Mengenal Pantai-Pantai di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, bagian kedua/ Know the Coast-Beach in Yogyakarta Province, part two FOR GENERAL GENERAL

Mengenal Pantai-Pantai di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, bagian kedua

(Sumber: Sari, Ina Parawita. 2007. Jogja Punya Ceria. Jakarta: AzkaMuliaMedia.)

1) Pantai Siung. Pantai Siung terletak di sebuah wilayah terpencil di Kabupaten Gunung Kidul, tepatnya sebelah selatan Kecamatan Tepus. Jaraknya sekitar 70 km dari pusat kota Yogyakarta, atau sekitar 2 jam perjalanan. Menjangkau pantai ini degnan sepeda motor atau mobil menjadi pilihan banyak orang, sebab memag sulit menemukan angkutan umum. Colt atau bis dari kota Wonosari biasanya hanya sampai ke wilayah Tepus, itu pun mesti menunggu berjam-jam. Stamina yang prima dan performa kendaraan yang baik adalah modal utama untuk bisa menjangaku pantai ini. Maklum, banyak tantangan yang mesti ditaklukan, mulai dari tanjakan, tikungan tajam yang kadang disertai turunan, hingga paans terik yang menerpa kulit saat melalui jalan yang dikelilingi perbukitan kapur dan ladang palawija. Semuanya menghadang sejak di Pathuk (Kecamatan pertama di Kabupaten Gunung Kidul yang dijumpai) hingga pantainya. Seolah tak ada pilihan untuk lari dari tantangan itu. Jalur Yogyakarta-Wonosari yang berlanjut ke Jalur Wonosari-Baron dan Baron-Tepus adalah jalur yang laing mudah diakss, karean jalan telah di aspal mulus dan sempurna. Jalur lain melalui Yogyakarta-Imogiri-Gunung Kidul memiliki tantangan yang lebih berat karena jalan yang berlubang, sementara jalur Wonogiri-Gunung Kidul terlalu jauh bila ditempuh dari kota Yogyakart. Kesenangan, kelegaan dan kedamaian baru bisa dirasakan ketika telah sampai di pantai. Biru laut dan putihnya pasir yang terjaga kebersihan akan mengobati raga yang lelah. Tersedianya sejumlah rumah kayu di pantai, tepat untuk bersandar dan bercengkrama sambil menikmati indahnya pemandangan. Satu pesona yang menonjol dari Pantai Sung adalah batu karang. Karang-karang yang berukuran raksasa di sebelah barat dan timur pantai memiliki peran penting, tak cuma menjadi penambah keindahan dan pembatas dengan pantai lain. Karang itu juga menjadi dasar penamaan pantai, saksi kejayaan wilayah pantai di masa lampai dan pesona yang membuat  pantai ini dikenal, setidaknya di wilayah Asia. Batu karagn yang menjadi dasar penamaan pantai ii berlokasi agak menjorok ke lautan. Nama pantai diambil dari bentuk batu karang yang menurut Wastoyo, sesepuh setempat, menyerupai gigi kera atau Siung Wanara. Hingga kini, batu karang ini masih bisa dinikmati keindahan, berpadu dengan ombak besar yang kadang menerpa, hingga celah disusuri oleh air laut yang mengalir perlahan, menyajikan sebuah pemandangan dramatis. Karang gigi kera yang hingga kini masih tahan dari gerusan ombak lautan ini turuk menjadi saksi kejayaan wilayah Siung di masa lalu. Menurut cerita Wastoyo, wilayah Siung pada masa para wali, menjadi salah satu pusat perdagangan di wilayah Kabupaten Gunung Kidul. Tak jauh dari pantai, tepatnya wilayah Winangun, berdiri sebuah pasar. Di tempat ini pula, berdiam Nyai Kami dan Nyai Podi, istri abdi dalem Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Sebagian besar warga Siung saat itu berprofesi sebagai petani garam. Mereka mengandalkan air laut dan kekayaan garam sebagai sumber penghidupan. Garam yang dihasilkan oleh warga Siung inilah yang saat itu menjadi barang dagangan utama di pasar Winangun. Meski kaya beragam jenis ikan, tak banyak warga yang berani melaut saat itu. Umumnya, mereka hanya berani mencari ikan di tepian. Keadaan berangsur sepi ketika pasar Winangun, menurut penuturan Wastoyo, diboyong ke Yogyakarta. Pasar pindahan dari Winangun ini konon di Yogyakarta dinamai Jowinangun, singkatan dari Jobo Winangun atau di luar wilayah Winangun. Warga setempat kehilangan mata pencaharian dan tak banyak lagi orang yang datang ke wilayah ini. Tidak jelas usaha apa yang ditempu penduduk setempat untuk bertahan hidup. Di tengah masa sepi itulah, keindahan batu karang Pantai Siung kembali berperan. Sekitar tahun 1989, grup pencinta alam dari Jepang memanfaatkan tebing karang yang berada di sebelah barat pantai sebagai arena panjat tebing. Kemudian, pada dekade 1990-an, berlangsung kompetisi Asian Climbing Gathering yang kembali menanfaatkan tebing karang Pantai Siung sebagai arena perlombaan. Sejak itulah, popularitas PantaiSiung mulai pulih lagi. Kni, sebanyak 250 jalur pemanjatan terdapat di Pantai Siung, fasilitas penggemar olahraga panjat tebing. Jalur itu kemungkinan masih bisa ditambah, melihat adanya aturan untuk dapat meneruskan jalur yang ada dengan seijin pembuat jalur sebelumnya. Fasilitas lain yang juga mendukung kegiatan panjat tebing adalah ground camp yang berada di sebelah timur pantai. Di ground camp ii, tenda bisa didirikan dan acara api unggun bisa digelar untuk melewatkan malam. Syarat menggunakan hanya satu, tidak merusak lungkungan dan mengganggu habitat penyu, seperti tertulis dalam sebuah papan peringatan yang terdapat di ground camp yang juga bisa digunakan bagi yang sekedar ingin bermalam. Tak jauh dari ground camp, erapat sebuah rumah panggung kayu yang bisa dimanfaatkan sebagai base camp, sebuah pilihan selain mendirikan tenda. Ukuran base camp cukup besar, cukup untuk 10 sampai 15 orang. Bentuk rumah panggung membuat mata semakin leluasa menikmati eksotik pantai. Cukup dengan berbicara pada warga setempat, mungkin dengan disertai beberapa rupiah, base camp ini sudah bisa digunakan untuk bermalam. Saat malam atau kala sepi pengunjung, sekelompok kera ekor panjang akan turun dari puncak tebing karang menuju pantai. Kera ekor panjang yang kini makin langka masih bisa dijumpai di pantai ini. Keberadaan kera ekor panjang ini mungkin juga menjadi salah satu alasan mengapa batu karang yang menjadi dasar penamaan dipadankan bentuknya dengan gigir kera, bukan jenis hewan lainnya. Wastoyo mengungkapkan, berdasarkan penuturan para winasih (orang yang mampu membaca masa depan), Pantai Siung akan rejomulya atau kembali kejayaannya dalam waktu yang tak laam lagi. Semakin banyak pengunjung dan popularitasnya sebagai arena panjant tebing, menjadi salah satu pertanda bahwa pantai ini sedang menuju kejayaan. Kunjugan wisata , termasuk Anda, tentu akan semakin mempercepat teraihnya kejayaan itu.

2) Pantai Sundak. Pantai Sundak tak hanya memiliki pemandangan alam yang mengasyikan, tetapi juga menyimpan cerita. Nama Sundak, ternyata mengalami evolusi yang buktinya bisa dilacak secara geologis. Agar tahu bagaimana evolusinya, maka pengunjung mesti tahu dulu kondisi pinggiran Pantai Sundak waktu dulu dan masa kini. Di bagian pinggir barat pantai terdapat masjid an ruang kosong yang sekarang dimanfaatkan sebagai tempat parkir. Sementara di sebelah timur, terdapat gua yang terbentuk dari batu karang berketinggian kurang lebih 12 meter. Memang gua, akan dijumpai sumur alami tempat penduduk mendapatkan air tawar. Wilayah yang diuarakan di atas sebelum tahun 1930 masih terendam lautan. Konon, air sampai ke wilayah yang kini dibangun masjid, batu karang yang membentuk gua pun masih terendam air. Seiring proses geologi di pantai selatan, permukaan laut menyusut dan air lebih menjorok ke lat. Batu karang dan wilayah di dekat masjid akhirnya menjadi daratan baru yang kemudian dimanfaatkan penduduk pantai untuk aktivitas ekonomi hingga saat ini. Ada fenomena alam unik akibat akitivitas tersebut yang akhirnya menjadi titik tolak penamaan pantai ini. Jika musim hujan tiba, banyak air dari daratan yang mengalir menuju lautan. Akibatnya, dataran di sebelah timur pantai membelah sehingga membentuk bentukan seperti sungai. Air yang mengalir terlihat mbedah (membelah) pasir. Bila kemarau datang, belahan itu mengholang dan seiring dengannya air laut datang membawa pasir. Fenomena alam inilah yang menyebabkan pantai menjad Wedibedah (pasir yang terbelah). Perubahan nama berlangsung beberapa puluh tahun kemudian . sekitar tahun 1976, ada sebuah kejadian menarik suatu sinag, seekor anjing sedang berlarian di daerah pantai dan memasuki gua karang bertemu dengan seekor landak laut. Karena lapar, anjing bermaksud memakan landak laut, tetapi landak menghindar. Terjadi perkelahian yang akhirnya dimenangkan anjing dengan berhasil memakan setengah tubuh landak laut dan keluar gua dengan rasa bangga. Perbuatan anjing diketahui pemiliknya, bernama Arjasangku. Arjasangku melhat setengah tubuh landak yang tersisa. Nah, sejak itu, nama Wedibedah berubah menjadi Sundak, singkatan dari asu (anjing) dan landak. Tak di tanya, perkelahian itu membawa berkah bagi penduduk setempat. Setelah selama puluhan tahun kekurangan air, akhirnya penduduk menemukan airtawar. Awalnya, si pemilik anjing heran karean anjingnya keluar gua dengan basah kuyup. Hipotesis, di gua tersebut terdapat air dan anjingnya sempat tercebur ketika mengejar landak. Setelah mencoba meyelidiki dengan beberapa warga, ternyata perkiraan tersebut benar. Jadilah kini, air dalam gua dimanfaatkan untuk keperluan hidup penduduk. Dari dalam gua, kini dipasang pipa untuk menghubungkan dengan pemukiman penduduk. Temuan mata air ini mengobati kekecewaan penduduk karena sumur yang dibangun sebelumnya tergenang air laut. Bila kondisi tahun 1930 saja seperti dikatakan di atas, dapat diperkirakan ratusan tahun sebelumnya. Tentusangat banyak organism laut yang menmanfaatkan bagian bawah karang yang kini menjadi gua dan wilayah yang kini menjadi daratan. Karenanya, banyak arkeolog percaya bahwa sebagai konsekuensi dari proses geologis yang ada, banyak organism laut yang tertinggal dan kini tertimbun menjadi fosil. soal fosil apa yang ditemukan, memang hingga kini belum banyak penelitian yang mengungkapkan. Selain menawarkan saksi bisu sejarahnya, Sundak juga menawarkan suasana malam yang menyenangkan. Anda bisa menikmati angin malam dan bulan sambil memesan ikan mentah untuk dibakar beramai-amai bersama teman. Dengan membayar beberapa ribu, And dapat membeli kayu untuk bahan bakar. Kaalu malas, pesan saja yang matang sehingga siap santap. Yang jelas, tak perlu bingugn mencari tempat menginap. Pengjunjung bisa tidur di mana saja, mendirikan tenda, atau tidur di bangku warung yang kalau malam tak terpakai.

3) Pantai Trisik. Pantai trisik merupakan pantai pertama di Kabupaten Kulon Progo yang akan dtemui bila Anda melaju melewati lintasan Bantul-Purworejo, melewati Palbapang dan Srandakan. Pantai ii berlokasi di wilayah Brosot, Kabupaten Kulon Progo, berjarak sekitar 37 kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Pantai Trisik terletak sangat dekat dengan jalan raya sehingga sangat mudah dijangkau menggunakan kendaraan pribadi. Perjalanan ke Pnatai Trisik  akan terasa menyenangkan dan tak begitu melelahkan meski jaraknya cukup jauh. Jalan menuju pantai ini sangat halus dan minim tanjakan. Terapat pula warung makan di kanan kiri jalan yang bisa menjadi tempat beristirahat bila lelah. Melewati jalur Palbapang dan Srandakan, Anda juga akan dapat menikmati pemandangan Sungai Progo ketika melewati jembatang penghubung Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulon Progo. Pantai Trisik memiliki khas dibandingakn pantai lainnya di Kulon Progo, yaitu suasana pedesaan pesisir yang begitu terasa, pantai rumah warga, gubug yang menjajakan makanan, dan jalan penghubung desa dengan kota terletak saling berdekatan. Beragam aktivitas warga sekitar yang memanfaatkan wilayah pesisir dan laut sebagai sumber penghidupan juga turut memperkuat suasana pedeesaan pesisir itu. Tempat pelelangan ikan adalah salah satu tempat yang akan dijumpai ketika memasuki wilayah pantai ini. Tempat ini menjadi jantung bagi warga Trisik yang berprofesi sebagi nelayan, seba di situlah aktivitas jual beli ikan berlangsung. Biasanya, tempat ini ramai sejak sesaat ketika nelayan selesai melaut mencari ikan. Eksotisme pedesaan pesisir denan duna perikanan sebagai keseharian akan dijumpai begitu Anda sampai di pantai. Selain itu, juga dapat ditemui jejeran perahu motor yang biasa digunakan warga untuk mencari ikan. Tak jauh darinya, terdapat beberapa jala yang berserakan yang menunjukkan baru saja selesai digunakan. Sejumlah warga membuka warung dari gedheg bagi beberapa wisatawan yang berkunjung, menjajakan minuman sekadarnya. Di waktu tertentu, Anda bisa menyaksikan beragam jenis burun berlaga di angkasa pantai ini. Diyakni, pantai Trisik adalah salah satu persinggahan burung imigran dari berbagai wilayah. Jenis burung imigran yang bisa dilihat, antara lain trinil rawa, trinil pantai, trinil semak, kedidi leher merah, cerek kernyut, cerek kalung kecil dan layang-layang asia. Sementara itu, terdapat pula burung non migrant, seperti kuntul kerbau, walet sapi, dan udang biru. Bila berjalan ke barat mengikuti arah jalan aspal meunju Pantai Glagah, Anda akan menemukan aktivitas lain warga desa pesisir Trisik. Di kanan kiri jalan itu, Anda akan menjumpai warga desa memanfaatkan panas matahari di wilayah pantai untuk mengeringkan enceng gondok yang diperoleh warga dari daerah Ambarawa, Jawa Tengah. Enceng gondok yang telah dikeringkan itu disetor pada para perajin untuk dibuat tas,sandal dan beragam kotak. Hasil kerajinan biasanya didistribusikan ke kota atau disetor pada pengusaha kerajinan di berbagai wilayah untuk diproses lebih lanjut. Para perajin di kota biasanya melakukan proses finishing dengan menambah beragam aksesoris untuk mempercantik. Meski dalam skala kecil, aktivitas menjemur enceng gondok ini mampu memberi penghidupan bagi warga. Dengan nuansa pedesaan pesisiry ang begitu kental, tentu Pantai Trisik sangat pantas untuk dimasukkan dalam agenda wisata Anda. Tak banyak pantai yang memiliki nuansa yang masih asri dan sederhana, seperti Pantai Trisik.

4) Pantai Wediombo

          Sebuah imajinasi tetang pasir putih maha luas yang memungkinkan mata untuk leluasa meneropong ke berbagai sudut, mungkin akan muncul bila mendengar pantai bernama Wediombo (wedi: pasir, ombo: lebar). Namun, sebenarnya Pantai Wediombo tak mempunyai hamparan pasir yang luas itu. Bagian barat dan timur pantai diapit oleh bukit karang, membuat hamparan pasir pantai ini tak seluas Parangtritis, Glagah atau Kuta. Penduduk setempat memang mengungkapkan bahwa pantai ini diberikan oleh nenek moyang tak sesuai dengan keberadaannya. Ada yang mengungkapan, pantai ini lebih pantais menyandang Teluk Ombo, sebab keadaan pantai memang menyerupai teluk yang lebar. Terdapat batu karang yang mengapit, air laut menjorok ke daratan, namun memiliki luas yang lebih lebar dibandingkan teluk biasa. Tepi, di luar soal nama yang kurang tepat itu. Wediombo tetap menyuguhkan pemdangan pantai yang luar biasa. Air lautnya masih biru, tak seperti pantai wisata lainnya yang telah tercemar hingga airnya berwarna hijau. Pasir putihnya masih sangat terjaga, dihiasi cangkang yang ditinggalkan kerangnya. Suasana pantai juga sangat tenang, jauh dari riuh wisatawan yang berjelur atau lalu lalang kendaraan. Tempat ini tepat untuk melepas jenuh. Wediombo terletak di Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul. Pantai ini sangat mudah dijangaku bila sebelumnya telah datang ke Pantai SIung. Cukup kembali ke pertigaan di Tepus sebelum menuju ke Siung, kemudian belok kanan mengikuti alur jalan hingga menemukan papan petunjuk belok ke kanan untuk menuju Wediombo. Letak pantai ini jauh lebih ke bawah dibandingkan daratan sekitarnya. Beberapa puluh anak tangga mesti dituruni dulu sebelum dapat menjangaku pantai dan menikmati keelokan panoramanya. Sambil turun, di kanan kiri dapat dilihat beberapa ladang penduduk setempat, rumah tinggal, dan vegetasi mangrove yang masih tersisa. Lalu lalang penduduk membawa rumput atua merawat ternak di kandang juga bisa dijumpai. Selain panorama pantai yang mengagumkan, Wediombo juga menawarkan pengalaman wisata unik, bahkan ekstrim, yakni memancing di ketinggian bukit karang. Saat ini jenis wisata yang bermula dari kebiasaan memancing penduduk setempat ini tengah digemari oleh pelaku hobi dari kota Yogyakarta dan Wonogiri. Menurut penduduk setempat pada YogYes, mendapatkan ikan ukuran besar adalah tujuan para pehobi tersebut. Bukan hal mudah untuk memancing di bukit karang, sebab letaknya yang jauh dari pantai. Bukit karang ini baru bisa dijangaku setelah berjalan kea rah timur menyusuri bibir pantai, naik turun karang di tepian pantai yang terjal, licin, dan kadang diempas ombak besar, kemudain naik lagi hingga puncak bukit karang yang langsung berhadapan dengan laut lepas yang dalam. Bagi yang telah terbiasa saja, perjalanan menuju bukit karang bisa memakan waktu satu jam. Namun, hasil yang luar biasa dituai setleah mengalahkan segala rintangan itu. Penduduk setempat mengungkapkan, ikan berukuran besar sering didapat oleh para turis local, minimal, pemancingakan mendapat ikan cucut atau ikan panjo (istilah setempa). Ikan yang panjangnya setara dengan lengan manusia dewasa ini punya dua jenis, yakni berbentuk gilig (silinder) banyak ditemui pada musim kemarau,sementara yang gepeng (pipih) ditemui pada musim hujam. Untuk memancing, modalnya hanya umpan berupa ikan teri yang bahkan bisa di dapat ditepian pantai. Hanya dengan menggunakan pancing atau merentangkan jarring kecil, umpan bis didapat. Murah dan mudah, bukan? Bagi yang tak cukup punya nyali untuk menuju bukit karang, membeli ikan hasil pancingan mungkin sudah cukup memuaskan. Beberapa pemancing menjual ikan panjo hasil tangkapannya hanya seharga: Rp3000 per ekor, atau kadang dijual per ikat berisi 506 ekor ikan seharga:Rp20000. Beberapa warga menawrkan jasa memasak ikan bila ingin mencicipi. Bila tidak , ikan bisa dibawa pulang mentah-mentah, tapi tentu cukup merepotkan. Paket masakan ikan panjo goring juga tersedia. Nasi, seekor panjo goreng yang telah diiris kecil, besrta sambal mentah di jual dengan harga: Rp7000. Nasinya dihidangkan dalam bakul kecil, sementara sambalnya dalam cobek. Porsinya cukup banyak, bahkan untuk dua orang. Pada saat tertentu, Anda bisa melihat upacara Ngalangi yang digelar oleh penduduk setempat. Upacara ini digelar sekali setahun, mirip upacara labuhan besar. Tujuannya adalah mengungkapkan rasa syukur pada Tuhan atas anugerah yang dimaksudkan terutama adalah hasil tangkapan ikan yang jumlahnya lumayan, hingga cukup mencukupi kebutuhan. Prosesi upacara cukup unik, dimulai upacara merentangkan gawar atau jarring yang dibuat dari pohon wawar. Jenis jaring ini konon digunakan untuk menangkap kan sebelum adanya jarring dari senar yang dipakai sekarang. Gawar direntangkan dari bukit Kedongkowok hingga wilayah pasang surut pantai. Perentangan dilakukan saat air pasang, tujuannya adalah mejebak ikan yang terbawa ombak sehingga tak dapat kembali ke lautan. Setelah air laut surut, ikan diambil, warga kemudian sibuk membersihkan dan memasak ikan tangkapan. Sebagain kecil ikan dilabu lagi ke lautan bersama nasi dan sesaji. Sebagian ebsar lainnya dibagi sesuai dengan jumlah keluarga peduduk setempa dan diantar ke rumah warga sering disebut kendurian besar, wujud kearifan local bahwa semua ikan adalah rejeki bersama. Kecuali upacarfa Ngalangi, seluruh pesona bisa dinikmati setiap hari, retribusi masuk pantai ini hanya seharga:Rp5000 untuk dua orang plus tempat parkir kendaraan. Bila ingin bermalam atau menggelar sebuah acara yang dihadiri sekelompok orang, terdapatsebuah gubug yang terletak tak jauh dari warung yang berjejer di pantai. Sangat mengasyikan dan mampu menembus rasa lelah ketika menuju ke pantai ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar