitu:

(a)  Kesadaran masyarakat atas kekurangannya dalam unsure kebudayan tertentu.


(b)  Kualitas yang tinggi dari para pakar kebudayaan.


(c)  Adanya perangsang atau penghargaan bagi aktivitas penciptaan baru.

Menurut Soerjono Soekanto, penemuan baru akan membawa pengaruh bermacam-macam dalam masyarakat, yaitu:

(a)  Penemuan baru yang pengaruhnya memancarkan ke segala bidang kehidupan.


(b)  Penemuan baru yang pengaruhnya menjalar dari suatu lembaga ke lembaga lainnya.


(c)  Beberapa jenis penemuan baru dapat menimbulkan satu jenis perubahan.


2)      Faktor eksternal, yang meliputi:

(a)  Berubahnya lingkungan alam.


(b)  Peperangan dengan bangsa lain.


(c)  Ngaruh kebudayaan masyarakat lain, biasanya berbentuk difusi, akulturasi dan asimilasi.


Difusi dalam masyarakat

Difusi adalah penyebaran kebudayaan dari masyarakat ke masyarakat lainnya. Difusi yang terjadi di masyarakat dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

·         Difusi Inframasyarkat yaitu penyebaran unsure kebudayaan yang terjadi dalam satu masyarakat. Difusi inframasyarakat dipengaruhi oleh faktor sebagai berikut:

(1)    Adanya pengakuan bahwa unsure tersebut mempunyai kegunaan.


(2)    Ada tidaknya unsure kebudayaan yang mempengaruhinya sehingga mempengaruhi unsure baru tersebut bisa diterima atau tidak.


(3)    Suatu unsure baru yang berlawanan dengan fungsi unsure lama, kemungkinan besar tidak akan diterima.

(4)    Kedudukan dan peranan social dari individu penemu unsure baru mempengaruhi hasil penemuannya itu dengan mudah diterima atau tidak.


(5)    Penguasa membatasi proses difusi tersebut atau tidak.


·         Difusi antarmasyarakat yaitu penyebaran unsure kebudayaan dari masyarakat yang satu ke masyarakat yang lain. Difusi antarmasyarakat biasanya dilakukan dengan cara:

(1)    Penyebaran unsure kebudayaan dari satu tempat ke tampat lainnya yang dilakukan oleh kelompok yang berimigrasi.


(2)    Adanya individu tertentu dari suatu masyarakat yang menyebarkan unsure kebudayaan ke masyarakat lain.


(3)    Penyebaran unsure kebudayaan atas dasar pertemuan antara individu dari masyarakat tertentu dengan individu dari masyarakat yang lain.

Difusi antar masyarakat biasanya dipengaruhi oleh faktor sebagai berikut:

(1)    Adanya kontak antar masyarakat tertentu.


(2)    Kemampuan untuk mendemostrasikan manfaat penemuan baru tersebut.


(3)    Pengakuan akan kegunaan penemuan baru tersebut.


(4)    Ada tidaknya unsure kebudayaan yang menyaingi unsure penemuan baru tersebut.


(5)    Peranan masyarakat yang menyebarkan penemuan baru tersebut.


(6)    Paksaan dapat juga digunakan untuk menerima suatu penemuan baru tersebut.


Difusi yang terjadi di masyarakat biasanya dilakukan dengan cara sebagai berikut:

(1)    Symbiotif yaitu penemuan antara individu dari masyarakat yang satu dengan individu dari masyarakat lainnya tanpa mengubah kebudayaan masing-masing.


(2)    Penetration pasifique yaitu masuknya kebudayaan asing dengan cara damai dan tidak disengaja serta tanpa paksaan. Misalnya penyebaran agama Hindu dan Islam di Indonesia yang dilakukan melalui proses perdagangan.


(3)    Penetration violente yaitu masuknya kebudayaan asing yang dilakukan dengan cara paksaan. Misalnya penyebaran agama Kristen di Indonesia yang dilakukan melalui peperangan dan penjajahan.


(4)    Stimulus diffusion yaitu suatu difusi yang dilakukan melalui serangkaian pertemuan antara suatu deret suku bangsa. Misalnya unsure kebudayaan didifusikan dari suku A ke suku B, suku B ke suku C, suku C ke suku D, demikian seterusnya.

Akulturasi dalam masyarakat

Akulturasi adalah pengambilan kebudayaan asing ke dalam masyarakat sendiri dengan tidak mengubah kepribadian atau budaya dasar dari masyarakat yang bersangkutan.

Bentuk kontak dalam masyarakat yang dapat menimbulkan asimilasi, diantaranya:

(1)    Kontak antara seluruh masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain, atau antara kelompok dari masyarakat yang satu dengan kelompok dari masyarakat yang lain,  atau individu dari masyarakat yang satu dengan individu dari masyarakat yang lain.


(2)    Kontak antara golongan yang bersahabat dengan golongan yang bermusuhan.


(3)    Kontak antara masyarakat yang menguasai dengan masyarakat yang dikuasai secara ekonomi dan politik.


(4)    Kontak antara masyarakat yang sama besarnya atau antara masyarakat yang berbeda besarnya.


(5)    Kontak kebudayaan dapat terjadi antara aspek kebudayaan materiil, antara aspek kebudayaan non materiil, atau antara kebudayaan yang sederhana dengan kebudayaan yang kompleks, dan antara kebudayaan yang kompleks dengan kebudayaan yang kompleks pula.

Unsure kebudayaan yang mudah diterima dalam akulturasi adalah:

(1)    Kebudayaan materiil.


(2)    Teknologi ekonomi yang manfaatnya cepat dapat dirasakan dan mudah dioperasikan.


(3)    Kebudayaan yang mudah disesuaikan dengan kondisi setempat.


(4)    Kebudayaan yang pengaruhnya kecil.

Unsure kebudayaan yang sukar diterima dalam akulturasi adalah:

(1)    Kebudayaan yang mendasari pola piker masyarakat.


(2)    Kebudayaan yang mendasari proses sosialisasi yang sangat meluas dalam kehidupan masyarakat.

Masyarakat yang mudah menerima kebudayaan asing dalam akulturasi adalah:

(1)    Golongan muda yang belum memiliki identitas dan kepribadian yang mantap.


(2)    Kelompok masyarakat yang belum memiliki status penting.


(3)    Kelompok masyarakat yang hidupnya tertekan.


(4)    Kelompok masyarakat yang berjiwa terbuka, dan tidak memiliki prasangka.

Masyarakat yang sukar menerima kebudayaan asing dan akulturasi adalah:

(1)    Golongan tua yang masih terikat tradisi lama.


(2)    Kelompok masyarakat yang hidupnya memiliki status penting.


(3)    Kelompok masyarakat yang memisahkan diri secara ekstrim.


(4)    Kelompok masyarakat yang berjiwa tertutup, penuh prasangka.

Akuturasi dapat terjadi melalui bentuk sebagai berikut:

(1)    Substitusi yaitu unsure kebudayaan yang lama diganti dengan unsure kebudayaan yang baru yang lebih bermanfaat bagi masyarakatnya.


(2)    Sinkritisme yaitu unsure yang lama masih berfungsi dan bercampur dengan unsure baru sehingga membentuk system yang baru.


(3)    Adisi yaitu ditambahkannya unsure baru kepada unsure lama yang masih berlaku.


(4)    Dekulturasi yaitu adanya suatu unsure tertentu yang hilang sebagai akibat penerimaan unsure baru.


(5)    Originasi yaitu masuknya unsure budaya yang sama sekali baru sehingga menimbulkan perubahan yang besar dalam masyarakat.


(6)    Penolakan (rejection) yaitu proses akulturasi yang terlalu cepat atau terlalu dipaksakan sehingga banyak dari anggota masyarakat yang tidak siap menerima perubahan. Akibatnya mereka menolak terjadinya perubahan, baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi. Misalnya melalui gerakan pemberontakan atau gerakan kebangkitan.

Asimilasi dalam masyarakat

Asimilasi adalah kebudayaan setempat membaurkan diri dengan kebudayaan pendatang sehingga kebudayaan setempat lama kelamaan kaburdan seperti lenyap.

Proses asimilasi bisa timbul apabila:

(1)    Terdapat kelompok manusia yang berbeda kebudayaannya.


(2)    Orang perorangan sebagai warga kelompok tadi, saling bergaul secara langsung dan intensif
Dalam jangka waktu yang lama.

(3)    Kelompok manusia tersebut, masing-masing berubah dan saling menyesuaikan diri.

Faktor yang dapat mempermudah terjadinya asimilasi antara lain:

(1)    Adanya sikap toleransi.


(2)    Adanya sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya.


(3)    Adanya persamaan dalam unsure kebudayaan.


(4)    Kesempatan di bidang ekonomi seimbang.


(5)    Adanya sikap terbuka dari golongan penguasa.


(6)    Adanya musuh bersama dari luar.


(7)    Adanya perkawinan campuran.

Sedangan faktor yang menghambat asimilasi antara lain:

(1)    Adanya perbedaan fisik.

(2)    Perbedaan ekstrim dalam latar belakang budaya.


(3)    Adanya prasangka.


(4)    Adanya perasaan superior dari pendukung kebudayaan tertentu yang menganggap kebudayaan kelompok lain lebih rendah.


(5)    Adanya diskriminasi yang dilancarkan oleh pihak penguasa terhadap golongan minoritas.


(6)    Kurangnya pengetahuan suatu golongan terhadap kebudayaan golongan lain.


(7)    Terisolasinya kebudayaan suatu golongan tertentu dalam masyarakat.


b)     Faktor Pendorong, Penghambat dan Dampak Perubahan Sosial


·         Faktor Pendorong Perubahan Sosial

Menurut Soerjono Soekanto:

(1)    Adanya system pendidikan yang maju.


(2)    Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan untuk maju.


(3)    Toleransi terhadap perbuatan menyimpang.


(4)    Penduduk yang heterogen.

(5)    Sistem pelapisan social yang terbuka.

(6)    Ketidakpuasan masyarakat teradap bidang kehidupan tertentu.


(7)    Orientasi ke masa depan dan sikap terbuka terhadap penemuan baru.

Menurut Margono Slamet:

(1)    Ketidakpuasan terhadap situasi yang ada sehingga ingin mengubahnya.

(2)    Adanya pengetahuan tentang perbedaan antara apa yang ada dengan apa yang seharusnya ada.

(3)    Adanya tekanan dari luar (kompetisi, adaptasi dan sebagainya).

(4)    Kebutuhan dari dalam untuk mecapai efisiensi dan peningkatan produksi.


·         Faktor penghambat Perubahan Sosial

Menurut Soerjono Soekanto:

(1)    Kurangnya berhubungan dengan masyarakat lain.


(2)    Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat.


(3)    Sikap masyarakat yang tradisional.

(4)    Vested interest atau kepentingan yang sangat kuat dan tersembunyi.


(5)    Prasangka terhadap hal yang baru.

(6)    Rasa takut akan terjadinya goncangan jika terjadi perubahan.

(7)    Adanya hambatan yang bersifat ideologis.


(B)  Dampak Perubahan Sosial Dalam Masyarakat

I)       Perubahan Sosial Akibat Globalisasi

a)     Pengertian dan Teori Globalisasi. Globalisasi berasal dari kata Globe yang artinya bola dunia atau tiruan bumi. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, Globalisasi diartikan sebagai proses masuknya ke ruang lingkup dunia. Selanjutnya Selo Soemardjan mengatakan bahwa Globalisasi adalah suatu proses terbentuknya system organisasi dan komunikasi antar masyarakat di seluruh dunia. Tujuannya adalah untuk mengikuti system dan kaidah tertentu yangsama. Globalisasi daoat menumbuhkan paham Globalisme, yaitu paham kebijakan nasional yang memperlakukan seluruh dunia sebagai lingkungan yang pantas untuk pengaruh politik.

Selanjutnya Michael Haralambos dan Martin Holborn mengatakan bahwa Globalisasi adalah suatu proses dimana batas Negara luluh dan tidak penting lagi dalam kehidupan social. Berkurangnya arti penting batas Negara antara lain disebabkan:

1)      Kemajuan system komunikasi dan transportasi yang mengakibatkan jarak suatu Negara tidak lagi menjadi penghalang bagi terjadinya interaksi.


2)      Meningkatnya perdagangan internasional yang mendorong terjadi pasar bebas.


3)      Meningkatkan pariwisata yang semakin lebar kehadiran bangsa asing di suatu Negara.

Ahli lain yakni Martin Albrow mengatakan bahwa Globalisasi adalah suatu proses dimana penduduk dunia terinkorporasi (tergabung) ke dalam masyarakat dunia yang tunggal, yaitu masyarakat global. Sementara itu Cohen dan Kennedy berpendapat bahwa Globalisasi adalah seperangkat transformasi yang saling memperkuat dunia yang meliputi hal berikut:

1)      Perubahan dalam konsep ruang dan waktu.


2)      Pasar dan produksi ekonomi di Negara yang berbeda menjadi saling bergantungan.

3)      Peningkatan interaksi cultural melalui perkembangan media masa.

4)      Meningkatkan masalah bersama, misalnya masalah ekonomi, lingkungan, kesehatan, terorisme internasional dan lain-lain.

Selanjutnya Cochrane dan Pain mengatakan bahwa dalam kaitannya dengan Globalisasi, ada tiga teori sebagai berikut:

1)      Golongan Globalis. Mereka berpendapat bahwa Globalisasi adalah konsekuensi nyata dalam kehidupan yang tidak bisa dihindari. Dalam menanggapi Globalisasi ternyata golongan globalisasi terpecah menjadi dua kelompok, yakni:

(a)  Golongan globalis optimis, mereka berpendapat bahwa Globalisasi adalah fenomena positif yang akan menghasilkan masyarakat dunia yang toleran dan bertanggung jawab.

(b)  Golongan globalis pesimistis, mereka berpendapat bahwa Globalisasi adalah fenomena negative karena hal tersebut sebenarnya adalah bentuk penjajahan baru bangsa Eropa terutama Amerika Serikat yang memaksakan bentuk budaya dan ekonomi yang homogeny. Misalnya Mc Donalisasi dan Cocacolanisasi dunia oleh perusahaan Amerika Serikat.


2)      Golongan tradisional, mereka berpendapat bahwa Globalisasi hanyalah suatu mitos semata, jika memang ada terlalu dibesar-besarkan. Globalisasi hanya merupakan kelanjutan dari system kapitalisme dunia yang sudah berlangsung berabad-abad.


3)      Golongan Transformasinalis, mereka berpendapat bahwa Globalisasi memang ada namun tidak perlu dibesar-besarkan dan sangat bodoh jika ada yang berpendapat bahwa globalisasi tidak ada. Globalisasi harus dipahami sebagai seperangkat hubungan yang saling keterkaitan melalui sebuah kekuatan besar yang sebagian besar terjadi secara tidak langsung. Globalisasi harus kita terima sebagai realita tetapi harus bisa kita kendalikan sesuai dengan kemauan kita.


b)     Faktor Pendorong, Saluran dan Pola Hubungan Global

1)      Faktor Pendorong lahirnya Globalisasi. Globalisasi lahir akibat adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi internasional. Faktor ini hanyalah merupakan faktor teknik dan fisik. Adapun faktor lain yang sangat berpengaruh bagi terjadinya perubahan social budaya akibat Globalisasi adalah faktor nilai budaya luar. Faktor nilai budaya luar tersebut tidak lain adalah aspek dari modernisasi, yaitu: rasionalisasi, efiesiensi dan produktivitas, keberanian bersaing, bertanggung jawab, dan keberanian menanggung resiko, senantiasa meningkatkan pengetahuan, patuh pada hukum, kemandirian, kemampuan melihat ke depan, keterbukaan, etos kerja.


2)      Pola hubungan Global. Dalam pergaulan antar Negara di dunia selalu bertolak pada idealism, bahwa semua Negara itu mempunyai kedudukan dan hak sama tanpa mempertimbangkan luas daerah serta kekayaan alam yang dikandungnya. Namun dalam prakteknya tiap Negara memiliki perbedaan yang nyata, dan perbedaan itulah yang nantinya menjadi dasar bagi suatu Negara untuk mempengaruhi tingkah laku pihak lain. Perbedaan yang menjadi dasar hubungan internasional meliputi:

(1)    Pengetahuan, terdiri dari pengetahuan ilmiah dan pengetahuan teknik.


(2)    Kehormatan, yang menyebabkan terjadinya penyesuaian tingkah laku sebagai refrence group atau kelompok atau Negara acuan.


(3)    Posisi yang dicapai yang diakui sebagai posisi yangsah, misalnya posisi menjadi anggota Dewan Kemanan Tetap Perserikatan Bangsa-bangsa.

(4)    Sarana kekuatan militer.


(5)    Sarana kehidupan lain, sarana perekonomian, komunikasi-transportasi, pendidikan, serta peribadatan.


(6)    System organisasi social yang relative stabil.

Adanya perbedaan yang dimiliki tiap Negara mengakibatkan terjadinya pola relasi atau hubungan yang beraneka ragam antar Negara di dunia. Jenkis menyebutkan lima model interaksi antar Negara di dunia yang digambarkan sebagai berikut:

(1)    Pola hubungan system feudal yaitu interaksi antar Negara kuat atau maju dengan Negara lemah atau berkembang.


(2)    Pola hubungan system campuran yaitu interaksi antar Negara dimana tidak ada pola relasi yang dominan di antara Negara tersebut.


(3)    Pola hubungan system kelas yaitu interaksi antar Negara di mana Negara tersebut memiliki kekuatan yang sepadan.

(4)    Pola hubungan system plura yaitu interaksi antar Negara di mana Negara tersebut memiliki persamaan tertentu, seperti persamaan ras, agama, letak geografis, bahasa, ideology dan lain-lain.


(5)    Pola hubungan system egaliter yaitu interaksi antar Negara di mana Negara tersebut memiliki hak dan kewajiban yang sama (sederajat).


3)      Saluran Globalisasi. Dalam era Globalisasi sekarang ini, masyarakat dunia sedang menghadapi tujuan baru yang memukau tetapi juga mengkhawatirkan. Untuk mencapai tujuan baru itu diperlukan saluran (channel) untuk memperlancar proses Globalisasi. Saluran tersebut di antaranya: media masa baik media cetak maupun elektronik, migrasi internasional baik bersifat sementara maupun menetap, pariwisata internasional.



c)     Respon Masyarakat terhadap Globalisasi

1)      Respon para pelaku ekonomi. Globalisasi merupakan tantangan sekaligus peluang. Globalisasi dianggap sebagai tantangan karena mengharuskan mereka lebih kompetitif dalam menghasilkan suatu produk, baik itu dari segi kualitas maupun dari segi harga. Globalisasi mereka anggap sebagai peluang karena akan membuka pasar yang luas bagi produk yang mereka hasilkan.


2)      Respon dari kalangan pemerintah. Globalisasi dipandang sebagai ancaman sekaligus peluang. Dianggap sebagai ancaman karena dapat merongrong Pancasila, Wawasan Nusantara dan melemahkan ketahanan nasional. Sementara dipandang sebagai peluang karena membuka pasar internasional bagi hasil produksi dalam negeri.


II)    Dampak Perubahan Sosial dan Globalisasi

a)     Dampak  Perubahan Sosial dalam Masyarakat. Perubahan social yang terjadi di masyarakat akan membawa 2 dampak atau akibat:

1)      Berakibat positif

(a)  Terjadinya adjustment yaitu keadaan masyarakat yang mampu menyesuaikan diri dengan gerakan perubahan social yang terjadi.


(b)  Terjadinya integrasi social (penyatuan social) yaitu membuat suatu kesatuan atau keseluruhan dari unsure tertentu.

Proses integrasi social dalam hubungannya dengan perubahan social, biasanya dilakukan melalui cara:

(1)    Adopsi yaitu menerima unsure baru sebagai bagian dari system yang sudah ada.


(2)    Revitalisasi yaitu menerima unsure baru yang sudah digunakan untuk menghidupkan atau memberi kekuatan baru bagi perkembangan unsure yang lama.


2)      Berakibat negative

(a)  Terjadinya maladjustment yaitu keadaan masyarakat yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan gerakan perubahan social yang terjadi.


(b)  Terjadinya disintegrasi social yaitu terpecah belahnya suatu kelompok social menjadi unit kecil sehingga kehilangan persatuan serta kepentingan bersamanya.


Selain hal di atas perubahan social juga menimbulkan dampak negative sebagai berikut:

1)      Timbulnya kriminalitas (tindak kejahatan)

a)     White Collar crime yaitu tindakan kejahatan yang dilakukan oleh pekerja kerah putih atau pejabat Negara atau penguasa maupun pengusaha. Contohnya adalah korupsi yang menurut Joei Krieger dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:

(1)    Korupsi eksportif yaitu menyuap kepada penguasa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Misalnya izin usaha, tender proyek, jabatan dan lain-lain.


(2)    Korupsi manipulative yaitu usaha kotor untuk mempengaruhi pejabat Negara pembuat kebijakan atau aturan demi keuntungan diri sendiri.


(3)    Korupsi nepotistic yaitu penguasa yang memberikan perlakuan istimewa kepada sanak saudara. Misalnya pelayanan, fasilitas, promosi dan lain-lain.


b)     Blue collar crime yaitu tindak kejahatan yang dilakukan oleh pekerja kerah biru atau masyarakat pada umumnya. Misalnya pencuri ayam, pencuri radio, pencuri sandal dan sebagainya.


2)      Timbulnya kesenjangan social ekonomi yaitu kondisi dimana terjadi perbedaan yang menyolok antara kelompok yang memiliki tingkat kesejahteraan dan kemakmuran yang tinggi dengan kelompok lain yang rendah. Misalnya terjadinya jurang pemisah si kaya dengan si miskin. Terjadinya kesenjangan social-ekomomi nantinya dapat mengakibatkan timbulnya kecemburuan social, keresahan social bahkan konflik social yang pada akhirnya mengganggu stabilitas nasional.


3)      Timbulnya pencemaran lingkungan hidup sebagai akibat eksploitasi lingkungan yang serampangan tanpa ramah lingkungan. Misalnya pencemaran suara, pencemaran udara, pencemaran air dan tanah, pencemaran hutan.


4)      Dampak lainnya adalah timbulnya kenalkalan remaja, timbulnya urbanisasi sebagai akibat industrialisasi di daerah perkotaan dan lain sebagainya.


b)     Kecenderungan masyarakat yntuk bertahan dan berubah. Unsure budaya yang cenderung dipertahankan, yaitu:

(a)  Unsure yang diperoleh melalui sosialisasi sejak kecil. Misalnya: makanan pokok dan cara makan, bahasa daerah dan agama yang dihayati sejak kecil.


(b)  Sistem kekerabatan yang telah menjadi system nilai budaya yang dijunjung tinggi. Misalnya: system marga bagi Suku Batak dan kesukuan dengan kekerabatan matrineal untuk daerah Minang.


(c)  System religi, agama, upacara ritual dan penghormatan terhadap roh leluhur dan sebagainya. Unsure ini sangat sulit untuk berubah karena menyangkut masalah keimanan dan prinsip hidup.


(d)  SUnsur yang berkaitan dengan ideology Negara dan falsafah hidup bangsa. Contoh Pancasila sebagai falsafah dan ideology Negara akan tetap dipertahankan oleh bangsa Indonesia.


Alesan mengapa budaya dipertahankan, yaitu:

(1)    Kebudayaan itu telah menjadi pedoman hidup bagi warga masyarakat secara turun temurun.

(2)    Kebudayaan itu telah mendatangkan perasaan tentram, bahagia dan rasa persaudaraan di antara warga masyarakat yang mendukung Kebudayaan tersebut.


(3)    Unsure budaya itu telah menjadi landasan dan cara hidup bagi suatu bangsa. Misalnya: pancasila.


(4)    Unsure budaya itu telah menjadi identitas dan system nilai budaya tertinggi bagi suku bangsa tertentu. Misalnya system marga dan kekerabatan patrineal bagi suku Batak (Sumatera Utara).


(5)    Adanya kekhawatiran akan terjadinya disintegrasi atau kegoncangan social jika terjadi perubahan.


Kecenderungan masyarakat untuk mengubah budayanya:

(a)  Rasa tidak puas terhadap situasi social budaya.


(b)  Unsure budaya yang ada kurang berfungsi secara optimal.


(c)  Kesadaran akan kurangnya unsure budaya tertentu.


(d)  Adanya keinginan kuat untuk menyesuaikan dengan perubahan jaman dan kemajuan budaya baru.

(e)  Kebutuhan yang terus bertambah dan beraneka ragam.


(f)    Keterbukaan masyarakat terhadap unsure baru.

(g)  Kebudayaan yang ada telah ketinggalan jaman dan perlu diperbaharui sesuai dengan kemajuan jamannya.


III)  Dampak Globalisasi. Menurut Hadari Nawawi (Guru Besar Universitas Terbuka), globalisasi memiliki aspek positif yangseharusnya dimanfaatkan secara baik oleh manusia. Dampak positif tersebut di antaranya:

(1)    Memacu persaingan atau setidaknya mendorong untuk mewujudkan kehiduan yang semakin baik sebagaimana yang dinikmati manusia di negera industry.


(2)    Mendorong aparatur pemerintah di bidangnya masing-masing untuk melakukan alih ilmu pengetahuan dan teknologi di negara yang lebih sukses dalam mengelola dan mensejahterakan rakyatnya.


(3)    Mendorong terwujudnya sikap toleransi dan solidaritas kemanusiaan secara universal antar berbagai bangsa di dunia. Misalnya terjadi bencana alam di suatu Negara yang disiarkan melalui media ke seluruh dunia dapat menggugah manusia di Negara lain untuk membantu meringankan penderitaannya.


(4)    Mendorong kebersamaan dan kerjasama untuk mengatasi berbagai masalah yang menimpa masyarakat dunia. Misalnya masalah penyakit AIDS/ HIV telah mendorong seluruh Negara di dunia untuk bersama mengatasinya.


(5)    Menumbuhkan sikap terbuka, baik sebagai manusia individu atau kelompok maupun sebagai bangsa atau Negara untuk mengenal dan menghormati kelebihan dan kekuarangna dalam kehidupan manusia sebagai individu atau kelompok maupun sebagai bangsa atau Negara.


Selanjutnya Yad Mulyadi mengatakan bahwa dampak positif globalisasi adalah sebagai berikut:

(1)    Dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi melalui sarana komunikasi seperti radio, televise dan sarana elektronik lainnya, globalisasi dapat mempercepat keberhasilan pembangunan.


(2)    Dalam bidang sumber daya manusia, globalisasi menumbuhkan kinerja berwawasan luas dan beretos kerja tinggi.


(3)    Dalam bidang social budaya, globalisasi dapat menumbuhkan dinamika yang terbuka dan tanggap terhadap unsure pembaharuan yang nantinya dapat memperkaya unsure budaya bangsa.


Selain dampak positif, globalisasi juga menimbulkan dampak negative antara lain:

(1)    Goncangan budaya (cultural shock) yaitu tekanan yang timbul karena seseorang atau kelompok social beralih ke kebudayaan lain sehingga timbul kecanggungan dalam menghadapi pembaharuan. Goncangan kejiwaan ini dapat berupa stress, depresi, frustasi atau gejala kejiwaan yang lain.


(2)    Ketimpangan budaya (cultural lag) yaitu adanya perbedaan mental yang amat jauh antara masyarakat pengguna teknologi dengan perkembangan teknologi atau tertinggalnya perkembangan salah satu unsure kebudayaan dari unsure yang lainnya.


(3)    Masuknya nilai budaya asing yang tidak sejalan bahkan bertentangan dengan nilai luhur budaya bangsa.


IV)   Tantangan bangsa Indonesia dalam merespon globalisasi

a)     Tantangan global terhadap eksistensi jati diri bangsa Indonesia. Globalisasi dapat mengakibatkan masuknya nilai baru atau asing yang tidak sejalan dan bahkan bertentangan dengan nilai luhur budaya bangsa. Nilai tersebut di antaranya:

1)      Konsumerisme yaitu gaya hidup yang menganggap barang mewah sebagai ukuran kehormatan dan kebahagiaan tau disebut juga gaya hidup boros.


2)      Sekularisme yaitu pandangan yang berpendirian bahwa moralitas manusia tidak perlu didasarkan pada ajaran agama tetapi atas dasar kesenangan duniawi.


3)      Hedonisme yaitu pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup.


4)      Pornografi adalah penggambaran tingkah laku secara erotis melalui lukisan, tulisan maupun bacaan yang dirancang untuk membangkitkan nafsu birahi.


5)      Materialisme yaitu pandangan hidup yang segala sesuatunya diukur dari kebendaan atau materi dan lain-lain.

Nilai itu dapat bersumber dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang dihasilkan manusia tetapi dapat juga bersumber pada kepribadian berdasarkan budaya asing, baik masuk melalui Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang canggi maupun melalui pariwisata, atau melalui kontak langsung antara pekerja atau pelajar Indonesia yang ada di luar negeri dengan orang asing atau sebaliknya. Nilai baru itu biasanya lebih mudah mempengaruhi generasi muda daripada generasi tua. Generasi muda yang dalam pembentukan kepribadiannya belum memiliki pegangan yang kuat dalam menghayati dan mengamalkan nilai di dalam kepribadian berdasarkan pandangan hidup bangsanya akan menjadi labil dan goyah.  Pada akhirnya kecintaan terhadap bangsa dan tanah air Indonesia akan menjadi luntur, mereka lebih mencintai budaya dan symbol Negara asing ketimbang budaya dan symbol Negara sendiri. Jika hal ini terjadi tentu saja akan membahayakan terhadap eksistensi jati diri sebagai bangsa Indonesia.


b)     Gagasan untuk mengatasi memudarnya jati diri bangsa

·         Menurut Robertson sebenarnya apa yang kita pilih dari hal yang bersifat global hanyalah apa yang menyenangkan kita dan kemudian mengubah sehingga hal tersebut beradaptasi dan sesuai dengan budaya dan kebutuhan local. Ia menyebut hal ini sebagai “glokalisasi” yaitu masyarakat local menangkap pengaruh global tetapi mengubahnya menjadi sesuatu yang cocok dan dapat diterima oleh selera local. Pendapat Robertson adalah sejalan dengan pendapat Thomas L. Friedman yang mengatakan bahwa salah satu strategi untuk mengarungi globalisasi terletak pada “Kearifan Lokal” yang disebut “Local Genius”, yaitu kepandaian bangsa Indonesia untuk menerima segala bentuk budaya asing yang kemudian disesuaikan dengan kepribadian bangsa Indonesia sendiri.


·         Menurut Cohen dan Kennedy strategi untuk mengarungi globalisasi bisa dilakukan dengan cara “Kreolisasi” yaitu mencampurkan berbagai unsure global untuk menghasilkan penemuan baru dari hasil penggabungan tersebut. Misalnya beberapa music dunia mencampurkan beat tarian barat dengan gaya tradisional dari Afrika Utara dan Asia.


·         Hadari Nawawi mengatakan bahwa untuk menangkal dampak negative globalisasi setidaknya ada  dua cara yang harus dilakukan, yaitu;


(1)    Langkah Preventif (pencegahan). Langkah preventif harus dilakukan sejak dini atau sejak setiap warga Negara berada pada masa kanak-kanak melalui pendidikan keluarga. Langkah ini pada dasarnya menumbuhkan kecintaan pada bangsa dan Negara sebagaimana terungkap dalam peribahasa “Righ or wrong may country” yang artinya benar atau salah adalah negaraku.


(2)    Langkah represif (penanggulangan). Langkah represif bisa dilakukan melalui consensus nasional. Langkah ini harus dimulai dari keluarga, orang tua dan semua orang dewasa harus senada dalam mengatur anak-anaknya yang belum dewasa dalam menonton televise, mempergunakan video kaset dan lain-lain. Pengaturan ini harus diiringi dengan pengawasan yang ketat dan konsekuen


Pada giliran berikutnya adalah masyarakat sepatutnya harus ikut mengambil langkah serupa, baik diatur dan dilarang maupun tidak oleh pemerintah. Keikut sertaan masyarakat antara lain dengan tidak mempergunakan teknologi canggih untuk merusak generasi muda dnegna tidak menyediakan tontonan atau secara ketat melarang menonton sesuatu yang tidak sesuai dnegan usianya. Anggota masyarakat sepatutnya menahan diri untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan mengorbankan dan merusak perkembangan generasi muda.

Dalam keadaan anggota masyarakat tidak seluruhnya memiliki kesadaran untuk membatasi diri maka pemerintah harus berusaha menjalankan peranannya secara sungguh-sunggu dan ketat. Pengawasan terhadap tempat hiburan yang terbuka untuk umum yang disediakan untuk orang dewasa, sepatutnya pihak berwenang melakukan usaha pencegahan generasi muda yang bermaksud ikut menikmatinya. Tempat-tempat hiburan yang memperjualbelikan, menyewakan atau mempertontonkan segara sesuatu yang merusak generasi muda, sepatutnya ditindak. Untuk itu diperlukan perangkat hukum yang dapat menjatuhkan hukuman yang membuat takut dan jera bagi pihak yang melanggarnya.

Selain itu petugas pemerintah hendaklah menyadari pentingnya melakukan pengawasan dan tindakan keras, menghindari kerjasama atau menjadi backing pihak pelaku yang memanfaatkan teknologi canggih untuk merusak generasi muda. Oleh karena itu petugas yang terlibat sepatutnya juga diberikan sanksi atau hukuman yang keras.

IN ENGLISH (with google translate Indonesian-english):

Social Change and its Impact on Community Life
(Source: Ali, Nur.Modul Sosiologi.Ponorogo Instructional Materials: Gandini.)
(A) Social Change in society
I) Understanding Social Change:
 social changes are changes that occur continuously in the community.

 According Soemarjan Selo, social change is any change in the social institution in society that affect the social system.

 According to Kingley Davis, social change is a change in the structure and functioning of communities.

 According to Samuel Koening, social change is a modification that occurs in the pattern of human life.

 According to J.P. Gillin and JL. Gillin, social change is a variation of the way of life that has been received.
Based on the opinions of experts it can be concluded that social change is a situation where there is a discrepancy between the elements that differ from each other that exist in social life so as to produce a pattern of life that does not match function for the community. In the social changes, the changes are:
1) social structure, such as the structure of the social groups, social organizations, social agencies and others.

2) The pattern of social relations, such as the changing pattern of relationships or patterns of social interaction between individuals or groups of individuals or groups to each other.

Social changes in the community will soon be known as the change has the following characteristics:
1) None of the stagnant (stop changing).

2) Any change in a particular social institution will be followed by other social institutions.

3) changes too fast and people are not ready can lead to social disintegration.

4) Changes can not be isolated on the material aspect or spiriutual course, because the two are closely linked.

5) People tend to be dynamic or likely to change.

II) Differences of Social Change to Change Culture
 According Soerjono Soekanto, change culture (culture change) is the changes that occur in human civilization.

 According Ariyono Suyono, change culture (culture change) is a certain cultural change due to the process of shifting, subtraction, addition and development of elements in it because it is often the interaction with people of other cultures support, so as to create a new cultural elements through all adjustments to elements of earlier cultures.
Changes in culture can also be interpreted as a situation where there is a discrepancy between the different elements of culture to produce a state that does not match function for life. In a change of culture change is that elements of culture, can be shaped shift, subtraction, addition, the development of even disappear altogether and replaced with a new one. Cultural elements include: language systems, system knowledge, systems of social organization, system technology, livelihood system life, system of religion, arts system.The seven elements are by Ralph Linton divided into two parts:
1) The core culture (covert culture), which are non-material culture.The core of this culture include: system of cultural values, religious beliefs are considered sacred, customs learned early in the socialization process of individuals as citizens, some peoples who have netted wide functions (set) in the community.

2) The realization lahiriyah culture (overt culture) which is material culture. Shape in the form of useful tools or objects, science, language, technology and others.
According to Ralph Linton, cultural experience in the form of the core culture of inaction or very difficult to change, whereas lahiriyah culture that is very easy for even very quick to change.
In addition, social change basically is closely related to cultural change. Kingley According to Davis, the relationship between changes sosialdalam cultural changes are as follows:
1) social change is part of the culture change. So the wider cultural change in the scope of social change.

2) Change the culture often affect social change. Example: if a state law essentially change then that change will affect social institutions, ways of interacting social and others. Despite the cultural changes often affect social change, but sometimes a change of culture did not affect social change. Example: change the culture, change the type of clothing did not affect changes in social structures and social relations in the community.

3) Social change does not exist or occur without preceded by a change in culture.

Although in theory and analysis of social change and cultural change can be formulated, but in actual practice in the community is very difficult to separate, because they have the same aspect, which both concerned with an acceptance or a new way of improving the communities in meeting their needs, both also bound by time and place. Besides the reality that happens no society that does not have a culture, and vice versa will not be formed in the absence of a cultural community. Therefore, although theoretically the change of social and cultural change can be formulated, but in everyday life is very difficult to separate.


III) form of social change

a) The theory of evolution is that social change occurs slowly in time yanglama. The theory of evolution can be divided into:
(1) Theory Unilinier, character: Auguste Comte, Herbert Spencer and Lewis Henry Morgan. His opinion: society and culture evolved through certain stages, starting from the stage of simple, complex reached the stage of perfection.

(2) Universal Theory, characters: Herbert Spencer with his theory called the Law of Progress. His opinion: society and culture should not breed through certain stages that remain, but grow from homogeneous to heterogeneous.

(3) Theory Multiliner, character: Emile Durkheim. Opinions; society and culture are not always developed through certain stages of the same but sometimes do not go through the same stages.

b) Cycle Theory
Characters: Vilfredo Pareto with the theory "cyclical Theoritiss".
His opinion: society and culture has such lingakaran stages of development, in which a particular stage can be traversed repeatedly. Cycle theory is also supported by the following theory.
1) Oswald Spengleer: society and culture evolved through three stages are repeated, the process of birth, growth and collapse.

2) Arnold Toynbee: theory known as the "Challenge and Response".According to society and culture evolved through the cycle of birth, growth, collapse and death.

3) Pitirim A. Sorokin; theory known as "Social Dynamics and Culture". According to the society and culture evolved through three phases carried out repeatedly, namely: stage confidence, stage and phase of the truth of human senses.

c) Theory of Change Sooner or Revolution
Character is Karl Marx. His opinion: society and culture grow rapidly in a short time relating to all aspects of human life. Implementation of the revolution can be divided into two forms, namely:
1) non-violent revolution that preceded the revolution without rebellion and bloodshed. For example: the industrial revolution and social revolution in England.

2) a violent revolution is the revolution that preceded the rebellion and bloodshed. Example: August 17, 1945 revolution, the French revolution, revolution, Russia and others.
According Soerjono Soekanto, sociological order for a revolution to occur, it must meet the following requirements:
1) There should be a common desire to bring about change in society.

2) There was dissatisfaction with the situation and have no desire to make amends by making the change.

3) The existence of a leader or a group of people who are considered able to lead the community.

4) The leader must be able to demonstrate a concrete purpose to society.

5) The leader must be able to accommodate people's desire to be the program of the revolution.

6) There should be a momentum to start the revolution, that is the time when all the circumstances and factors is appropriate to start a revolution.

d) Changes in progress and Recourse
1) Progress is change brings progress on people's lives. For example, rural electrification, 9-year compulsory education program and others.

2) Recourse is a change that brought a setback for people in certain areas of life. For example: the mechanization of agriculture will be able to diminish or eliminate the system of mutual aid farming community.

e) Changes that affect small and large impact

1) Change the small effect is less significant changes that affect the community as a whole. For example, changes in fashion clothing.

2) Change the huge influence the changes that affect community life can even burst the balance system, such as changes in the system of government from absolute to the democratic system.

f) Change the desired or planned and unwanted changes or unplanned
1) Change the desired changes predicted in advance by the parties make changes. For example, the Family Planning (KB) to reduce the rate of population growth.

2) Change the undesirable changes that took place outside estimates or community outreach. For example, misuse of contraceptives in family planning program (KB).

g) Changes in the structure and process changes
1) Changes in the structure is a fundamental change that causes the reorganization of society. Example: the change from traditional farming tools lat kea modern and sophisticated, this is not a change in the technological system, but also change the system of mutual aid societies, breeding system and the system of public knowledge of the technology.

2) The change process is that nature does not fundamentally change, the change is only a refinement of the previous changes.Example: the 2004 curriculum changes to the curriculum in 2006 that are just sheer perfection.

IV) Causes, driving and inhibiting social change

a) The cause of social change. According to L. Alfin Bertrand, the main cause of the change is communication, because in it there is the delivery of information from one party to the other party, especially regarding ideas and new discoveries, new elements of physical culture, a new value, the results of science technology, and so on. According to David Mc. Clelland, the cause of the change is a virus n-ach (need of achievement-achievement desire), through books, biographies, children's stories, and so on. From the various readings and modern education is the community gain ideas ideas, values ​​and beliefs that encourage hard work ethic to achievement.According Soerjono Soekanto, there are two main causes of social change, the internal and external factors.
1) Internal factors are:
(A) The increase or decrease in population.

(B) There is a conflict in the community.

(C) The occurrence of rebellion or revolution in society.

(D) There is a new invention (innovation) which includes two processes
(1) Discovery is a novel finding that has not previously existed. The findings in the form of discovery is usually done in the open.

(2) Invention is a new discovery that has been developed further, so that people recognize, accept and implement in their society. The findings in the form of invention is usually carried out in the laboratory.

The new findings are being driven by several factors, namely:
(A) Public awareness on the lack of a specific cultural elements.

(B) the high quality of cultural experts.

(C) The inducement or reward for the creation of new activities.
According Soerjono Soekanto, new discoveries will bring diverse influences in society, namely:
(A) new findings influence radiate in all areas of life.

(B) new findings influence spread from one institution to institution.

(C) Some kind of new discovery could lead to one kind of change.

2) external factors, which include:
(A) The change in the natural environment.

(B) The war with other nations.

(C) the influence of other cultures, usually in the form of diffusion, acculturation and assimilation.

Diffusion in the community
Diffusion is the spread of the culture of the community to other communities. Diffusion happens in society can be divided into two kinds, namely:
• Diffusion Inframasyarkat the spread of cultural elements that occur in a community. Diffusion inframasyarakat influenced by the following factors:
(1) There is the recognition that the element has a purpose.

(2) Whether or not the cultural elements that influence affecting the new elements can be accepted or not.

(3) A new element that goes contrary to the elements of the old, most likely will not be accepted.
(4) The status and role of individual inventors social elements influence the results of his discoveries were easily accepted.

(5) Authority to limit the diffusion process or not.

• Diffusion is the spread of inter-cultural elements from one society to another society. Diffusion between communities is usually done by:
(1) The spread of cultural elements from one place to another tampat by immigrating groups.

(2) The existence of a specific individual of a society that deploys elements of culture to other communities.

(3) The spread of cultural elements on the basis of a meeting between the individuals of a particular society with individuals from other communities.
Diffusion between communities are usually influenced by the following factors:
(1) The contact between certain communities.

(2) The ability to demonstrate the benefits of the new discovery.

(3) The recognition of the usefulness of the new invention.

(4) Whether or not the elements of culture that rivals the discovery of new elements.

(5) The role of the people who spread these new discoveries.

(6) Coercion can also be used to receive a new discovery.

Diffusion happens in society is usually done in the following way:
(1) the discovery Symbiotif between individuals of one society with individuals from other communities without changing their respective cultures.

(2) Penetration pasifique the entry of foreign cultures in a peaceful manner and unintentional and without coercion. For example, the spread of Hinduism and Islam in Indonesia is done through the trading process.

(3) Penetration Violente the entry of foreign cultures is done by force. For example, the spread of Christianity in Indonesia are carried out through war and colonization.

(4) Stimulus diffusion is a diffusion which is done through a series of meetings between a series of tribes. For example, cultural elements diffused from tribe to tribe B A, B tribe to tribe C, C tribe to tribe D, and so on.
Acculturation in the community
Acculturation is the decision of foreign cultures into their own communities with no change in personality or cultural foundation of the society concerned.
Form of contact in the community that could lead to assimilation, including:
(1) The contact between the entire community that one society to another, or between one group of people by another group of people, or individuals from the community with individuals from other communities.

(2) The contact between the groups friendly to hostile groups.

(3) Contacts between people who control a society dominated economically and politically.

(4) contact between people of the same magnitude or between people of different magnitude.

(5) cultural contact may occur between the aspects of material culture, the non-material aspects of culture, or the culture with the culture of the complex simple and the complex culture with the culture of the complex as well.
Cultural elements are readily accepted in acculturation are:
(1) material culture.

(2) economic benefits technology can quickly be perceived and easy to operate.

(3) Cultural easily adapted to local conditions.

(4) Culture little effect.
Cultural elements which are difficult to be accepted in the acculturation are:
(1) Culture people think the underlying pattern.

(2) Culture underlying socialization process is very widespread in society.
People who easily accept foreign culture in the acculturation are:
(1) Young Group does not have a solid identity and personality.

(2) group of people who do not have a significant status.

(3) group of people whose lives are depressed.

(4) an open-minded group of people, and have no prejudices.
Communities that receive foreign culture is difficult and acculturation are:
(1) class of parents who are still bound old tradition.

(2) Groups of people whose lives have an important status.

(3) the group that broke away in the extreme.

(4) Group closed-minded society, prejudice.
Akuturasi can occur through the following forms:
(1) Substitution of the cultural element is replaced by a new cultural elements are more beneficial to society.

(2) the syncretism of the old elements are still functioning and mixed with new elements to form a new system.

(3) Addition of new elements are added to the elements longer valid.

(4) the existence of an element Dekulturasi certain revenue lost as a result of new elements.

(5) the inclusion of elements of Origination is a completely new culture, causing profound changes in society.

(6) rejection (rejection) which is a process of acculturation that are too fast or too forced so many of the people who are not ready to accept the changes. As a result, they reject the change, either overtly or covertly. For example, through the rise of insurgency or movement.
Assimilation in the community
Assimilation is a blend of local culture to the culture of immigrants so that local culture such kaburdan gradually disappeared.
The process of assimilation can occur when:
(1) There is a group of people of different cultures.

(2) An individual as a citizen of the taxa, mingle with each other directly and intensively In the long term.
(3) the human group, each change and adapt to each other.
Factors that may facilitate the assimilation among others:
(1) The existence of tolerance.

(2) The existence of respect for foreigners and their cultures.

(3) The equation of the elements of culture.

(4) opportunities in the economic balance.

(5) The open attitude of the ruling class.

(6) The existence of a common enemy from outside.

(7) The existence of mixed marriages.
Sedangan factors that inhibit the assimilation among others:
(1) The existence of physical differences.
(2) the extreme differences in cultural background.

(3) The existence of prejudice.

(4) The existence of a superior sense of supporting a particular culture that considers the culture of other groups lower.

(5) The existence of discrimination that was launched by the authorities against minorities.

(6) Lack of knowledge of a cultural group to another group.

(7) Isolation of the culture of a particular group in society.

b) Incentives, Obstacles and the Impact of Social Change

• Incentives for Social Change
According Soerjono Soekanto:
(1) The existence of an advanced education system.

(2) Respect a person's work and a desire to move forward.

(3) Tolerance to perversity.

(4) a heterogeneous population.
(5) open social coating system.
(6) dissatisfaction teradap certain areas of life.

(7) Orientation to the future and be open to new discoveries.
According Margono Slamet:
(1) dissatisfaction with the existing situation to want to change.
(2) The knowledge of the difference between what is to what ought to exist.
(3) There is pressure from outside (competition, adaptation, and so on).
(4) The need of the for mecapai efficiency and increased production.

• Limiting Factors of Social Change
According Soerjono Soekanto:
(1) Lack of dealing with other people.

(2) The development of science of late.

(3) The attitude of the traditional society.
(4) Vested interest or the interests of a very powerful and hidden.

(5) The prejudice against anything new.
(6) The fear of the shock in the event of a change.
(7) The ideological barriers.

(B) Impact of Social Change in Society
I) Social Change Due to Globalization
a) Definition and Theory of Globalization. Globalization comes from the word meaning Globe globes or artificial earth. In the dictionary of Indonesian language, globalization is defined as the process of entry into the scope of the world. Furthermore Selo Soemardjan say that globalization is a process of formation of system of organization and communication between people around the world.The goal is to follow the system and certain rules yangsama.Globalism Globalization daoat foster understanding, ie understanding of national policy that treats the whole world as an appropriate environment for political influence.
Furthermore, Michael Haralambos and Martin Holborn said that globalization is a process whereby national borders melt and no longer important in the social life. The reduced importance of national borders, among others due to:
1) Progress of communication and transport system resulting in a distance of a state is no longer a barrier for the interaction.

2) Increased international trade that encourages free markets occurs.

3) Improve the wide presence of tourism in a country foreign nations.
Other experts say that Martin Albrow Globalization is a process by which the world's population incorporated (fused) into a single world society, the global society. Meanwhile, Cohen and Kennedy found Globalization is a set of mutually reinforcing transformations the world which include the following:
1) Changes in the concept of space and time.

2) Market and economic production in different countries become interdependent.
3) Increasing cultural interaction through the development of the mass media.
4) Improve joint problems, such as the economy, environment, health, international terrorism, and others.
Furthermore, Cochrane and Pain said that in relation to globalization, there are three theories as follows:
1) Group Globalist. They argue that globalization is real consequences in life that can not be avoided. In response to globalization globalization group apparently split into two groups, namely:
(A) Group globalist optimistic, they argue that globalization is a positive phenomenon that will result in the world community that is tolerant and responsible.
(B) Group pessimistic globalists, they argue that globalization is a negative phenomenon because it is actually a new form of European colonialism, especially the United States imposing economic and cultural form homogeneous. For example Mc Donalisasi and Cocacolanisasi world by U.S. companies.

2) Traditional Group, they argue that globalization is a myth, if there is exaggerated. Globalization is just a continuation of the capitalist world system that had lasted for centuries.

3) Group Transformasinalis, they argue that globalization does exist but does not need to be exaggerated and extremely foolish if one argues that globalization does not exist. Globalization should be understood as a set of relationships through the interplay of a large force that occurs mostly indirectly. Globalization must be accepted as a reality but we should be able to control according to our will.

b) Incentives, Channels and Patterns of Global Relations
1) Incentives birth of Globalization. Globalization was born as a result of the development of science and technology for international communication. This factor is a factor and physical techniques. The other factors are very influential for social change due to globalization of culture is a factor of the value of foreign cultures.Factors beyond cultural values ​​is nothing but the aspect of modernization, namely: rationalization, efiesiensi and productivity, competitive courage, responsibility, and courage to risk, constantly improve the knowledge, law-abiding, self-reliance, the ability to look ahead, openness, work ethic .

2) Global Patterns of relationship. In the interaction between countries in the world is always contrary to the idealism, that all States that have the same status and rights without considering the wider area as well as natural resources they contain. However, in practice, each State has a real difference, and the differences that will become the basis for a State to influence the behavior of others.The difference is the basis of international relations include:
(1) Knowledge, consisting of scientific and engineering knowledge.

(2) The honor, which led to the adjustment of behavior as refrence group or a group or a State reference.

(3) achieved a recognized position as a position yangsah, such as the position of a member of the Security Council of the United Nations Permanent.
(4) Means of military force.

(5) Means of another life, a means of economy, transport-communication, education, and worship.

(6) system of social organization is relatively stable.
The discrepancies are owned by the State resulted in the pattern of the relationship between the diverse countries in the world. Jenkis mentions five models of interaction between countries in the world are described as follows:
(1) The pattern of relationships feudal system that is strong interaction between the State or State advanced with weak or developing.

(2) The pattern correlation system that is a mixture of interaction between countries where there is no dominant pattern of relations between the State.

(3) The pattern of class relations system is the interaction between the State in which the State has powers equivalent.
(4) The pattern of relationships plura system is the interaction between the State in which the State has certain similarities, such as racial equality, religion, geography, language, ideology, and others.

(5) The pattern of relationships that egalitarian system of interaction between countries in which the State has the right and obligation of the same (or equivalent).

3) Channels Globalization. In today's era of globalization, the world is facing a stunning new destination but also worrying. To achieve this goal it is necessary new channels (channel) to expedite the process of globalization. The channels include: media both print and electronic media, both international migration is temporary or settled, international tourism.


c) Community Response to Globalization
1) The response of economic actors. Globalization is a challenge and an opportunity. Globalization is seen as a challenge because it requires them more competitive in producing a product, both in terms of quality and in terms of price. They perceive globalization as an opportunity because it opens up a vast market for their products.

2) The response from the government. Globalization is seen as a threat and an opportunity. Perceived as a threat because it can undermine the Pancasila, the Archipelago and weaken national security. While seen as an opportunity for opening up international markets for domestic products.

II) Impact of Social Change and Globalization
a) Impact of Social Change in Society. Social changes that occur in the community will bring second impact or effect:
1) positive Influx Affects
(A) The occurrence of adjustment that is the state of society that is able to adapt to the movement of social change happens.

(B) The occurrence of social integration (social pooling) is making a whole or the entirety of a particular element.
The process of social integration in relation to social change, is usually done by means of:
(1) Adoption of receiving new elements as part of an existing system.

(2) Revitalization of receiving a new element that is used to turn on or give new strength to the development of the old elements.

2) Influx Affects negative
(A) The occurrence of maladjustment, namely the state of society who are unable to adjust to the movement of social change happens.

(B) The occurrence of social disintegration that is split up of a social group into smaller units so that the loss of unity and interests with him.

In addition to the above changes are also social negative impacts as follows:
1) The incidence of crime (crime)
a) White Collar crime is a crime committed by white collar workers or state officials or authorities and employers. An example is the corruption which, according to Krieger Joei divided into three kinds, namely:
(1) Corruption eksportif the bribe to the authorities to get something to be desired. For example, a business license, tender projects, offices and others.

(2) Corruption manipulative namely gross state officials to influence policy makers or the rules for their own advantage.

(3) Corruption nepotistic ruling that gives preferential treatment to relatives. For example, services, facilities, and other promotions.

b) Blue collar crime is a crime committed by blue collar workers and the general public. For example, the chicken thief, thief radio, burglar slippers and so on.

2) The emergence of socio-economic inequality is the condition where there is a striking difference between those who have the welfare and prosperity of other groups with high levels. For example, the gap the rich to the poor. Social disparities-ekomomi can later lead to the emergence of social jealousy, social unrest and even conflict that ultimately disrupt social stability.

3) The emergence of environmental pollution as a result of the reckless exploitation of the environment without environmentally friendly. For example, noise pollution, air pollution, water pollution and soil pollution forest.

4) Another effect is the emergence kenalkalan adolescents, the onset of urbanization as a result of industrialization in the urban areas and so forth.

b) the tendency yntuk survive and change. Cultural elements that tend to be maintained, namely:
(A) Unsure acquired through socialization from childhood. For example: staple foods and how to eat, local languages ​​and religions lived since childhood.

(B) kinship systems that have a cultural value system upheld. For example: the clan system for the Batak tribe and tribal kinship matrineal for local Minang.

(C) System of religion, religious, ritual and respect for ancestral spirits and so forth. This element is very difficult to change because it involves matters of faith and life principles.

(D) SUnsur related to state ideology and philosophy of life of the nation. Examples of Pancasila as the state ideology and philosophy will be maintained by the people of Indonesia.

Alesan why the culture is maintained, namely:
(1) Culture has become a way of life for the citizens of the community for generations.
(2) Culture has brought a feeling of peace, happiness and a sense of brotherhood among the citizens who support the culture.

(3) Unsure culture that has been the foundation and the way of life for a nation. For example: Pancasila.

(4) Unsure cultural identity and it has become the highest cultural value system for certain tribes. For example, clan and kinship system patrineal for the Batak (North Sumatra).

(5) The fears of disintegration or social upheavals if there is a change.

Tendency for people to change the culture:
(A) Pain is not satisfied with the situation of social culture.

(B) there is less cultural Unsure function optimally.

(C) Awareness of the lack of specific cultural elements.

(D) There is a strong desire to adapt to changing times and new cultural advancement.
(E) The needs of a growing and diverse.

(F) Disclosure of the elements of the new society.
(G) Cultural existing outdated and need to be updated as to the progress of his era.

III) Impact of Globalization. According Hadari Nawawi (Open University Professors), globalization has positive aspects ought to be utilized by both men. The positive impacts include:
(1) Encourage competition or at least encouraging to realize that the better kehiduan as those enjoyed by men in the country industry.

(2) Encourage government officials in their respective fields to do the transfer of science and technology in the country are more successful in managing and welfare of its people.

(3) Encourage the establishment of tolerance and universal human solidarity among the various nations of the world. For example, a natural disaster occurs in a country which was broadcast through the media throughout the world to inspire people in other countries to help alleviate suffering.

(4) To encourage togetherness and cooperation to address the various issues affecting the global community. For example, the problem of AIDS / HIV has encouraged all countries in the world to overcome.

(5) Promoting openness, both as an individual person or a group or as a nation or state to recognize and honor the strengths and kekuarangna in people's lives as individuals or groups, or as a nation or state.

Furthermore Yad Mulyadi said that the positive impact of globalization is as follows:
(1) In the field of science and technology through a means of communication such as radio, television and other electronic means, to accelerate the successful development of globalization.

(2) In the field of human resources, globalization fosters insightful performance and high work ethic.

(3) In the field of social cultural dynamics of globalization can foster an open and responsive to the elements of reform that would enrich the nation's cultural elements.

In addition to the positive impacts, negative impacts of globalization also include:
(1) culture shock (cultural shock) is the pressure arising from a person or social group to switch to another culture so that the resulting awkwardness in the face of reform. Mental shock may include stress, depression, frustration or other psychiatric symptoms.

(2) Inequality culture (cultural lag) that is the mental differences between the user community is very much technology with the development of technology or lagging development of one of the elements of the elements of the other culture.

(3) The entry of foreign cultural values ​​that are inconsistent and even contrary to the noble cultural values ​​of the nation.

IV) of Indonesia in responding to the challenges of globalization
a) The global challenge to the existence of Indonesian national identity. Globalisation may lead to the entry of a new value or foreign inconsistent and even contrary to the noble cultural values ​​of the nation. The values ​​include:
1) Consumerism is considered a lifestyle of luxury goods as a measure of honor and happiness called tau extravagant lifestyle.

2) Secularism is the view which holds that human morality is not necessarily based on religion but on the basis of worldly pleasures.

3) Hedonism is a way of life that assumes that the material pleasures of life is the main goal.

4) Pornography is the depiction of erotic behavior through painting, writing and reading designed to arouse lust.

5) Materialism is a way of life in which everything is measured from the material or materials and others.
That value can be sourced from the Science and Technology (Science and Technology) which is produced by humans but can also be derived based on the personality of a foreign culture, whether entered through Science and Technology (Science and Technology) is sophisticated and through tourism, or through direct contact between workers or students Indonesia who is overseas with strangers or otherwise. The new value is usually easier to influence the younger generation than the older generation. Young generation in shaping his personality does not have a strong grip appreciate and practice the value in the nation's personality based outlook on life will be unstable and wobbly. In the end the love for the nation and the homeland of Indonesia will be washed out, they love the culture and the foreign country rather than cultural symbol and symbol of the State itself. If this happens, of course would jeopardize the existence of identity as a nation of Indonesia.

b) The idea to fix blurry national identity
• According to Robertson actually what we choose from the global nature only what pleases us, and then change it so it is adaptable and appropriate to the local culture and needs. He refers to this as "glocalization" is the local capture global influences but turn it into something suitable and acceptable to local tastes. Opinion Robertson is in line with the opinion of Thomas L. Friedman said that one strategy to navigate the globalization lies in the "Local Wisdom" called "Local Genius", the cleverness of Indonesia to accept any form of foreign cultures were then tailored to the personality of the Indonesian nation itself.

• According to Cohen and Kennedy strategy to wade through globalization can be done by "Kreolisasi" ie mixing various global elements to produce new discoveries from the merger. For example, some world music mixing dance beats with traditional style of western North Africa and Asia.

• Hadari Nawawi said that to counteract the negative effects of globalization, there are at least two ways to do, namely;

(1) Preventive Steps (prevention). Preventive measures should be done early or since every citizen is at childhood through family education. This step basically fosters a love of the nation and the state, as expressed in the proverb "may Righ or wrong country" which means right or wrong is my country.

(2) Step repressive (countermeasures). Repressive measures can be done through national consensus. This step should start from the family, parents and all adults should tune in regulating their children who are minors in watching television, using video tapes and more.It should be accompanied by close monitoring and consequent

At the next turn is the fitting should come take similar steps, both regulated and banned by the government or not. Community participation, among others by not using advanced technology to destroy the young generation does not provide a spectacle or dnegna strictly prohibit watching something that does not fit her age circuitry. Community members should resist the urge to gain maximum profit at the expense of young people and damaging development.
In the state of community members do not all have the self-awareness to limit the government should strive to play its role vigorously and strictly Sunggu. Supervision of entertainment that is open to the public are reserved for adults, authorities should undertake efforts to prevent young people who mean to enjoy it.Places of entertainment were traded, leased or to show something soon destroy the young generation, should be followed. It is necessary for the law to impose punishment and deterrent to scare those who break them.
Besides government officials ought to recognize the importance of monitoring and crackdown, cooperation or to avoid backing the perpetrators who use advanced technology to destroy the young generation. Therefore the officers involved should also be given harsh sanctions or penalties. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar