Pentingnya Memahami Aspek Sosial Penyakit
(Sumber: Fajar, Nur Alam.2007. Majalah Ilmu Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.)
A) Pendahuluan
Batasan sehat menurut WHO yang ditetapkan pada tahun 1948 adalah, “Health is a state of complete physical, mental and social well being, not merely the absence of disease or infirmity”. Bataasan inilah yang menjadi dasar rumusan yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Yang dimaksud dengan kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan social yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara social dan ekonomis. Istilah kesehatan mengandung arti keadaan sejahtera (well being). Kedua rumusan di atas mencerminkan dengan jelas bahwa keadaan social turut memberi konstribusi bagi status kesehatan individu.
Telah banyak ilmuwan yang mempelajari bahkan membuktikan tentang peranan keadaan social dalam mempengaruhi penyakit. Gordon dan Le Richt (1960) menyebutkan timbul atau tidaknya penyakit pada seseorang amat ditentukan antara lain oleh factor lingkungan, di mana keadaan social termasuk salah satu di dalamnya. Hal ini juga didukung oleh Blum pada tahun 1974 yang menggambarkan bahwa adanya empat factor yang mempengaruhi kesehatan, yaitu lingkungan (termasuk factor social budaya, perilaku, pelayanan kesehatan sert factor keturunan). Berkenaan dengan hal itu maka Blum menempatkan factor social budaya pada prioritas pertama sebagai factor yang paling berpengaruh terhadap kesehatan. Seiring dengan kenyataan tersebut, Foster dan Anderson (1986) juga menyatakan bahwa penyakit dengan rasa sakit dan penderitanya merupakan kondisi yang dapat dirasakan serta merupakan gejala biologis maupun kebudayaan yang bersifat universal.
Sebaliknya, pengaruh kesehatan terhadap social, bukan hal yang baru. Edward Chadwick (1842) misalnya, menyebutkan bahwa bidang kesehatan mempunyai peranan yang besar dalam menciptakan keadaan social.
Disebutkan, hanya karean keadaan kesehatan penduduk yang jelek yang menyebabkan keadaan social masyarakat Inggris pada waktu terjadinya revolusi industry, berada dalam keadaan yang tidak mengembirakan. Selanjutnya Dorothy P. Rice (1936) telah berhasil membuktikan adanya pengaruh kesehatan terhadap keadaan social ekonomi penduduk.
Disimpulkan bahwa berkurangnya pendapatan penduduk ada hubungannya dengan berbagai penyakit di masyarakat. Disebutkan juga bahwa pendapatan penduduk Amerika Serikat pada tahun 1936, berkurang sekitar 3,6% karena ditemukannya berbagai macam penyakit di masyarakat Amerika Serikat. Peneliti yang sama juga dilakukan oleh Herben S. Parners (1970) yang menyimpulkan bahwa salah satu penyebab tingginya angka pengangguran di Amerika Serikat adalah karena kesehatan penduduk yang tidak sempurna. Tak ketinggalan, ahli antropologi Saunders (1954) juga berpendapat bahwa dalam usahanya untuk menanggulangi penyakit yang diderita, manusia mengembangkan suatu kompleks yang laus dari pengetahuan, kepercayaan, teknik, peran, norma, nilai, ideology, sikap adat istiadat, upacara, lambang yang saling berkaitan dan membentuk system yang saling menguatkan dan saling membantu, yang disebut dengan system Medis.
Beberapa penjelasan di atas menunjukkan bahwa telah sejak lama diperoleh kesepakatan adanya hubungan timbale balik di antara masalah social dengan penyakit. Prinsipnya, di dalam kehidupan bermasyarakat masalah kesehatan dan ataupun keadaan social dapat muncul atau terjadi. Dengan demikian pemahaman hubungan timbale balik tersebut sangatlah penting dalam mengantisipasi maupun mencari solusi tentang masalah kesehatan yang ada di masyarakat. Hal ini berlaku baik bagi masyarakat umumnya, penyedia layanan kesehatan maupun pemerintah.
Dengan dipahaminya hubungan timbale balik tersebut, diharapkan masalah kesehatan dapat dicegah ataupun dicari solusinya hanya pada akhirnya tujuan pembangunan kesehatan di Indonesia yang disebut dengan “Panca Karsa Husada” dapat tercapai.
B) Pengertian
Aspek social penyakit mempelaari hubungan timbale balik antara kesehatan dan keadaan social, factor yang berperan dalam menciptakan hubungan tersebut serta akibat yang ditimbulkan dari adanya hubungan yang dimaksud. Mengacu pada pengertian di atas, maka terdapat 2 hal yang perlu dipelajari dalam memahami Aspek Sosial Penyakit:
1) Dengan memberikan perhatian utama pada keadaan social, maka dicari pengaruhnya terhadap kesehatan serta factor yang berpengaruh dalam menimbulnya
2) Perhatian ditunjukkan pada keadan kesehatan untuk kemudian mencari hubungannya dengan keadaan social serta factor mempengaurhi maupun menyebabkannya. Dalam bentuk diagram, hubungan keduanya dapat dinyatakan sebagai berikut: yang perlu dipahami adalah, kata “social” dalam aspek social penyakit menunjuk pada objek atau sasaran, yakni masyarakat sebagai suatu kesatuan lengkap dengan segala ciri, sifat atau karakternya.
C) Tinjauan Pustaka
Agar lebih mudah untuk memahami hubungan timbale balik antara keadaan social dengan masalah kesehatan atau penyakit, jika terlebih dahulu dijabarkan beberapa pengeritan penting, yaitu yang dimaksud dengan Patologi Sosial, Keadan social maupun penyakit.
D) Patologi Sosial
Pengertian mengenai Patologi Sosial tidak bisa begitu saja diabaikan jika kita ingin mengulas tentang Aspek Sosial Penyakit. Patologi social adalah suatu keadaan ketidakseimbangan yang terdapat di dalam masyarakat yang ditandai oleh munculnya masalah kesehatan dan ataupun suatu penyakit yang jumlahnya berbeda bermakna dengan keadaan sebelumnya serta kesemuanya ini adahubungannya dengan kepincangan social yang terjadi di masyarakat tersebut.
Dengan demikian dalam membahas aspek social penyakit, ada tiga hal yang perlu diperhatikan dengan seksama:
1) Terdapat kepincangna social di masyarakat
2) Terdapat suatu masalah kesehatan dan ataupun penyakit tertentu di masyarakat yang jumlahnya berbeda bermakna dengan keadaan sebelumnya.
3) Adanya hubungan antar kepincangan social tersebut dengan penyakit yang ditemukan di masyarakat, baik sebagai penyebab maupun berbagai akibat.
Dari tiga hal di atas, butir pertama dan ketiga sulit dilakukan karena umumnya terdapat perbedaan persepsi antara kalangan kesehatan dan kalangan politisi mengenai kepincangan social serta hubungannya dengan masalah kesehatan. Tidak demikkian halnya dengan butir kedua, dimana dengan memanfaatkan data epidomologi kesehatan dan perhitungan statistic dapat diektahui apakah suatu penyakit sudah menimbulkan masalah kesehatan atau belum. Dan juga dapat disimpulkan ada atau tidak penambahan jumlah kasus yang berbeda bermakna dengan keadaan seblumnya.
Kesulitan ini dapat diselesaikan dengan menggunakan prinsip dari Grojthon (1915) dalam mempelajari Aspek Sosial Penyakit:
1) Aspek Sosial suatu penyakit terutama ditentukan oleh frekuensi penyakit tersebut. Penyakit B dengan frekuensi 30% mempunyai aspek social lebih besar dibandingakn dengan Penyakit A dengan frekuensi 1%.
2) Penyakit yang belum ditemukan, mempunyai aspek social yang lebih penting dan bermakna daripada penyakit yang hebat atau sulit namun jarang ditemukan.
3) Penyebab penyakit bukanlah factor bilogis saja, tetapi juga factor social di mana factor yang terakhir ini dapat berperan sebagai penyebab, predisposisi, dan ataupun mempengaruhi penularan atau perjalanan penyakit.
4) Prevalensi atau timbul suatu penyakit dapat dipengaruhi degnan cara memberikan perhatian pada factor social dan ekonomi. Artinya, jika keadaan social dan ekonomi dapat diperbaiki maka beberapa penyakti tertentu seperti muntah berak dapat ditekan prevalence.
5) Pengobatan yang berhasil tidak hanya ditentukan dari sembuh tidaknya penyakit tersebut yang dapat dilihat dari turunnya prevalansi penyakit, tetapi harus pula dilihat pengaruhnya terhadap factor social.
6) Dalam emnghadapi kasus penyakit, harus selalu dipikirakan bahwa penyakit tersebut mungkin mempunyai pengaruh terhadap kehidupan social penderita ataupun kelompok di sekitar penderita.
Jika dipahami dengan benar, keenam prinsip di atas dapat digunakan dalam mengkaji aspek social penyakit, untuk nantinya digunakan dalam menangani penyakit tersebut.
E) Keadaan Sosial
Keadaan social dalam arti masyarakat adalah suatu keadaan yang terbentuk karena pengaruh banyak factor. Factor tersebut menurut American Public Health Association (1939) dapat di sederhanakan menjadi tiga kelompok:
1) Faktor yang ada perorangan. Factor ini terbentuk karena orang tersebut adalah bagian dari masyarakat, yang satu sama lain mempunyai sifat tertetnu dalam bermasyarakat (factor in the members of the group). Factor ini terbagi menjadi dua, yaitu yang diperoleh sebagai hasil dari kebudayaan.
2) Faktor yang muncul karena keterlibatan dalam kegiatan bermasyarakat (factor in the actives of the group. Kegiatan kemasyarakatan yang dimaksud di sini beraneka ragam seperti politik, ekonomi, pekerjaan (termasuk penghasilan), mobilitas, pengisian masa senggang, kebiasaan rumah tangga serta tujuan kehidupan rumah tangga.
3) Berbagai factor yang muncul karean adanya lingkunga khusus (factor in the environmental of the group). Lingkungan yang dimaksud di sini juga beraneka ragam, seperti lingkungan geografi dan cuaca, lingkungan umum lainny serta lingkungan perumahan.
Ketiga kelompok factor ini saling berhubungan dan secara bersama mempengaruhi terbentuk suatu keadaan social, secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut:
Terlihat bahwa keadaan social dihadapi sama, tergangunt factor yang mempengaruhinya. Selanjutnya, tergantung keadaan social yang dimiliki, maka pengaruhnya terhadap kesehatan akan berbeda pula.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keadaan social yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda terhadap kesehatan. Untuk lebih mudah mengulasnya, maka keadaan social dibedakan atas dua kutub ekstrem.
1) Keadaan social yang masih terbelakang. Keadaan social seperti ni ditemukan dalam msyarakat tradisional, dan penyakit yang ditemukan terbatas seperti misalnya penyakit infeksi, menular dan kekurangan gizi.
2) Keadaan social yang telah maju. Keadaan social seperti ini banyak pada masyarakat yang telah modern atau maju, di mana penyakit ini paling sering ditemukan adalah penyakit degenerative, kelainan jiwa ataupun ancaman terjadinya kecelakaan.
Kedua kutub ekstrim di atas secara mudah dapat dipahami dari bagan di bawah ini:
Makna dari bagain tersebut adalah sebenarnya tidak ada keadaan social yang sempurna, dalam arti meniadakan masalah tersebut. Yang ada adalah suatu keadaan tertentu dengan masalah tertentu pula. terjadinya perubahan social memang dapat meniadakan masalah kesehatan tertentu, tetapi seiring dengan kenyataan tersebut timbullah beberapa masalah kesehatan lainnya, kadang lebih sulit untuk diatasi.
Jika dalam suatu Negara terdapat kepincangan keadaan social yang antara masyarakat yang social ekonominya baik dengan yang buruk, dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Di sinilah pentingnya keterlibatan seluruh komponen masyarakat dalam mencari pemecahannya.
Seperti telah dijelaskan beberapa paragraph sebelumnya, bahwa peranan keadaan social dalam menimbulkan masalah kesehatan banyak macamnya. Menurut Grotjho peranan tersebut ada 3 macam:
1) Sebagai penyebab timbulnya penyakit. Dalam hal ini, penyakit jiwa adalah contoh mudah untuk menggambarkan adanya peranan keadaan social sebagai penyebab penyakit. Misalnya suasana rumah tangga yang tidak harmonis, lingkungan kerja yang keras dan sebagainya. Solusinya adalah tentu saja dengan meniadakan keadaan sosialnya.
2) Sebagai factor predisposisi penyebab penyakit. Misalnya kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah adalah keadaan social yang mempermudah terjadinya penyakit infeksi, menular ataupun kelainan gizi. Sekali lagi, meniadakan keadaan social yang merupakan sosialnya.
3) Sebagai factor yang mempengaruhi perjalanan penyakit. Lingkungan social yang buruk akan mempercepat terjadinya penyakit TBC, di mana jika tidak cepat di atasi akan memperparah bahkan mendatangkan kematian bagi penderitanya.
Dari pendapat Grotjhon tersebut dapat disimpulkan bahwa peranan keadaan social terhadap timbul atau tidaknya penyakit amat ditentukan oleh keadaan yang dimiliki seseorang. Dengan kata lain tergangunt pada pada pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), perilaku (psikomotor) tiap individu. Jika tiga hal ini tidak menguntungkan, peranan akan besar. Dalam Aspek Sosial Penyakit, di samping ketiga hal tersebut, hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah persepsi terhadap penyakit (perception of illness). Hal inilah yang seharusnya menjadi perhatian utama para ahli pendidikan kesehatan.
Persepsi tentang kesehatan yang berbeda pada tiap individu dipengaruhi oleh perhatian, set, kebutuhan, system nilai dan ciri kepribadian masing-masing! Jka factor tersebut tidak menguntungkan persepsi tentang kesehatan juga tidak memuaskan. Yang harus dipahami bahwa factor yang berpengaruh terhadap persepsi ini sama degnan factor yang mempengaruhi keadaan social seseorang. Oleh karena itu disebutkan bahwa “persepsi seserorang terhadap penyakit amat dipengaruhi oleh keadaan social yang dimiliki orang tersebut”.
Berkaitan dengan pelayanan kesehatan, hal yang perlu dipahami adalah bahawa perbedaan persepsii ini tidak hanya terdapat pada masyarakat pengguna pelayanan kesehatan, tetapi juga pada penyedia pelayanan kesehatan. Hal ini yang menyebabkan perbeddaan diagnosis, penatalaksaan seorang dokter maupun paramedic, yang kadang merugikan pasien. Dalam hal ini perlu ada upaya untuk menyamakan persepsi di antara para penyedia pelayanan kesehatan.
F) Penyakit
Penyakit adalah setiap ganggaun terhadap kesehatan. Ada dua hal yang perlu dipahami untuk mengetahui sejauh mana penyakit mempengaruhi keadaan social:
1) Sifat penyakit yang dihadapi, apakah akut, kronis, ganas atau jinak.
2) Perjalanan penyakit yang lazim disebut dengan “natural history of diease” dan dibedakan atas masa sebelum sakit, masa inkubasi, masa penyakit dini, masa penyakit lanjut serta masa akhir penyakit.
Kedua hal ini dapat memberikan pengaruh berbeda terhadap keadaan soial. Dengan demikian dapat dibayangkan betapa banyaknya akibat social (social impact) yang dapat ditimbulkan bervariasinya jenis penyakit.
Keanekaragaman ini dapat dipahami dengan mengelompokkan penyakit menjadi dua kutub ekstrem:
1) penyakit akut, tidak ganas dan stadium awal. Kelompok penyakit ini menunjukkan akibat social yang tidak terlalu berat.
2) Penyakit krnonis, adapalgi ditambah keganasan dan stadium lanjug. Kelompok ini yang memberikan social impact yang berat.
Akibat social yang ditimbulkan oleh suatu penyakit dapat dirasakan pada setiap kehidupan sosil seseorang, baik dalam keamanan ataupun kehidupan politik. Contoh sederhana bagi hal ini adalah:
Perlu diingat bahwa akibat social ini tidak hanya dirasakan oleh penderita saja tetapi juga oleh keluarga bahkan masyarakat pada akhirnya apat merugikan kehidupan bangsa dan Negara.
Penyakit TBC
Ø Ekonomi: produktivitas menurun
Ø Pendidikan: pedidikan terganggu
Ø Psikis sosial: malu, rendah diri
Ø Keamanan: banyak pengangguran, criminal
Ø Budaya: tidak berkembang
G) Kesimpulan
Dari penjelasan di atas jelas bahwa dapat hubungan timbale balik antara keadaan social dengan penyakit. Baik keadaan social maupun penyakit dapat saling mempengaruhi. Hubungantimbal balik sering diabaikan baik oleh masyarakat pengguna pelyanan kesehatan maupun oleh penyedia pelayanan kesehatan, sehingga dalam kenyataan factor biologis yang diberi perhatian utama jika yang dibicarakan adalah masalah kesehatan. Padahal keadaan social sebagai penyebab penyakit atau pun akibat sosiial yang ditimbulkan penyakit, sering ikut berperan dalam masalah kesehatan. Semua ini menunjukkan betapa penting memahami aspek social penyakit, di mana keadaan sebaliknya akan memberi dampak yang fatal bagi kehidupan bangsan dan Negara. Berbagai keuntungan yang diperoleh alam memahami aspek social penyakit ini adalah;
a) Dari sudut Pemerintah (Policy marker), dengan dipahami aspek social penyakit, diharapkan dapat dikumpulkan data maupun keterangan yang dibutuhkan untuk menyusun rencana kerja yang komprehensif dan terintegrasi dalam mengatasi masalah kesehatan.
b) Dari sudut Pelayanan Kesehatan (health provider) dengan diketahui factor social yang mempengaruhi kesehatna seseorang, diharpakna diagnosis serta penatalaksanaan pasien menjadi lebih baik sehingga status kesehatna pasien dapat lebih diperhatikan. Di samping itu, hubungna dokter/ perawat degna pasien (doctor/ nurse patients relationship) menjadi lebih baik dan dapat mempercepat penyembuhan pasien.
3) Dari Sudut Pemakaian Jasa Pelayanan Kesahatan (health consumer) dengan lebih paham masyarakat tentang penyakit yang diderita, akan lebih muda bagi mereka untuk melakuka pennyelesaian masalah kesehatan.
H) Penutup
Dengan demikian, ulasan di atas diharapkan dapat memberikan gambaran betapa pentingnya untuk memahami Aspek Sosial Penyakit, baik bagi masyarakat, penyedia layanan kesehatan, maupun pemerintah. Walaupun dalam kenyataan tidak udah memahami dengan benar. Pendidikan Kesehatan secara intesif serta berkesinambungan tampak perlu diterpakan oleh Departemen Kesehatan baik bagi penyedia pelayanan kesehatan maupun masyarakat umumnya.
I) Kepustakaan
(Azrul Anwar, Aspek Sosial Penyakit, Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia, Tahun XVI, Nomor 6, 1985)
(Fauzi Muhazam, Memperkenalkan Sosiologi Kesehatan, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta, 1995)
( Foster, Anderson, Antropologi Kesehatan, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta, 1986)
(Juanita, Perilaku Masyarakat Dalam Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan, Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia, Tahun XXV, Nomor 2, 1996)
(Muhyidin Danakusuma, Peranan Sosio Anthropologi Medis dalam Pembangunan Kesehatan, Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia, Tahun XV, Nomor 4, 1984)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar