Mengetahui tentang Pelourinho, Brasil/ Knowing about the Pelourinho, Brazil FOR GENERAL GENERAL

Mengetahui tentang Pelourinho, Brasil

(Sumber: Subagiyo, Dani Nur.2013. Spanyol Gol, Olodum Berhenti. Surabaya: Jawa Pos Edisi Selasa 25 Juni 2013.)

          Nonton bareng di Pelourinho memberi kesempatan mengenal budaya Brasil. Pengamanannya ketat karena berbarengan dengan maraknya aksi demonstran.

          Dua remaja dengan gaya rambut dreadlock atau gimbal memanjang tengah asyik memukul conga. Sementara itu, seorang remaja lainnya yang mengenakan T-shirt warna komniasi merah-kuning-hijau memainakn perkusi. Yang mendengarkan kali pertama mungkin akan menebak mereka tengah memainkan musing reggae. Ykni, genre music yang dipopulerkan Bob Marley dari Jamaika. “Ini bukan reggae seperti itu, ini adalah olodum,” ucap Pedro Lopes Britu, 17, remaja yang memegang perkusi. Dari Google diketahui bahwa Olodum awalnya adalah sebuah nama grup music tradisional dari Salvador. Pendirinya adalah Neguinho do Samba sekaligus pemain perkusi Olodum. Tapi, setelah Neguinho meninggal tiga tahun lalu, olodum kemudian lebih diidentikan dengan music bernama samba reggae. Nama Neguinho pun dkenal sebagai ayah music samba reggae. Olodum sering dimainkan anak muda dan menjadi bagian pertunjukan dalam acara karnaval maupun festival di Brasil. Misalnya, yang dilakukan Pedro dan temannya yang menjadi pengisi acara nonton bareng (nobar) di Pelourinho, tempat wisata berupa kota tua di sebelah selatan Salvador.

          Pelourinho adalah kota yang berdiri sejak masa penjajahan Portugis. Sejak 1985 kota yang terdiri atas Sembilan ruas jalan itu dimasukkan ke situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Pedro yang tergabung dalam grup bernama Trio de Forro itu tampil di atas panggung dengan sebelah kanan dan kirinya adalah layar lebar untuk nobar. Trio de Forro mulai manggung pukul empat sore waktu setempat atau bertepatan dengan kickoff Nigeria versus Spanyol kemarin dini hari WIB (24/6). Belum tiga menit beraksi, Pedro harus menghentikan pukulan ke arah perkusi. Pasalnya, Spanyol membuka gol melalui Jordi Alba. “Yeah.. sepertinya akan (tercipta) banyak gol lagi,” teriak Victor Assante da Rocha, 24, salah seorang penonton nobar sambil bangkit dan mengepalkan tangan kanannya ke udara. “Kami akan menunggu kamu di final, Espanha (Spanyo, Red)”, tambah pemudah yang mengenakan jersey away Brasil warna biru gelap itu. Berbeda dengan Victor, Cassandra Neto mengaku asebagai torcedor (fans) Spanyol meski dirinya orang Brasil. Hanya, seiring tujuan utamanya ke Pelourinho hanya untuk jalan bersama temannya, Cassandra yang menyukai wajah ganteng Cesc Fabregas itu hanya sempat menonton di menit akhir babak kedua. “Lumayan, masih sempat melihat gol (gol ketiga Spanyol yang juga dicetak Alba pada menit ke-89, Red). Sayang, Cesc lebih dulu ditarik keluar,” kata gadis pirang yang juga berusia 24 tahun seperti Victor itu. Ketika Jawa Pos berkunjung ke Pelourinho (23/6), momennya bertepatan dengan pergelaran festival regional bertajuk Sao Joao da Bahia. Walhasil, selain nobar, Pelourinho menampilkan berbagai show lainnya mlai penampilan band dari berbgai aliran music. Lomba dansa, pameran budaya, sampai karnaval anak. Festival di Pelourinho itu dimulai 20 Juni dan berakhir 30 Juni nanti. Puncak acaranya tentu saja nobar final Piala Konfederasi. Seiring maraknya aksi demo, puluhan polisi bersenjata lengkap disiagakan. “Jumlah polisi yang bertugas sehari-hari 40-50 orang. Jumlahnya kan ditingkatkan saat final nanti. Bissa sampai 2-3 kali lipat,” jelas Sersan Polisi P.M. Franca di kantor polisi yang ada di dalam kawasan Pelourinho.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar