Contoh penelitian kualitatif, di dalam Sosiologi/ Examples of qualitative research, in Sociology FOR SENIOR HIGH SCHOOL SOSIOLOGY

Contoh penelitian kualitatif, di dalam Sosiologi

(Sumber: Mr. Arif. 2012. Teacher Sosiology. Ponorogo: Senior High School 1 Ponorogo)

A) JUDUL PENELITIAN

Penanaman Kemandirian Belajar Anak yang Memiliki Keterbelakangan Mental apda Sekolah Luar Biasa di Kecmatan Gondang, Kabupaten Sragen

B) PENDAHULUAN

1) LATAR BELAKANG

            Setiap manusia menginginkan kehidupan mas depan yang lebih baik, pekerjaan yang tidak berhasil, kehidupan rumah tangga yang bahagia untuk itu diperlukan kemauan, kesanggupan dan disiplin belajar. Manusia yang belajar dalam kehidupan akan mampu mengatasi rintangan kehidupan masa depannya. Dengan belajar akan mengetahui sesuatu, dapat mengembangkan ilmu pegetahuan dan memiliki kepribadian yang tanggu. Dalam belajar, anak memerlukan bimbingan, pengarahan dan pengawasan dari orang tua/ orang dewasa lainnya dengan rasa penuh tanggung jawab. Anak-anak adalah sosok manusia yang memerlukan bantuan dan bimbingan dari orang yang lebih dewasa untuk mendidik, megnajar serta memberi perhatian penuh, terutama dalam proses belajarnyasehingga anak yang diasuh dan dididiknya menjadi dewasa dan mandiri. Anak yang memiliki keterbelakangan mental adalah anak istimewa yang seharusnya dibimbing dengan penekanan yang ekstra lebih dalam proses penerapan dan bimbingan belajar karena mereka berada dibandingakn dengan anak-anak normal lainnya. Biasanya anak yang memiliki keterbelakangan mental.

            Kemandirian belajr merupakan aktifitas belajar yang didorong oleh kemauan sendiri, pilihan sendiri dan mampu mengatur diri untuk mencapai hasil belajar yang optimal serta mampu mempertanggungjawabkan tindakan. Anak dapat dikatakan memiliki menadirian belajar apabila memiliki beberapa ciri diantaranya, mampu berpikir kritis, kreatif, dan inovatif, tidak mudah terpengaruh orang lain, tidak merasa rendah diri, terus bekerja dengan penuh ketekunan dan kedisiplinan, serta mampu mempertanggungjawabkan perbuatan sendiri. Sikap kemandirian merupakan hal yang integral dari keseluruhan proses belajar. Berhasil tidaknya anak dalam belajar, seringkali dapat terlihat pada apakah anak itu memiliki sikap kemandirian dalam belajar atau tidak. Kemandirian belajr anak tidak dapat dilepaskan dari proses sosialisasi yang dilakukan. Sosialisasi merupakan suatu proses belajar anak memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan sebagainya. Berkaitan dengan proses kemandirian belajar bagi anak, maka aspek mental, spiritual, intelektual, fisik, dan psikis harus diperhatikan, dan tidak kalah pentingnya factor lingkungan.

            Pengaruh lingkungan terhadap perkembangananak merupakan sesuatu yang tidak apat diabaikan. Lingkungan keluarga merupakan penyebab utama terjadinya respon dan stimulus dalam perkembangan anak. Di dalam keluarga orang tua menjadi agen sosialisasi yang pertama dan utama dalam pembentukan kepribadian anak menjadi mandiri. Kemandirian belajar perlu ditanamkan dalamdiri seseorang sejak usia dini. Dengan adanya penanaman sikap mandiri, akan membentuk anak memiliki kepribadian dan kecakapan hidup. Penanaman kemandairian dapat dimulai dari dalam keluarga, dimana sejak usia dini anak diberikan kebiasaan hidup.

            Keluarga merupakan wadah pendidikan yang sangat besar pengaruhnyadalam perkembangan kemandirian anak, oleh karena itu pendidikan anak tidak dapat dipsiahkan dari keluarganya karena keluarga merupakan tempat pertama kali anak belajar menyatakan diri sebagai makhluk social dalam berinteraksi dengan kelompoknya. Setidaknnya dengan diberikan penanaman kemandirian belajar pada ank yang memiliki keterbelakangan mental. Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk mengangkat judul penelitian “PENANAMAN KEMANDIRIAN BELAJAR ANAK YANG MEMILIKI KETERBELAKANGAN MENTAL DI SEKOLAH LUAR BIASA KECAMATAN GONDANG, KABUPATEN SRAGEN”.

II) RUMUS MASALAH

            Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1) Bagaimana pelaksanaan penanaman kemandirian belajar anak yang memiliki keterbelakangan mental di Sekolah Luar Biasa Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen?

2) Bagaimana peran guru dalam pelakasaan penanaman kemandirian belajar anak yang memiliki keterbelakangan mental di Sekolah Luar Biasa Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen?

3) Hambatan apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaan penanaman kemandirian belajar anak yang memiliki keterbelakangan mental di Sekolah Luar Biasa Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen?

III) TUJUAN PENELITIAN

            Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitan ini adalah sebagai berikut:

1) Mengetahui pelaksanaan penanaman kemandirian belajar anak yang memiliki keterbelakangan mental di Sekolah Luar Biasa Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen.

2) Mengetahui peran guru dalam pelaksanaan penanaman kemandirian belajar anak yang memiliki keterbelakangan mental di Sekolah Luar Biasa Kecamatn Gondang, Kabupaten Sragen.

3) Mengetahui hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan penanaman kemandirian belajar anak yang memiliki keterbelakangan mental di Sekolah Luar Biasa Kecamatan Godnang, Kabupaten Sragen

IV) MANFAAT PENELITIAN

            Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Secara Teoritis

            Penelitan ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan social, khususnya sebagai pelaksanaan penanaman kemandirian belajar anak.

2) Secara Umum

            Dapat memberikan pengetahuan bagi paraguru dan orang tua yang memiliki anak didik serta anak kandung dalam pemahaman serta penanganan agar anak memiliki semangat untuk belajar dalam rangka menanamkan kemandirian pada anak yang memiliki keterbelakangan mental.

D) LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA

            Untuk memahami lebih dalam mengenai penelitian ini, maka perlu dijelaskan lebih lengkap mengenai beberapa istilah yang digunakan di dalam penelitian ini. Adapun penjelasan tersebut adalah sebagai berikut:

a) Kemandirian

Ø  Pengertian Kemandirian

Menurut Deborah K. Parker (2005:226) kemandirian adalah kemampuan utuk mengelola semua milik kital tahu bagaimana mengelola waktu, berjalan dan secara madniri disrtai dengan kemampuan untuk mengambil resiko dan  memecahkan masalah.

      Mappiare (1982:107) menyebutkan kemandirian dengan istiah kebebasan dan menyatakan sebagai salah satu tugas perkembangan yang penting bagi remaja awal. Belajar dan berlatih bebas membuat rencana, membuat keputusan sendiri dan melaksanakan secara bertanggungjawab.

      Kemandirian menurut Hurlock dalam Syamsu Yusuf (2009:130) merupakan sikap mandiri individu dalam cara berpikir dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarhakan dan mengembangakn diri serta menyesuaikan diri secara konstruktif dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
      Dari beberapa pendapat para ahli dpaat disimpulkan bahwa kemandirian merupakan sikap yang memungkinkan seseorang melakukan sesuatu atas dorongan sendiri dan kemampuan mengatur diri sendiri, sesuai dengan hak dan kewajibannya sehingga dapat menyelesaikan sendiri masalh-masalah yang dihadapi tanpa meminta bantuan atau tergantung dari orang lain dan dapat bertanggung jawab terhadap segala keputusan yang telah diambil melalui berbagai pertimbangna.

Ø  Bentuk Kemandirian

Menurut Douvan dalam Syamsu Yusuf (2001:81) ada tiga aspek perkembagna kemadirian remaja, yaitu

1) Kemandirian emosional

Ditandai oleh kemampuan memcahkan ketergantungan (sifat kekanak-kakanannya) dari orang tua dan mereka dapat memuaskan kebutuhan kasih sayang dan keakraban di luar rumahnya.

2) Kemandirian berperilaku
            Yaitu kemampuan untuk mengambil keputusan tentang tingkah laku pribadinya, seperti memilih pakaian, sekolah/ pendidikan, dan pekerjaan.

3) Keandirian dalam nilai

            Yaitu pada saat remaja telah memiliki seperangkat nilai-nilai yang dikonstruksi sendiri, menyangkut baik-buruk, benar-salah, dan komitmennya terhadap nilai agama.

b) Belajar

Ø  Pengertian Belajar

Belajar merupakan kegiatan penting yang harus dilakukan setiap orang secara maksimal untuk dapat menguasai atau memperoleh sesuatu. Menurut Gagne (dalam Dimyati da Mudjiono, 2006:10-11) belajar merupakan kegiatan yang kompleks.

      Hasil belajar merupakan kaapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilam, pengetahuan, sikap dan nilai. Di samping itu belajar dapat didefinisikan sebagai suatu usaha atau kegiatan yang bertujua mengadakan perubahan di alam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan, keterampilan (M Dalyono, 1997: 49). Degnan demikian belajr merupakan kegiatan yagn kompleks yang bertujuan untuk melakukan perubahan dalam diri seseoran secara menyeluruh. Belajar bertujuan untuk emgadakan perubahan di dalam diri, mengubah kebiasaan, mengubah sikap, mengubah keterampilan, serta menambah pengetahuan dalam berbagai bidang ilmu.

Ø  Jenis Belajar

Menurut Mustaqim (2001:39) “ Keanekaragaman jenis belajar muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan hidup manusia yang juga bermacam-macam. Berdasarkan pendapat tersebut ada tiga jenis belajar yaitu:

1) Jenis Belajar Keterampilan

                Pertama kali anak mendapatkannya di lingkungan keluarga, kemudian di pendidikan formal, akan tetapi anak belajar keterampilan lebih banyak didapatkan dijalur non formal seperti kursus menjahit, computer dan sebagainya.

2) Jenis Belajar Pengetahuan dan Pemahaman

                Panca indera yang dimiliki setiap anak membantu anak dalam mengenal dunia luar bahkan dirinya sendiri. Aktivitas ini disebut pengamatan. Pendidikan seyogyanya mengusahakn dengan menyediakan lingkungan nyata dengan memberi kesempatan kepada mereka bisa mengamati langsung atau dengan bantuan barang tiruan, gambar, rekaman, peta dan lain-lain. Kesan yang benar dan jelas tersebut sangat membantu mereka untuk menyimpan dan memproduksi bila diperlukan.

c) Penanaman Kemandirian Belajar

                kata “Penanaman” dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai proses, cara perbuatan menanam, atau menanamkan. Penanaman kemandirian belajar berarti suatu proses menanamkan kemandirian belajar kepada anak. Kemandirian belajar anak bisa ditanamkan sejak usia dini. Ketika anak mampu menyelesaikan sesuatu untuk diri mereka sendiri, walaupun lambat dan tidak sempurna, sebagai orang tua ataupun pengasuhnya harus memberikan kesempatan untuk melakukannya.

                Menurut Antonius (2002:146), lingkungan social ekonomi yagn menandai dengan pola pendidikan dan pembiasan yang baik akan mendukung perkembangan anak-anak menjadi mandiri, demikian pula sebaliknya. Keadaan social ekonomi yang belum menguntungkan bahkan pas-pasan jika ditunjang dengan penanaman taraf kesadaran yang baik terutama dalam hal upaya mencari nafkah dan nilai-nilai luhur dalam kehidupan, akan menyebabkan anak-anak mempunyai nilai kemandirian yang baik.

d) Pola Asuh Anak Autis

Ø  Pengertian anak autis

Autis adalah sebuah gangguan perkembangan yang umumnya ditandai oleh tiga gejala utama yakni: interaksi social, komunikasi dan perilaku.

        Penyebab autis sendiri hingga kini belum diketahui secara pasti namun akan pada postingan berikutnya, termasuk ketiga gejala gangguan perkembangan yang terjadi pada anak, remaja, atau balita. Hal ini disebabkan karean autism adalah suatu gangguan yang menyangkut banyak aspek perkembangan yang bila dikelompokkan akan menyangkut tiga aspek yaitu perkembangan fungsi bahasa, aspek fungsi social, dan perilaku repetitive. Karena gambaran autism begitu beragam dan setiap saat seorang anak akan senantiasa mengalami perkembangan, maka penegakan diagnose tidak bisa begitu saja, sebab bisa saja kemudian diagnose menjadi berubah-rubah dari waktu ke waktu.

        Pola asuh adalah merupakan suatu cara terbaik yang dapat ditempuh orang tua dalam mendidik anak-anaknya sebagai perwujudan dari rasa tanggung jawab kepada anak-anaknya  (Mansur,2007:350).

E) METODELOGI

Ø  Pendekatan penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Menurut Bodgan dan Taylor (dalam Moeleong, 2007:4) metode kulaitatif adalah sebagai prosdur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.

        Data yang diperoleh dalam penelitian ini tidak berupa angka-angka tetapi ada yagn terkumpul terbentuk kata-kata lisa yang mencakup catatan laporan dan foto-goto.

Ø  Lokasi Penelitian

Lokasi dalam penelitian ini yaitu pada Sekolah Luar Biasa Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen. Alasan peneliti mengambil lokasi penelitia karena panti asuhan tersebut memiliki system pendidikan yag berkualitas, tempatnya strategis dan dari pengamatan peneliti sudah terlihat adanya kemandirian dari anak-anak yang memiliki keterbelakangan mental di Sekolah Luar Biasa Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen.

Ø  Focus Penelitian

Focus penelitian menyatakan pokok persoalan yang menjadi pusat perhatian dalam penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi focus peneliti adalah:

1) Pelaksanaan Penamaan Kemandirian belaja anak di Sekolah Luar Biasa Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen meliputi bentuk kemandirian, cara penanaman kemandirian bentuk pendidikan, serta jenis ketrampilan.

2) Peran pengasuh dalam pelaksanaan penanaman kemandirian belajar anak di Sekolah Luar Biasa Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen meliputi interaksi, komunikasi dan kualitas pengasuh.

3) Hambatan yagn dihadapi dalam pelaksanaan penanaman kemandirian belajar anak di Sekolah Luar Biasa Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen meliputi sarana dan prasarana, biaya serta tenaga pengasuh.

Ø  Sumber Data

Data penelitian ini diperoleh dari:

1) Data Primer

a) Informan

                informan adalah orang yang memberikan informasi (Arikunto,2002:122). Informan dalam penelitian adalah:

i) Pimpinan Panti Asuhan

ii) Para pengasuh dan pengurus Panti Asuhan

iii) Ketua Organisasi Tarbiyatul Aitam

b) Responden

                responden adalah orang yang diminta memberi keterangan tentang suatu fakta atau pendapat. Keterangan tersebut dapat disampaikan dalam bentuk tulisan yaitu ketika mengisi angket, atau lisan, ketika menjawab wawancara (Arikunto, 2002:122).

                Dalam penelitian ini yang menjadi responden adalah anak didik di Sekolah Luar Biasa Kecamatan Godnang, Kabupaten Sragen.

2) Data Sekunder

                Data sekunder yaitu sumber daya didapat atau diperoleh dengan cara tidak langsung. Sumber data sekunder diperoleh dari:

a) Sumber Tertulis

                sumbe tertulis yang dipakai dalam penelitian ini meliputi arsip, dokumen, catatan, dan laporan rutin Sekolah Luar Biasa.

b) Foto

                ada dua kategori foto yang dapat dimanfaatkan dalam penelitian kualitatif, yaitu foto yang dihasilkan orang dan foto yang dihasilkan oleh peneliti sendiri (Bodgan dan Biklen dlam Moeleong, 2004:160). Adapun foto yang digunakan dalam penelitan ini adalah foto yang dihasilkan oleh peneliti sendiri dan foto yang dihasilkan orang lain.

Ø  Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi.

1) Metode Wawancara

                Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data, diman terjadi komunikasi secara verbal antara komunikan dan komunikator. Menurut Moeloeng (2007:186), wawancara adalah percakapan dengan dimaksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.

                2) Metode Observasi

                Dalam penelitian ini peneliti menggunakan alat pengumpulan data yang berupa pedoman pengamatan dan observasi partisipasi dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana penanaman kemandirian belajar anak serta pendidikan dan keterampilan yang diberikan kepada anak didik. Adapun cara yang digunakan adalah mengadakan pengamatan  langsung di dengan cara melihat, mendengarkan dan penginderaan lainnya.

                Observasi secara langsung maksud untuk mengamati dan melihat langsung kegiatan dalam keseharian di sekolah yang dilakukan oleh anak didik. Secara khusus mengamati kegiatan pendidikan dan keterampilan yang diikuti anak-anak didik yang memiliki keterbelakangan mental.

                3) Metode Dokumentasi

                Metode  dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atu variable yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, rapat, lengger, agenda, dan sebaginya (Arikunto,2002:206).

                Dokumentasi dalam penelitian ini diperlukan untuk memperkuat data yang diperoleh dari lapangan yaitu dengan cara mengumpulkan data yang berupa catatan tertulis dari pihak Sekolah yaitu dokumen resmi yang ada di Sekolah Luar Biasa Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu.2002. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Dalyono, M. 2007. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Dimyati dan Mudjiono.2006. Belajar dan Pembelajaran.Jakarta: PT. Rineka Cipta

http://google.com anana Talk mom. Chemistry. School.2006

Mujiman, Haris.2009. Manajemen Pelatihan Berbasis Belajar Mandiri. Yoghyakarta: Pustaka Pelajar

Mustaqin.2008.Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Belajar

Moeleong, Lexy.2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:PT. Remaja Rosdakarya.


Shohib, Moh. 2000. Pola Asuh Orang Tua dalam Membentuk Anak Mengembangkan Disipilin Diri. Jakarta: Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar