CATATANKU DI BALI/ MY NOTE IN BALI FOR CLASS XI IPS SEMESTER 2

CATATANKU DI BALI/ MY NOTE IN BALI

(Sumber: pemilik blog yang berwisata pada tanggal 7 sampai 11 Juli 2012)

Hari Pertama: perjalanan

Hari Kedua:
1)      Pantai tanah Lot, Kecamatan Kediri, Tabanan, Bali

(Sumber: I Wayan Sudiarsah, pendamping wisata bali)

Tanah lot merupakan pantai dengan sebuah pulau di pinggir pantai. Seorang resi dari Kediri, Jawa Timur datang di tanah lot untuk menyebarkan agama Hindu. Tetapi di tanah lot mendapat perlawanan yang tidak mulus. Raja tanah lot menolak kehadirannya. Tetapi pada akhirnya, resi dari Kediri menang. Ular yang berada dekat dengan pantai berbatu tersebut merupakan jelmaan dari musuh resi dari Kediri tersebut yang kemudian setelah kalah melawan dengan resi tersebut musuh resi dari Kediri berubah menjadi ular yang sekarang bersembunyi dalam tebing di pantai Tanah Lot. Anehnya ular tersebut jika terjadi pasang di pantai Tanah Lot, ular tersebut pergi dari persembunyiannya, tetapi jika surut ular tersebut kembali ketempat persembunyiannya.

Gambarnya:








2)      Tanjung Benua


(Sumber: I Wayan Sudiarsah, pendamping wisata bali)


Dibuka oleh Presiden Soeharto pada tahun 1993. Di tanjung Benua ini, kita dapat bermain banyak wahana. Kita dapat melihat pulau penangkaran penyu. Mungkin kita harus meronggoh kocek kurang lebih empat puluh ribu rupiah (harga dapat berubah). Berbagai wahana yakni: banana boat, speed boat, balon terbang yang nantinya ditarik oleh kapal boat, kapal boat yang mengantarkan nanti ke pulau penangkaran penyu, dan masih banyak lagi.

Gambar:











3)      Garuda Wisnu Kencana


(Sumber: I Wayan Sudiarsah, pendamping wisata bali)


Garuda Wisnu Kencana dalam tahun ini (2012) belum rampung digarap sejak lengsernya Presiden Soeharto. Pembuatnya adala I Noyman dari Institut Teknologi Bandung dengan cara mencetak. Di buat di Bali yang kemudian di bawa ke Bali. Yang pada tahun ini dapat di lihat hanya Badan dan Kepala Dewa Wisnu, Kepala Garuda, tangan dewa Wisnu. Fasilitas umum yang disediakan adalah toilet, mushola, dan lainnya.











Ceritanya: ketika Tuhan menciptakan dua makhluk yakni raksasa dan dewa. Tuhan meminta mereka mencari sebuah benda yang keramat yang disebut Tirta Amerta (air suci) yang berada di lautan dalam yang disebut Laut Ksira. Kemudian raksasa dan dewa bekerja sama untuk mencari Benda Tirta Amerta (air suci) tersebut di lautan.cara mendapatkannya adalah dengan mengaduk lautan tersebut. Dengan coordinator pencarian Benda Tirta Amerta (air suci) tersebut yakni dewa Indra. Dengan membuat sebuah gangsingan yang dimana yang menjadi gangsing adalah gunung Mandara (Mandaragiri) yang berada di pulau Sangka, lalu di bawa oleh seorang dewa yang menjelma menjadi kura-kura, kemudian yang menjadi talinya adalah naga, yang menariknya adalah dewa dan raksasa. Kemudian gangsing tersebut di tarik, yang menimbulkan perputaran yang sangat besar hingga naga yang menjadi tali yang kemudian melilit  gangsing yang berwujud kerucut gunung tersebut, sisiknya rontok. Para dewa dan Dewa memegang ekor naga sedangkan raksasa memegang kepalanya, sedangkan Dewa Indra berada di puncak gunung agar gunung tidak melambung ke atas. Pada akhirnya gangsing tersebut masuk kelaut sehingga di tengah putaran gangsing tersebut terdapat rongga yang besar, yang kemudian muncul kuda berwarna putih atau Uccaihsrawa, Ardhachandra, Dewi Sri, Dewi Laksmi, dan seorang bidadari yang membawa Benda Tirta Amerta (air suci)yang disebut Dhanwantari tersebut sehingga dewa Indra selaku pemimpin coordinator Benda Tirta Amerta (air suci) yakni mengambil Benda Tirta Amerta (air suci) yang berada di dalam lautan yang kemudian di bawa ke khayangan. Raksasa yang merasa ikut membantu, meminta juga Benda Tirta Amerta (air suci) tersebut dari Dewa. Namun tujuan Dewa yang sebelumnya adalah menyingkirkan Benda Tirta Amerta (air suci) itu dari raksasa. Sehingga terjadilah perang antara Dewa melawan raksasa. Bahkan raksasa yang saat itu telah mengambil batu keramat tersebut. Salah satu dewa yakni Dewa Wisnu menjelma menjadi bidadari yang ingin membujuk raksasa untuk berperang lagi dengan dewa. Bidadari tersebut datang  kepada raksasa, raksasa sangat terpesona dan ingin menikah dengan bidadari tersebut namun bidadari jelmaan dewa tersebut meminta raksasa untuk berperang dengan dewa lagi agar tidak ada yang mengganggu lagi. Raksasa ini terhanyut bujukan bidadari jelmaan dewa ini, kemudian terjadilah pertempuran sengit lagi antara dewa dan raksasa. Bidadari jelmaan dewa tersebut lalu mencuri Benda Tirta Amerta (air suci) tersebut dan meyembunyikan ditempat sembunyi di kayangan yang dijaga oleh para dewa. Dewa Wisnu yang teringat dengan senjata chakranya kemudian turun dari langit dan menyambar para raksasa. Dan para raksasa pun banyak yang menceburkan diri ke laut dan ada yang ke dalam tanah. Akhirnya para Dewa dapat membawa Tirta Amerta ke Surga (Tirta Amerta (air suci) dapat juga disebut minuman dewa yang dihasilkan dari mengaduk-aduk samudera, secara harfiah berarti “ketidakmatian”).




Pada lain cerita, seorang Maharsi bernama Bagawan Kasyapa, putera bagawan Marici, cucu Dewa Brahma. Ia diberi oleh Bagawan daksa empat belas puteri. Diantara empat belas puteri tersebut Sang Winata dan Sang Kadru tidak memiliki anak. Mereka berdua memohon kepada Bagawan Kasyapa. Sang Kadru memohon seribu anak sedangkan Sang Winata meminta dua anak. Kemudian Bagawan Kasyapa memberikan seribu butir telur kepada Sang Kadru sedangkan Sang Winata diberikan dua butir telur. Kemudian mereka rawat baik-baik telur tersebut.

Singkat cerita, seribu butir milik Sang Kadru menetar dan lahirlah para naga. Yang terkemuka adalah Sang Anantabhoga, Sang Wasuki, dan Sang Taksaka.karena tidak sabar, Sang Winata memecahkan salah satu telurnya. Ketika pecah, terlihatlah seorang anak yang baru setengah jadi, bagian tubuh ke atas lengkap sedangkan dari pinggang ke bawah tidak ada. Sang anak marah karena kelahirannya belum waktunya. Kemudian sang anak tersebut mengutuk ibunya supaya diperbudak oleh Sang Kadru dan kelak saudaranya yang menetas akan membebaskannya. Anak tersebut kemudian diberi nama Sang Aruna, karena tidak memiliki kaki dan paha. Sang Aruna menjadi sais atau kuir kereta Dewa Surya.


 Suatu hari, Sang Winata dan Sang Kadru, mendengar kabar tentang seekor kuda bernama Uccaihswara, hasil pemutaran Gunung Mandara atau Mandaragiri. Sang Winata mengatakan bahwa warna kuda tersebut putih semua, sedangkan Sang Kadru mengatakan bahwa tubuh kuda tersebut berwarna putih namun hanya ekornya yang berwarna hitam. Karena berbeda pendapat, siapa yang tebakannya salah akan menjadi budak. Mereka berencana untuk menyaksikan warna kuda tersebut besok sekaligus menentukan siapa yang salah

Sang Kadru menceritakan masalah taruhan tersebut kepada anak-anaknya. Anak-anaknya telah mengetahui bahwa Sang ibu telah kalah, karena warna kuda tersebut berwarna putih belaka. Sang Kadru merasa cemas, ia mengutus anak-anaknya untuk memericikan bisa ularnya kepada ekor kuda tersebut supaya berwarna hitam. Anak-anaknya sebenarnya tidak mau, tetapi Sang Kadru mengancam mengutuk anak-anaknya tersebut supaya mati dibakar api saat upacara pengorbanan ular yang diselenggarakan Raja Janamenjaya. Dengan terpaksa, mereka melaksanakan perintah ibunya dengan memercikan bisa ular ke ekor kuda sehingga warnanya menjadi hitam. Yang pada akhirnya, sang Kadru berhasil memenangkan dan Sang Winata harus menjadi budaknya.



Sementara itu, telur yang di asuh oleh Winata menetas yang kemudian munculah burung yang gagah perkasa yang bernama Garuda. Sang Garuda mencari ibunya hingga pada akhirnya menemukannya ibunya diperbudak oleh Sang Kadru untuk mengasuh para naga. Sang Garuda ikut membantu ibunya untuk membantu mengasuh para naga, namun para naga sangat lincah sehingga membuat Sang Garuda kepayahan. Lalu sang Garuda menanyakan para naga, apa yang bisa dilakukan untuk menebus perbudakan ibunya, para naga menjawab, kalau sang Garuda dapat membawakan tirta Amerta ke hadapan para naga, maka ibunya akan dibebaskan. Atas persetujuan ibunya, sang Garuda menyanggupinya.



Singkat cerita, sang Garuda berhasil menghadapi berbagai rintangan untuk mendapatkan tirta amerta. Saat sang Garuda ingin mengambil tirta amerta, Dewa Wisnu datang dan meminta persyaratan untuk mengambil tirta amerta, yakni meminta Sang Garuda untuk menjadi kendaraan Dewa Wisnu. Sang Garuda pun setuju. Lalu Sang Garuda terbang membawa tirta, namun Dewa Indra tidak setuju kalau tirta amerta diberikan kepada para naga. Sang Garuda mengatakan bahwa tirta tersebut akan diberikan kalau para naga sudah selesai mandi.



Sampailah sang Garuda ke tempat tinggal para naga. Para naga pun lantas mandi dan minum tirta amerta. Sang Garuda mengatakan bahwa tirta tersebut boleh diminun jika para naga mandi terlebih dahulu. Tetapi setelah mandi, Dewa Indra mengambil tirta Amerta, namun percikan tirta Amerta tersebut jatuh di daun ilalang. Para naga menjilati daun tersebut sehingga lidahnya tersayat dan terbelah. Sehingga hal ini awal mulanya lidah ular atau naga tersayat dan terbelah. Kemudian Daun ilalang pun suci karena mendapat tirta amerta. Sementara itu, Sang Garuda terbang ke surge karena merasa sudah menebus perbudakan ibunya.
 (Garuda Pancasila adalah symbol dari pembebasan dari penjajahan, garuda merupakan symbol dari pembebasan)

Gambar:










4)      Dreamland (Kute baru)

Dibangun oleh keluarga Cendana (keluarga Presiden Soeharto). Dengan fasilitas perhotelan, dan wahana lainnya.


5)      Dewata Shoping


Hari ke tiga



1)      Tari Barong dan Keris

Tari di bali dibedakan menjadi tiga: Pertama, tari Bali digunakan sebagai tari upacara, yang wajib dilakukan ; Kedua, tari bebali digunakan pelengkap tari upacara; ketiga, tari bali-balian digunakan untuk hiburan dan pariwisata (bertujuan untuk komersial), misalnya tari barong.

Tri Barong dan Keris

(Sumber: Putra Barong. Barong Keris Dance. Celuk-Sukawati-Gianyar)

Tarian “Barong dan Keris” adalah suatu tarian yang menggambarkan pertarungan antara kebaikan melawan kejahatan. “Barong” adalah makhluk mitologi yang mewakili kebaikan dan makhluk yang menggambarkan kejahatan adalah “Rangda”

Gending Pembukaan

Barong ditemani seekor kera sedang berada di dalam hutan yang lebat. Kemudian datanglah tiga orang bertopeng yang membuat keributan dan merusak ketenangan hutan. Si kera pun tidak senang dengan kehadiran mereka dan akhirnya berkelahi dengan mereka dan berhasil memotong hidung salah satu dari mereka.

Babak Pertama

Munculah dua orang penari, mereka ini adalah pengikut setia dari Rangda yang sedang mencari pengikut Dewi Kunti dimana mereka sedang dalam perjalalanan untuk menemui Sang Patih.

Babak Kedua

Begitulah pengikut Dewi Kunti ini tiba di tujuan mereka, salah satu dari pengikut Rangda berubah wujud menyerupai bentuk Rangda dan memasuki roh jahat kepada para pengikut Dewi Kunti menyebabkan mereka menjadi kerasukan dan lupa ingatan mereka sebelum berhasil Sang Patih. Tidak sadar akan perbuatan yang dialami oleh para pengikut Dewi Kunti. Sang Patih bersama-sama dengan mereka menghadap Dewi Kunti.

Babak Ketiga

Munculah Dewi Kunti dan anaknya Sahadewa. Dewi Kunti telah berjanji kepada Rangda untuk menyerahkan Sahadewa sebagai korban. Sebenarnya Dewi Kunti tidak rela mengorbankan anaknya Sahadewa kepada Rangda. Tetapi dengan ilmu sakti yang dimiliki Rangda dengan bujukan para pengikut Dewi Kunti yang sudah kerasukan oleh roh jahat. Rangda bisa mempengaruhi pikiran dan akal sehat Dewi Kunti sehingga Dewi Kunti tiba-tiba marah dan menjadi sangat benci kepada anaknya Sahadewa. Dewi Kunti memberikan perintah kepada Sang Patih untuk membuang Sahadewa kedalam hutan Sang Patih tidak membantah karena dirinyapun sudah dipengaruhi oleh ilmu jahat Rangda.


Babak keempat

Sahadewa diikat dibawah pohon besar didalam hutan dan ditinggal sendirian. Tiba-tiba turunlah Batara Siwa dari kahyangan. Mereka iba akan kondisi Sahadewa. Batara Siwa pun menganugerahkan ilmu kesaktian dan kekebalan pada diri Sahadewa. Rangda yang kemudian datang untuk mencabut nyawa Sahadewa tidak sadar akan anugerah yang diberikan oleh Batara Siwa berusaha mengoyak-oyak, mencabik, dan membunuh Sahadewa tetapi tidak berhasil. Putus asa karena tidak berhasil membunuh Sahadewa. Rangda pun menyerah dan memohon ampun kepada Sahadewa dengan demikian Rangda bisa menebus dosa-dosanya. Permintaan ini dipenuhi Sahadewa dan Sang Rangda pun mendapat pengampunan.

Babak kelima

Kalika adalah murid Rangda yang paling sakti ilmunya. Kalika bermaksud menghadapi Sahadewa untuk memohon pengampunan sebagaimana Rangda dulu memohon ke[ada Sahadewa. Tetapi Shadewa menolak permintaan ini sehingga murkalah Kalika dan mengajak Sahadewa untuk berduel. Dalam pertempuran ini Kalika beberapa kali merubah wujud dirinya pertama menjadi Babi Hutan tetapi berhasil dikalahkan oleh Sahadewa. Kalika berubah lagi menjadi Burung Gagak yang besar tetapi dapat pula dikalahkan oleh Sahadewa. Terakhir Kalika berubah mengambil perwujudan Rangda. Karena saktinya Rangda ini Sahadewa menjadi kewalahan melawannya. Berusaha untuk memenangi pertempuran. Sahadewa berubah wujud menjadi Barong. Mereka terus bertempur sampai ada yang kalah, tetapi sama saktinya tidak ada yang menang ataupun kalah sehingga pertarungan inipun menjadi abadi dan dimana ada kejahatan disitu pula aka nada kebaikan yang akan terus melawan kejahatan.

Penutup

Munculah para pengikut Barong dengan membawa Keris bermaksud untuk menolong Barong tetapi dengan ilmu saktinya. Kalika yang berwujud Rangda berhasil membuat roh jahat menguasai tubuh pengikut Barong sehingga mereka berbalik berusaha menikam diri mereka sendiri dengan keris. Barong dengan ilmu kebaikannya menolong mereka dari kerasukan roh jahat dan berhasil mengusir roh jahat dari tubuh mereka.

Gambar:











2)      Pusat oleh-oleh Bali Centing Bagus



3)      Pantai Sanur

Merupakan tempat kejadian dari hukum tawan karang di Bali yang nantinya akan menjadi perang Puputan melawan Belanda. Sanur merupakan pantai pertama yang dibuka pada orde lama yakni pemerintahan Presiden Soekarno. Kalau kita menuju pantai Sanur kita dapat melihat masjid dipinggir jalan, tidak jauh dari pantai sanur

Gambar:




4)      Kute

Merupakan pantai kedua yang di buka pada awal orde baru, yakni Presiden Soeharto.

Gambar:





















6)      Supermarket Karang Kurnia


Hari Keempat


1)      Teman Joger

Sebuah supermarket besar yang memiliki pusat “Joger” di Kute, Bali. Keunggulan produk ini adalah kata-kata yang diminati oleh para pemuda dan pemudi pada khususnya.

Gambar:


(Sumber: Temanjoger)




2)      Danau Bedugul

Bedugul, berasal dari kata bedogol yakni pura yang berada diperempatan jalan, sungai, sawah. Ketinggian danau Bedugul berada kurang lebih 1,000 meter di atas permukaan laut. Jika kita memakai jasa perahu kita dapat menyaksikan pura di pinggir danau Bedugul (yang tertera pada uang lima puluh ribu rupiah warna biru). Wahananya cukup banyak seperti: perahu, speed boat, dan sebagainya. Berbagai fasilitas ada yakni: toilet dan mushola.

Gambar:





Catetan ten Bali

Ø  Bali luasnya kurang lebih 5,600 km, dengan penduduk lebih dari 3 juta jiwa. Semua masyarakat bali adalah masyarakat beragama. Dimulai tahun 1970, Bali dijadikan sebagai kegiatan pariwisata. Di kabupaten Tabanan merupakan kota lumbung padi di Bali. Bali dibagi atas delapan kabupaten. Klungkung disebut sebagai kota raja Bali. Karangasem disebut sebagai kota lahar, karena terkenal akan Gunung Agung. Penduduk Bali memeluk agama Hindu 90%, Islam 5%, sisanya Kristen, Katolik, Budha. Datangnya agama Islam, sejak tahun 1343 dengan di kuasai kerajaan Majapahit (abad ke-14) dengan membawa kaum Islam dari Jawa Timur (keluarga Raden Patah, raja Kerajaan Demak). Selain itu didirikanlah Forum keagamaan.


Ø  Orang Bali bersembahyang dengan pakaian serba putih.  Pakaian bali terdiri atas Nista (kaki), umpal atau iket, dan udeng. Udeng merupakan symbol pikiran, kalau perempuan memakai sanggul sebagai symbol pemikiran. Sebelum tahun 1913, masyarakat Bali tidak memakai baju kecuali pada wanita.


Ø  Masyarakat Bali selalu memakai prinsip “tiada hari tanpa beribadah”


Ø  Masyarakat Bali yang beragama Hindu kalau setiap membuat keluarga, sudah lepas dari orang tua, dan membuat rumah, wajib membuat pura (sanggah).


Ø  Sebelum abad ke-8, Bali bersambung dengan Jawa, yang dimana bali disebut pulau Sambungan. Awal mula, seorang Resi ingin membuat suatu lahan baru di pulau Sambungan. Dengan bersemedi di Gunung Lawu, akhirnya sang Dewa memperbolehkan membuka lahan baru di pulau Sambungan. Dengan membawa delapan ratus orang dari Jawa, resi menuju ke sekitar gunung Agung Bali. Entah kenapa sesampai di sana, delapan ratus orang rombongan orang Jawa hanya tinggal setengahnya yakni empat ratus orang rombongan orang Jawa. Melihat seperti tersebut, resi membawa kembali ke tanah Jawa dengan membawa empat ratus orang rombongan orang Jawa. Kemudian sang resi bersemedi lagi di gunung Lawu. Ternyata sang Dewa ingin dipersembahkan berbagai emas, berlian, dan benda mulia jika akan ke pulau sambungan tersebut. Tidak lama resi memenuhi permintaan tersebut. Setelah memenuhi permintaan dewa tersebut,  sang resi pun mengajak kembali empat ratus orang rombongan orang Jawa tersebut. Sang resi berkata,  “siapkan berbagai macam alat untuk menebang”, lalu para rombongan orang Jawa berkata, “untuk apakah alat tersebut?”, lalu sang resi berkata, “bali”. Sejak saat itu pulau sambungan tersebut disebut pulau Bali.


Ø  Selat Bali disebut juga segara Rumpeng.


Ø  Masyarakat Bali yang beragama Hindu membuat patung untuk menyimbolkan Tuhan yang menganggap seperti manusia, yang memerlikan makanan, pakaian, dan sebagainya. Dan Masyarakat Bali yang beragama Hindu dengan memberikan suatu sesaji bunga sebagai symbol rasa syukur kepada Tuhan.


Ø  Warna dasar dalam agama Hindu yakni: merah, putih, hitam, dan kuning. Disimbolkan dengan beras merah, beras putih, beras hitam, dan beras kuning.


Ø  “+” disebut tapak dara, dengan menaruh tanda  searah jarum jam menjadi  seperti gambar di bawah ini



Ø  Beras putih merupakan Iswara yang merupakan Dewa Syiwa yang menghadap ke timur, Beras merah merupakan Dewa brahma yang menghadap ke selatan. Beras hitam yang merupakan Dewa Wisnu yang menghadap ke Utara. Beras kuning yang merupakan Mahadewa yang menghadap ke barat.


Ø  Kotak Hitam dan kotak putih merupakan lambang keburukan dan kebaikan yang diharapkan dapat seimbang atau sama.


Ø  Sembahyang orang Hindu sebanyak tiga kali yakni: pada matahari terbit (pagi), siang hari, dan matahari tenggelam (sore). Tidak diwajibkan. Sarana beribadah adalah bunga atau kembang (kecuali bunga yang ditumbuh di kuburan). Bunga kamboja merupakan bunga yang paling utama karena sifat bunga yang dapat bertahan dari bunga lainnya, selain bunga kamboja terdapat bunga teratai yang bersimbol pada daunnya yang menuju seluruh penjuru dunia.


Ø  Angsa merupakan symbol kebijaksanaan, karena jika beras dan lumpur di satukan, angsa dapat memakan secara tepat dimana beras yang akan dimakan.


Ø  Saktinya Dewa Brahmana adalah ilmu pengetahuan dengan istrinya Dewi ilmu pengetahuan.


Ø  Ngaben merupakan symbol dari kesempurnaan kematian.


Ø  Upacara yang dirayakan pada Sabtu Kliwon landhep, kendaraan diberi sesaji dan diupacarakan.

Ø  Kematian sementara sebelum di ngaben, dilakukan dengan dua cara, yakni: pertama, pemanasan (kematian sementara), kedua, penguburan.


Ø  Orang Bali Hindu percaya akan jin, apabila tinggal di pohon, pohon tersebut diberi kain.

Ø  Tari kecak diinspirasikan dari Tari Sanghyang (yang dicuplikan Ramayana) dengan penari kecak sebanyak lima puluh orang.

Ø  Tari barong merupakan symbol antara kebaikan atau positif (dengan symbol barong) dan keburukan atau negative (dengan symbol rangga). Yang dicuplik dari Mahabarata.

Ø  Meruat merupakan acara membebaskan dari kutukan.

Ø  Orang bali mengharapkan tiga anak dengan symbol sebagai berikut: ibu jari sebagai symbol ibu; ayah disimbolkan dengan jari kelingking; anak pertama disimbolkan dengan jari telunjuk yang berarti sebagai lambang perintah; anak kedua disimbolkan dengan jari tengah yang merupakan lambang bijaksana; anak ketiga disimbolkan dengan jari manis yang merupakan lambang kesayangan.

Ø  Masyarkat Bali menganut system patrineal.

Ø  Nama anak di bali berdasarkan kelahiran yakni:

1)      Anak pertama, diberi nama: wayan, putu, gede.

2)      Anak kedua (madya), diberi nama: made, nengah.

3)      Anak ketiga (enom), diberi nama: nyoman, komang.

4)      Anak keempat dan seterusnya, diberi nama: ketut.

Kalau laki-laki diberi awalan “I” dan kalau perempuan diberi awalan “Ni”.
Orang tua tidak memberikan langsung nama kepada bayinya setelah bayi lahir Karena takut disihir.

Ø   Tempat tinggal dewa disebut pura sedangkan tempat tinggal dewi disebut puri.

Ø  Nama orang menurut kelompok atau kasta, yakni: kelompok brahmana (yang pekerjaannya dibidang agama) diberi nama: ida; kelompok ksatria (yang pekerjaannya dibidang negeri) diberi nama: gedhe; kelompok waisya (yang pekerjaannya dibidang ekonomi).

Ø  Dalam kelompok teratas (Kelompok Brahmana) dapat kawin dengna kasta dibawahnya, sebaliknya kasta yang bawah tidak boleh kawin dengan kasta diatasnya kalau tidak akan diusir.

Ø  Bahan bangunan masyarkat Bali adalah batu padas yang dikombinasi dengan batu bata.

Ø  Perayaan Galungan merupakan symbol dari dharma (kesucian) dan adharma (keburukan) yang kemudian setelah sepuluh hari dirayakan pula perayaan Kuningan. Perayaan galungan berawal dari cerita sebagai berikut: berawal dari raja uang bernama Mayadarma yang menganggap dirinya sebagai dewa, masyarakat harus memberikan sesaji kepada raja bukan kepada dewa. Sehingga masyarakat terpaksa harus memberikan sesaji kepada raja, jika tidak akan dibunuh. Para dewa pun marah, karena masyarakat tidak lagi memberikan sesaji. Para dewa lalu murka dan menurunkan bencana yakni kekeringan. Lalu seorang resi bertapa kepada dewa, sang resi meminta keadilan kepada dewa, resi menjelaskan bahwa masyarakat terpaksa tidak memberikan sesaji kepada para dewa karena paksaan dari raja Mayadarma yang menganggap dirinya sebagai dewa yang harus diberi sesaji. Sejak saat itu, dewa Indra turun ke bumi lalu memerangi raja Mayadarma. Setelah perang selesai, perayaan ini disebut Galungan dengan symbol kekuatan dharma dan adharma.

Ø  Sapi putih atau lembu atau lembu donggala merupakan wahana dewa, hanya orang yang berilmu agama tinggi yang tidak boleh makan daging sapi.

Ø  Di daerah Gilimanuk terdapat bandara Letkol Wisnu.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar